
Pagi yang cerah, secerah hati Zee yang sudah menunggu-nunggu hari ini datang. Zee yang tak biasa berdandan kali ini menyempatkan diri untuk memanjakan diri di salon.
Wajahnya di rias dengan makeup dengan gaya natural, tapi membuatnya jadi semakin bersinar.
Juga tak lupa dia pun membeli baju yang akan dia kenakan untuk hari istimewanya ini.
'Say, nanti malem aku pulang agak telat, mau kumpul dulu sama temen kampus. π' pesan tersebut langsung dikirimkan kepada suaminya.
Ting.
'Have fun! Kamu hati-hati ya, jangan terlalu malem pulangnya!ππ' sebuah pesan balasan dari suaminya membuatnya tersenyum senang.
"Lu udah izin laki lu?" Tanya Egy dibalik kemudi mobilnya.
Zee hanya mengangguk, dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya sedari pagi.
"Kalo sampe ada perang dunia, gue ga ikutan ya! Gue ga mau dibawa-bawa kalo laki lu ngamuk."
"Ga bakal, gue udah punya jurus supaya laki gue yang akhirnya minta maaf ke gue." Kata Zee yang sibuk membuka-buka situs online di HP-nya.
Egy hanya mengernyitkan dahinya, tak mengerti apa yang Zee maksud.
"Aneh gue udah jadi bini juga masih demen aja lu sama dia." Cibir Egy ketika dia mengintip Hp Zee yang menampilkan wajah seorang pria tampan dambaan jutaan wanita.
"Biarin sih, syirik aja lu. Justru disini tantangannya."
Mobil Honda jazz keluaran terbaru milik Egy sudah berhenti di depan pelataran hotel.
"Gue udah Ok kan? Dandanan gue udah kece badai kan?" Tanya Zee menanyakan tentang penampilannya hari ini, sebelum keluar dari mobil sahabatnya itu.
"Hemmm. Udah cepet turun lu."
"Thanks ya. Semua jasamu akan ku ukir di dalam hati ku." Menyanyikan sepenggal bait dari himne guru.
__ADS_1
"Banyak bac*t lu. Mau dijemput jam berapa Tek?"
"Ntar gue chat elu."
Hati Zee begitu dag-dig-dug ketika memasuki hotel itu, rasa senang bercampur haru menyelimuti hati Zee kala itu.
*
Sore harinya, seperti biasa Guntur menjemput istrinya ke toko.
"Mbak Zee ga ada kesini dari pagi Mas." Kata salah seorang pegawai ketika Guntur menanyakan keberadaan istrinya. Kemudian dia mengirim pesan WhatsApp kepada Zee. Ceklis satu. Seterusnya menelepon nomer Zee. Terdengar suara perempuan yang sering diaΒ dengar. " Nomer yang anda tujuβ¦" Handphone Zee tidak aktif.
Guntur begitu gelisah, kemudian dia menelepon nomor mertuanya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum sallam."
"Tumben telpon, ada apa Nak? Kamu sama Zee kapan main kesini lagi."
Berarti Zee tidak ada di rumahnya. Tak mungkin juga kalau Zee ke rumah Mamanya, sebab sekarang Mama dan Papanya sedang berlibur.Β Lalu kemana? Guntur mulai berfikiran buruk tentangnya. Dia semakin gelisah takut hal buruk menimpa istrinya.
Dia pun memilih pulang ke apartemen. Dia ingat bahwa tadi pagi Zee izin untuk kumpul dengan teman-temannya. Ah mungkin Hpnya lowbat.
Sesampainya di apartemen masih tidak ada tanda-tanda Zee sudah pulang. Kemudian dia menelepon Fery yang kini bekerja di kantornya.
"Ada apa Pak?" Suara Fery di sebrang telpon.
"Kamu lagi dmna?"
"Lagi kumpul sama temen-temen di kafe Egy."
"Kamu tau istri saya dimana?"
__ADS_1
"Kita ga bareng Zee Pak. Emang Zee belum pulang?" Tanya Fery khawatir karena jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Tak biasanya Zee belum pulang selarut ini.
"Kalau udah pulang ngapain saya telpon kamu!"
"Ada apa Fer?" Tanya Baim melihat raut kekhawatiran di wajah Fery.
"Si Nyonya belum pulang. Tadi lakinya nelpon gue nanyain si Zee, khawatir banget dia." Masih dengan wajah penuh khawatir.
"Lah tadi si Egy izin ke gue katanya mau jemput Nyonya."
"Haaaaaah?"
Baru saja Guntur hendak keluar dan akan melapor ke kantor polisi karena istrinya belum pulang hingga jam 11 malam ini, tiba-tiba pintu apartemen terbuka. Wanita cantik yang mengenakan dres berwarna soft pink dengan panjang sedikit di atas lutut muncul dari balik pintu dengan rambut yang sengaja digerai dan nampak jepit kupu-kupu menghiasi puncak rambut panjangnya.
Ingin rasanya Guntur memeluk istri yang sejak tadi sore ini ia khawatirkan, tapi kemarahan lebih mendominasi jiwanya saat itu.
"Kamu dari mana?" Nada suara Guntur lebih tinggi dari biasanya. Dan itu membuat Zee gugup.
"Kan aku udah bilang aku kumpul sama temen kampus." Jawab Zee dengan sedikit gugup.
"Temen kampus yang mana? Siapa orangnya? Ngapain kamu bawa-bawa kamera segala?" Cecar Guntur yang mendapati istrinya membawa kamera profesional di tangan kecilnya.
"Tadi temen aku pinjem buat foto-foto."
"Kamu tau ga kesalahan kamu?"
Zee hanya terdiam, bahkan untuk melihat wajah marah suaminya pun ia tak mampu.
"Kamu udah bikin aku khawatir dari sore, aku nelpon ke rumah kamu, kamu ga ada. Aku nelpon si Fery, mereka juga ga tau kamu dimana? Baru aja aku mau bikin laporan ke kantor polisi." Masih dengan nada yang sama.
"Maafin aku." Seraya mencengkram erat dres yang baru dibelinya tadi siang itu.
Guntur yang masih marah lalu pergi ke kamar tidurnya. Tak lupa dia pun membanting pintu kamar mereka dengan keras, membuat jantung Zee seperti berhenti berdetak.
__ADS_1
**Hayo tebak Zee dari mana coba???π€π€
Jangan lupa jempolnya ya manis!!π**