
Sudah hampir dua bulan sejak acara bulan madu mereka, tapi belum ada tanda-tanda Zee hamil. Itu membuat Zee khawatir sehingga membuatnya uring-uringan dan berfikiran yang tidak-tidak, mungkin itu efek samping dari kebanyakan drama Korea yang ditontonnya.
"Say, jangan-jangan aku punya penyakit yang bikin aku ga bisa punya anak. Kalo itu terjadi gimana ini? Apa aku harus pergi periksa kondisi aku lagi?"
Pertanyaannya itu membuat suaminya pusing ditambah kondisi tubuh Guntur yang pagi ini sedang kurang fit.
"Kamu hari ini ga ngantor Say?" Tanya Zee ketika melihat suaminya yang masih berbaring ditempat tidur.
"Aku lagi kurang enak badan. Kamu juga jangan ke toko dulu ya! Temenin aku ya Yang!"
"Kita ke rumah sakit ya!" Zee sedikit khawatir dengan kondisi suaminya, pasalnya jarang sekali mengeluh sakit, dan biasanya dia tetap pergi ke kantor walaupun sedang flu sekalipun.
"Ga perlu, aku cuma kurang tidur aja kayaknya. Kan akhir-akhir ini kerjaan aku lagi banyak banget." Jawab Guntur yang kini tengah melingkarkan tangannya di pinggang kecil istrinya.
"Tapi badan kamu ga panas sih Say. Ya udah kamu tidur lagi aja, aku bikinin bubur dulu buat makan kamu ya!"
"Ga mau, aku pengennya gini aja. Aku suka wangi badan kamu. Urusan makan delivery aja! Pokoknya hari ini aku mau jadi bayi besar kamu. Pengen dimanja-manja sama kamu."
"Tumben. Biasanya kan kebalik."
Pagi berganti siang tapi Guntur merasa tubuhnya semakin tidak bisa diajak kompromi, beberapa kali dia memuntahkan makanan yang ia makan hingga membuat Zee panik, walaupun suhu tubuhnya normal tapi dia merasa ada yang tidak beres dengan tubuh suaminya.
"Say, kita ke rumah sakit ya. Aku telepon Kak Bian ya!" Pinta Zee, dia sangat panik melihat suaminya yang terlihat pucat.
"Ga usah Yang! Kamu bisa ga ngerokin aku? Kayaknya aku masuk angin." Tolak Guntur.
"Mmmm,,,bisa sih kayaknya kalo cuma ngerokin doang." Jawab Zee ragu-ragu, karena seumur-umur dia belum pernah melakukan hal itu. Lagian siapa juga yang berani nyuruh-nyuruh dia?
Beberapa menit kemudian Zee sudah siap dengan alat tempurnya, sebotol minyak zaitun dan sebuah koin dia jadikan senjata tempurnya untuk mengeksekusi suaminya.
"Yang, seumur-umur aku belum pernah loh ngeliat yang ngerok ampe nindihin pasiennya gini." Protes Guntur karena Zee kini sudah duduk di atas punggungnya.
"Udah ga usah protes! Suka-suka aku lah. Kan aku mau ngasih servis terbaikku buat suami tercinta." Jawab Zee sambil memulai aksinya.
__ADS_1
"Yang, pelan-pelan napa! Kamu lagi ngerik apa lagi marut kelapa sih?" Keluh Guntur.
"Supaya cepet merah Say, sabar napa! Cengeng amat jadi laki! Aku juga waktu kamu kerok ga serewel ini." Jawab Zee.
"Tapi kamu ngerok akunya ga pake aturan, asal banget gini. Ikutin ruas tulang punggung Yang, jangan digosok ke atas ke bawah ga beraturan gini." Guntur meringis menahan sakit di punggungnya.
"Udah nikmatin aja, yang penting dikerok Say!"
Guntur sudah sangat tidak kuat lagi menahan sakit dan perih yang diterimanya. Tapi tidak ada yang bisa dia perbuat. Walaupun hatinya meronta-ronta, tapi dia tidak mampu untuk mengeluh. Zee dengan santainya menggosok-gosok punggungnya sambil bersenandung ria, seolah dia sedang menikmati semua rasa sakit yang dirasakan suaminya.
"Taraaaaaaa,,, akhirnya selesai juga." Ucap Zee dengan bangga.
Alhamdulillah, akhirnya siksaan ini berakhir juga.
"Jangan pake baju dulu Say! Aku mau foto hasil karya aku!" Pinta Zee ketika melihat suaminya meraih kaosnya.
Cekrek,,,cekrek,,, cekrek,,,
Setelah beberapa kali jepretan, dia dengan bangga menunjukkan hasil kerokannya yang lebih mirip bekas cambukan kepada sang korban.
"Aku posting ah." Ucap Zee dengan penuh percaya diri. Dan beberapa detik kemudian foto punggung suaminya sudah terpampang di media sosial miliknya.
"Aku juga udah jadiin foto itu status WA kamu loh Say." Lanjutnya, sambil memberikan handphone dambaan sejuta umat milik sang suami.
Mendengar perkataan istrinya Guntur segera mengambil handphonenya. Entah harus marah atau harus menangis. Karena Zee dengan narsisnya menulis 'Hasil karya istriku tercinta,,,' dengan sederetan emoji hati yang dia cantumkan.
Kalo gue hapus bisa ngamuk dia, tapi kalo ga dihapus bisa mati karena malu gue. Bakal jadi bulian yang liat ini sih urusannya.
Benar saja, baru beberapa menit foto itu di-posting, sudah ada beberapa komentar yang masuk ke akun WhatsApp-nya.
Ting,,,
"Waduh, siapa yang udah nyiksa lu bos?" Dimas.
__ADS_1
Ting,,,
"Itu hasil kerokan apa cambukan?" Rio.
Ting,,,
"Kok hasil kerokannya mirip mural ya, kalo dijual bisa laku mahal nih?" Arka.
Ting,,,
"Ini udah bisa masuk pasal penganiayaan loh. Kalo butuh pengacara hubungi gue Bro!" Jo.
Ting,,,
"Anjirrrrr, dikerok pake sabuk lu Kak? Tapi kok gue seneng banget ya liatnya." Flower.
Ting,,,
"Waduh adek ipar gue disiksa ma bininya. Hahaha..." Fabian
Ting,,,
"Pray for Pak Bos...🤲🤲🤲😜😜🙏🙏" Fery.
Dan banyak lagi komentar-komentar yang mereka kirim merespon postingan WhatsApp-nya.
Tanpa satupun yang dibalas oleh Guntur, dia hanya bisa menangis dalam hati.
Bener kan, apa yang gue takutin akhirnya terjadi, kenapa bisa dia bangga posting-posting yang beginian sih?
Ini kan lebih mirip pamer aib daripada pamer karya...
Guntur : Seneng banget sih lu liat gue tersiksa.
__ADS_1
Author : Kan yang nyiksa bini lu bukan gue. Coba lu minta keroki ke gue, kan gue bisa gr*pe-gr*pe abis dikerokin...😋😋😋
Guntur : Nuajisss...🤮🤮🤮