Istri Pilihan Aki

Istri Pilihan Aki
Penampakan Voldemort


__ADS_3

Semua orang yang ada di ruangan itu terlihat panik melihat reaksi Guntur terhadap Zee, Fabian langsung menghampiri Guntur yang masih dipeluk erat Zee untuk memeriksa kondisinya, tapi Guntur segera mengedip-ngedipkan matanya memberi kode kepada kakak ipar sablengnya yang terlihat panik. Fabian yang mengerti maksud dari kode tersebut ikut dalam permainan Guntur.


"Sabar Dek! Mungkin untuk saat ini lu jangan deket-deket laki lu dulu."


Tapi Zee semakin erat memeluk tubuh Guntur. "Gue ga mau Kak!"


"Semoga dengan beberapa kali terapi dia akan pulih, kita doain aja! Kita harus pelan-pelan mulihin ingatannya Dek! Jangan terburu buru, ini ga bagus buat dia." Lanjut Fabian.


Zee yang mendengar perkataan Kakaknya, langsung melepaskan pelukannya dari Guntur.


"Kamu beneran ga inget aku?"


Guntur menggeleng. Masih dengan wajah bingungnya.


"Kamu inget mereka siapa?"


"Itu Mama, Papa, Ayahnya Bian, Tante Nia,  sama Fabian." Jawab Guntur menunjuk mereka satu persatu.


"Kamu inget mereka, kenapa kamu ga inget aku? Aku istri kamu, kita disini lagi bulan madu Say, mau bikin junior." Rengek Zee, kemudian dia melepaskan kemeja yang dia kenakan, dan menampilkan tubuh putih mulusnya yang hanya dibalut tanktop pink.


"Kamu beneran ga inget ini? kamu kan yang udah bikin badan aku kayak gini?" Sambil menunjukan dadanya yang penuh ukiran bibir suaminya. "Kamu mau liat lagi yang lain?"


Guntur yang tak menyangka akan respon istrinya, langsung menutup mulut Zee dengan tangannya.


"Berisik Yang, malu Yang ada Mama, Papa, sama orang tua kamu liat!" Guntur mencoba mengingatkan istrinya jika mereka tidak hanya berdua.


"Jadi kamu tadi cuma pura-pura?" Tanya Zee yang baru menyadari keisengan suaminya.


"Dasar bangke, kampret, sialan, berani-beraninya lu bohongin gue S*TAN! Rasain nih." Sampah bertebaran dari mulut Zee dan langsung naik ke atas ranjang suaminya dan menaiki tubuh Guntur lalu mengguncang-guncang tubuh suaminya yang sedang menjadi pasien rumah sakit saat itu.


"Yang, Yang, aku pasien Yang! Malu Yang! Mana ada orang menganiaya pasien kayak gini? Mah, Pah tolongin aku!" Guntur meminta pertolongan kepada semua orang yang hanya menonton mereka.


"Siapa suruh kamu bikin aku panik kayak tadi HAH?" Zee masih mengguncang-guncang tubuh suaminya yang baru siuman beberapa menit yang lalu.


Semua yang melihat kelakuan pasangan itu hanya bisa menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar, terutama orang tua Zee yang malu dengan tingkah konyol anaknya.


Emang bener harus di ruqyah kayaknya tuh anak. Batin kedua orang tuanya.

__ADS_1


*


Guntur dan Fabian sedang berdiskusi mencari tahu siapa dalang penyerangan villa Zee dan Guntur, sedangkan Zee kini telah tertidur pulas di ranjang pasien.


"Coba lu pikir-pikir, kira-kira lu punya saingan bisnis yang benci sama lu ga atau lu pernah nyakitin perasaan orang ga?" Fabian mulai menerka-nerka. Guntur menggeleng


"Kemaren gue nemuin topi yang kayak punya salah satu dari mereka, di topi itu ada nama sama nomer hapenya. Ntar gue nyuruh cunguk-cunguk ngambil topinya di villa gue."


