
Guntur melajukan mobilnya dengan cepat saat mereka menyadari bahwa hari sudah gelap ketika keduanya membuka mata. Maklum lah pengantin baru, suka lupa waktu, berasa dunia milik berdua. Authornya aja kagak dianggap.
Berkali-kali Zee menelpon orang-orang rumah tapi tak ada jawaban, ketiga Cunguks pun tak mengangkat panggilan telepon dari mereka. Zee sudah mulai panik dia takut terjadi hal-hal yang tidak semestinya.
"Tenang Yang, mungkin mereka lagi nemenin Kaisar jadi ga kedengeran hapenya bunyi." Guntur menggenggam erat tangan istrinya berusaha menenangkan Zee. Dia lupa, padahal dia sendiri yang menyuruh makhluk-makhluk itu untuk tidak mengangkat telpon dari istrinya.
"Masa semuanya ga bawa hape? Kamu sih maennya kelamaan." Zee mulai menampakan kemarahannya.
"Sayang kan Yang mahal-mahal aku sewa kamar hotel masa cuma secelup, dua celup doang." Guntur nyengir hingga menampilkan gigi putihnya yang rapi.
"Lagian siapa suruh kamu nyewa-nyewa hotel segala? Kan bisa aja maen di kamar aku. Kai titip di bawah sama Mama." Zee terus menyalahkan suaminya.
"Mana ada mantu yang nitipin bayinya dengan alesan mau garap bininya? Malu lah aku. Lagian nanti kalo kamu denger Kaisar nangis aku didorong lagi ma kamu. Si Otong udah kangen banget pengen ketemu kamu Yang." Guntur tak mau kalah.
🐣🐣🐣
Sesampainya Zee langsung mencari keberadaan bayinya, dan ternyata Kaisar tengah tertawa-tawa bersama Cunguks, anehnya Baby Kai langsung menangis ketika mendengar suara Mommynya.
"Lah ni bocah, tadi anteng-anteng aja. Denger suara emaknya malah mewek." Ucap Fery yang ketika itu sedang menggendong bayi lucu berpipi gembul.
"Uuuchh Cayaaaang, Aus ya? Mau nen iya? Ga dikasih nen sama Om Aim ya?" Ibu muda itu berbicara dengan bayi nya dengan begitu mesra sudah tak memperdulikan lagi orang-orang sekitarnya yang memandangnya dengan tatapan mengejek.
"Kalo gue punya t*ket gede, pasti kenyang gue pegangin tiap hari." Otaknya kembali membayangkan apa yang para pembaca sekalian bayangkan.
"Dasar Pe'a!"
Toyoran pun kembali mendarat di kepalanya.
"Halaaah muna lu pada! Gue yakin kalo t*ket gue gede juga kalian bakal ikut pinjem t*ket gue!"
Fery dan Egy jadi dibuat merinding membayangkannya.
"Ngapa lu mesam-mesem? Pengen gue tabok?" Tanya Baim melihat kelakuan sahabatnya yang baru kembali dari bulan madunya.
"Hehe,,, Saranghaeyo." Sambil memberikan finger love ke arah Baim dan Fery yang duduk bersebelahan.
"Apaan tuh maksudnya? Minta duit lu ke gue?" Ucap Fery yang tak mengerti kode dari finger love yang Zee berikan.
"Masa iya gue minta duit sama rakyat jelata kayak lu pada? Buat ngempanin anak cucu lu aja gue masih sanggup. Cih… nyesel gue ngasih finger love ke lu." Kesombongan ibu muda itu terpancing.
"Bersihin dulu Tek, tadi kan bekas bapaknya!" Ledek Egy saat Zee membawa bayinya ke kamar untuk disusui, dia seperti sudah kebal dengan kesombongan sahabatnya itu.
__ADS_1
Zee hanya mengangkat sudut bibirnya ketika mendengar ocehan sahabatnya yang semakin hari semakin sableng itu.
"Tau Dek, takut ga mau nyusu lagi dia nyium bau bapaknya!" Kali ini suara itu terlontar dari si Dokter Mesum.
Sedangkan Baim hanya cengar-cengir sendiri di pojokan sambil membayangkan yang pastinya tidak pantas untuk diungkapkan.
Sudah hampir dari satu jam Baby Kai menyusu, tapi sepertinya tak ada niatan dia untuk melepaskannya.
"Makan dulu Yang!" Ajak Guntur ketika memasuki kamar Zee yang didominasi warna pink.
"Belum lepas juga Say. Kamu tau sendiri anak kamu kalo udah nen*n kayak tokek, susah banget lepas." Rengek Zee.
"Ya Allah, udah donk ganteng! Mommy mau mamam dulu. Cape dia abis olahraga berat sama Daddy. Sini aku gendong, kamu ganti baju dulu!" Guntur tersenyum saat mengingat pertempuran mereka di hotel seraya menggendong anak laki-lakinya dari tangan Zee.
