
Selama hamil Zee selalu mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari semua anggota keluarga juga para sahabatnya. Dia selalu jadi pusat perhatian dimana pun berada. Karena dengan perut buncitnya Zee masih saja berjalan angkuh layaknya seorang model.
Selain karena kesombongannya juga hanya dia satu-satunya ibu hamil yang memiliki permintaan yang selalu membuat mereka yang mendengarnya jantungan.
Zee, Guntur dan ketiga sahabatnya sedang menikmati sore mereka sambil mengadakan pesta barbeque di belakang rumah Zee. Fabian absen untuk mengikuti acara tersebut, sejak pengambilan foto maternity putra pertama Zee Fabian seperti menjauhi adiknya. Bahkan dia sekarang menjadi takut mengangkat telepon dari adik semata wayangnya yang dirasa sangat merepotkan dibandingkan memiliki sepuluh orang adik.
Ketiga Cunguk sedang saling berebut untuk bisa menyentuh perut Zee ketika Junior sedang dance di dalam perutnya.
"Tek perut lu menyon!" Fery terlihat sangat terkejut melihat perut buncit sahabatnya yang tidak seperti biasanya.
"Junior lagi mantatin elu tuh." Jawab Zee santai sambil menikmati jagung bakar yang diberikan suaminya.
"Songong banget anak lu! Kalo udah berojol gue pites nanti."
"Silahkan kalo lu mau mati di tangan laki gue!"
Canda, tawa dan sedikit pertengkaran yang mereka ciptakan selalu menghiasi rumah baru Zee dan Guntur. Hampir setiap minggunya Guntur mengundang sahabat istrinya untuk sekedar menemaninya, karena usia kandungan Zee yang sudah semakin membesar membuat Zee mudah lelah, hal itu membuat Guntur jadi over protective terhadap istrinya.
"Say, aku mau pipis dulu. Bantuin bangun."
Guntur dengan hati-hati membantu istrinya berdiri, karena besar perut Zee membuatnya sulit bergerak.
"Mau aku anter?" Tanya Guntur khawatir.
"Emang kamu mau itu? Ga enak tau ada mereka." Ucap Zee dengan tatapan mesum.
Zee sengaja menggoda ketiga sahabatnya.
"Waaaahhh, paraaaahhh. Bosen si Junior ditengokin mulu."
"Kasian gue ama Junior punya Emak mesum kayak lu." Timpal Egy.
"Ini mah kayaknya pas lahiran dia harus di azanin sama Aa Gym deh, supaya dia ga ketularan somplak kayak lu!" Sambung Baim
👶👶👶
"SAY!"
Teriakan Zee membuat keempat pria itu segera menghampiri asal suara dari wanita buncit itu. Dilihatnya Zee sedang memegangi perutnya sambil bertumpu di peganan tangga.
__ADS_1
Guntur segera menghampirinya bahkan Baim sampai terjatuh karena saking buru-buru ketika berlari.
"Kamu kenapa? Mau lahiran?" Tanya Guntur panik.
Zee menggelengkan kepalanya. "Aku ga tau, tadi Junior kenceng banget nendang akunya." Jawab Zee sambil menahan sisa rasa sakitnya.
"Bukannya baru delapan bulan?" Tanya Egy memastikan usia kandungan sahabatnya.
Zee mengangguk. Perlahan dia melepaskan cengkramannya dari pengangan tangga dan berpindah memegangi suaminya.
"Bi, bikinin teh hangat!" Ucap Guntur pada asisten rumah tangganya.
"Kita ke rumah sakit ya!"
Zee kembali menggeleng, dia masih sangat gugup dengan reaksi Junior tadi.
"Mungkin dia kesel kali tadi lu ngajakin laki lu nengokin dia." Ucap Fery yang bisa-bisanya masih bisa menggoda ibu hamil yang terlihat pucat itu kemudian dihadiahi toyoran dari Baim.
"Say, tadi sakit banget." Ucap Zee gugup dengan mata berkaca-kaca.