Kemudian Guntur segera menghubungi Fery. Cukup lama Fery tidak mengangkat panggilan bosnya itu, mungkin sudah tidur, karena saat itu sudah jam dua malam.


"Halo?"


"Halo, Fer, ini saya." Jawab Guntur, mendengar suara Fery yang terdengar malas mengangkat telpon darinya.


"Iya Pak, ada apa? Maaf tadi saya udah tidur Pak. Bapak ga kenapa-napa? Semuanya baik-baik aja kan?"


"Kamu kalo nanya satu-satu saya bingung harus jawab yang mana dulu."


"Maaf Pak!"


"Iya Pak."


"Siapa Fer?" Tanya Egy yang ikut terbangun mendengar suara nada dering handphone Fery.


"Lakinya si Ketek."


"Ada apaan malem-malem nelpon lu?"


"Nyuruh gue ke villa mereka, buat ngambilin topi."


"Topi apaan? Ga bisa besok aja?"


"Kalo ga penting ga bakalan dia nyuruh gue?" Jawab Fery sewot. "Laki ma bini kerjaannya nyuruh-nyuruh mulu." Gerutu Fery.


"Makanya lu jadi bos donk supaya ga disuruh-suruh! Yuk gue anter." Ajak Egy.


"Bangunin si Baim dulu. Ntar kalo bangun dia ga liat kita bisa heboh dia, nyangka kita diculik."

__ADS_1


Sekitar lima belas menit kemudian, mereka sudah berada di villa Guntur dan Zee, yang kini terlihat sepi. Fery masuk ke kamar mereka dan mendapatkan topi yang Guntur perintahkan untuk mengambilnya.


"Jefe?" Kata Fery membacakan nama yang tertera pada topi itu.


"Apa lu bilang 'Jupe'?" Tanya Baim sambil mendekat ke arah Fery. "Jangan nakut-nakutin gue donk, Jupe kan udah meninggal Fer." Baim memeluk tubuh Fery dari belakang.


"Bukan Jupe monyong, tapi Jefe. Nih liat nama di topinya!" Jawab Fery sambil menyingkirkan tangan Baim dari tubuhnya.


Berbarengan dengan itu, terlihat sosok bayangan dari balik tirai jendela ruang tengah.


Baim semakin erat menempel ke Fery, tubuhnya bergetar melihat bayangan itu.


"Siapa itu?" Teriak Egy sambil berlari ke luar.


Tapi sosok itu sudah tak terlihat lagi.


"Kok genrenya jadi horor gini ya? Elu sih pake ngomong-ngomong Jupe segala tadi." Fery menggerutu menyalahkan Baim.


"Berisik. Lu liat deh kesana kayaknya ada orang yang lagi merhatiin vila ini deh, dia liat ke arah sini kan ya?" Egy menunjuk sosok dari arah pantai yang memperhatikan villa tersebut, yang sepertinya dia tidak melihat keberadaan mereka bertiga, karena lampu villa dibiarkan mati.


Sosok itu mengenakan jubah hitam dengan penutup kepala.


"Jangan-jangan itu Voldemort." Kata Baim yang ketakutan melihat sosok itu.


"Ngapain dia kesini? Disini gada Harry Potter." Jawab Egy yang kesal dengan kelakuan kedua sahabatnya.


"Sapa tau aja dia lagi janjian sama Nyi Roro kidul." Gumam Fery yang diangguki oleh Baim.


Cunguk : Ini ceritanya ganti genre ya Thorr?😱😱😱


Author : Kagak Nguk! Kalian aja yang parnoan, sapa tau dia  bukan Voldemort, tapi Valak.


Cunguk : Jangan nakut-nakutin kita Thorrr.😱😱. Kalo sampe ganti genre, kita pada cabut ah dari cerita ini. Gue lebih suka novel yang banyak adegan mesumnya daripada yang horor…


Author : Hadeuuuuhh…


Ntar gue jodohin kalian sama Nyi kunti baru nyaho luh!😏😏

__ADS_1


__ADS_2