"Cie,,, pengantin baru." Goda Fabian di meja makan.
"Diem lu!" Bentak Zee.
"Ciee,,, malu!"
Zee pura-pura tidak mendengar.
"Kak bisa diem ga sih?" Nada suaranya sudah hampir setinggi Mariah Carey.
"Cie,,, merah lehernya." Fabian benar-benar sedang memancing emosi adik semata wayangnya.
"Aaaahh, Say liat tuh Si Dokter kurang fitnes ledekin aku aja." Akhirnya Zee kembali ke wujud aslinya.
"Biarin Yang dengerin aja. Syirik dia ma kita, soalnya si Ujang jarang digunain sebagaimana mestinya."
"Ujang siapa Say?" Tanya Zee dengan wajah bingungnya.
"Kakak Iparnya si Otong." Jawab Guntur disambut gelak tawa yang lain.
"Sejak kapan lu ngasih nama Adek kandung gue Ujang?" Bentak Bian. "Punya gue namanya Mike!"
"Mau apa kek namanya, kalo jarang digunain percuma." Jawab Guntur mencibir.
Gelak tawa mengisi ruang makan dari semua orang di meja makan. Kecuali Fabian yang sekarang terpojok dengan ucapan adik iparnya. Bagaimana mau sering digunakan jika tugasnya sebagai dokter bedah terlalu menyita waktunya.
Cunguks hanya bisa cekikikan menahan tawa melihat Fabian yang mati kutu. mereka seperti cheerleader yang selalu bersemangat menertawakan dokter muda yang sangat cerdas dan tampan itu.
__ADS_1
"Lagian jadi orang lebih sering ngegr*pe-grep* pasien daripada bininya." Kali ini level kesombongan Zee mulai meningkat.
"Heh Bantet jaga mulut lu! Kalo kedengeran orang ntar gue disangka dokter mesum lagi." Fabian sewot tak terima dengan ucapan adiknya.
"Say dia ngeledekin aku bantet." Zee kembali merengek kepada suaminya.
"Tek lu darimana sih emangnya ampe lupa waktu gitu?" Tanya Baim dengan wajah polosnya karena dia memang tidak tahu kemana Zee dan suaminya pergi.
"Dari mekah, abis naek onta." Jawab Zee asal, dia tak tahu jika ucapannya itu akan menjadi senjata bagi Fabian untuk menggodanya lagi.
"Onta nya ganteng banget ya Tek?"
"Ganteng lah, tajir lagi." Fery nyengir sambil melihat ke arah Guntur.
"Wiiih, emang elu yang naekin onta Dek? Gue kira tuh onta yang naekin lu." Fabian mulai membalas mereka.
"Badan doang keker, tapi giliran di ranjang bininya yang banyak gerak." Serangan balasan dari Fabian membuat Guntur tak bisa berkata-kata, dia begitu malu diperolok oleh mereka di hadapan mertuanya. Wajahnya saja yang semakin merah.
"Udah! udah! Ngomongin masalah ranjang di meja makan. Kayak udah pada pinter aja kalian. Nih Mama yang udah senior aja ga suka bahas-bahas masalah begituan. Mama yang udah dijungkir balikin sama Ayah kalian aja ga suka ngebahas yang begituan. Ga ada manfaatnya." Bentak Sang Eni Kai. (Julukan baru Mama Nia. Eni Kai)
"Pake gaya apaan tuh mah ampe jungkir balik segala? Ajarin kita dong!" Goda Zee pada Mamanya yang tidak kalah mesum.
"Iya Ayah keren banget bisa ngejungkir balikin Mama yang gendut gini. Turunin jurusnya ke kita donk!" Kali ini godaan datang dari Fabian.
"Nanti ayah ajarin. Ayah punya seribu gaya yang bisa Ayah turunin ke kalian." Kali ini Sang Dosen ikut nimbrung obrolan unfaedah di meja makan tersebut.
Dan lagi-lagi ketiga Cunguks hanya bisa menelan ludah, betapa nelangsa hati Cunguks karena telinga mereka kembali tercemar oleh obrolan keluarga mesum.
Pantes bini gue somplak, turunannya begini model.
💖💖💖
Selamat menunaikan ibadah puasa buat yang menjalankannya... 🙏🙏🙏
Maafkan diriku yang selama ini udah bikin klean-klean sakit perut, keram pipi, nangis ampe guling-guling dan ga sedikit juga yang nganggap klean-klean gila...
Sumpah ga ada niatan aku bikin klean-klean kayak gitu.
Sebenarnya aku cuma pengen menularkan kegesrekan diriku doang...
Suerrr.. ✌✌✌
__ADS_1