Guntur hanya bisa memeluk tubuh istrinya sebagai tanda dukungan kepada istrinya agar bisa kuat menghadapi persalinannya nanti.
"Aaawww!" Zee kembali meringis kesakitan, karena kali ini tendangan Junior lebih menyakitkan dari sebelumnya.
"Itu kayaknya tanda-tanda mau lahiran. Mana gue mau ngomong sama si Bantet!" Suara Fabian juga terdengar panik.
"Dek, masih sakit ga?"
"Gak, udah ilang. Mungkin karena aku liat video EXO jadi Junior mulai tenang."
Sebuah jawaban yang membuat semua orang menepuk jidat mereka masing-masing, tak terkecuali Fabian yang ada di ujung telepon.
"Dek, dengerin omongan gue, kalo kerasa mules lagi, lu tarik nafas dalam-dalam dan keluarin pelan-pelan. Jangan panik! Denger kan? Inget jangan panik!" Ucap Fabian serius.
Tapi sang Nyonya kini tengah sibuk dan terlihat khusyuk menonton kekasih halunya. Entah masuk atau tidak nasehat dari sang Kakak hanya dia yang tahu.
Hingga akhirnya Fabian lebih memilih berbicara dengan adik Iparnya yang kadar kecerdasannya jauh lebih cerdas dari pada adiknya.
Lagi-lagi Zee merasakan kontraksi yang lebih dahsyat dari yang sebelum-sebelumnya, sehingga membuatnya menitikkan air mata.
__ADS_1
"Say sakit banget." Ucap Zee terbata-bata sambil mencengkram erat pergelangan tangan suaminya.
"Kita ke rumah sakit. Inget kata Fabian, tarik nafas dalam-dalam keluarin pelan-pelan!"
Zee pun mengikuti arahan suaminya, walaupun rasa sakit di perutnya tak sedikitpun berkurang.
"Fer, tolong pengangin Zee dulu! Saya mau ambil dompet sama kunci mobil dulu!"
Dengan cepat Fery menyerahkan tangannya agar menjadi pegangan sahabatnya.
"Wadaaaaaaw!" Fery menjerit kala Zee mencengkram erat tangannya.
"Pelan-pelan Tek!" Kuku lu nancep semua di tangan gue!" Fery meringis menahan sakit dari cengkeraman sahabatnya yang kini tengah menangis.
"Tahan B*go! Cemen lu!" Bentak Baim. "Sini gantian!" Ucap Baim kemudian duduk disamping Zee.
" ASTAGHFIRULLAH TEEEEKKK!" Teriakan Baim ternyata lebih keras dari pada Fery.
"Kuku lu potongin dulu Napa! Periiiiihh!" Lanjutnya sambil loncat-loncat di sofa menahan sakit.
Egy hanya bisa tersenyum melihat penderitaan kedua sahabatnya, karena Zee tidak melepaskan pegangannya dari Fery. Sedangkan dia memberikan pengarahan kepada Zee agar dia mengikuti instruksi yang diberikan Fabian tadi.
"Tarik nafas pelan-pelan Tek!" Egy mengarahkan. "Yak bagus terus keluarin dari mulut pelan-pelan!"
Guntur hanya bisa menahan tawanya melihat ekspresi wajah dari kedua sahabat istrinya yang sedang menahan rasa sakit akibat kuku istrinya yang menancap di tangan keduanya. Bahkan Baim sampai mengeluarkan air mata karenanya.
Mereka semua pergi mengantar Zee ke rumah sakit, Fery dan Baim ikut mobil Guntur, karena Zee tak mau melepaskan cengkraman tangannya.
Sedangkan Egy mendapatkan tugas untuk membawa perlengkapan Junior.
"Elu ngapain baca Yasin?" Tanya Baim mendengar Fery melantunkan surat Yasin.
"Si Ketek mau ngelahirin Junior, bukan mau menjemput maut!" Lanjutnya.
"Sayaaaaang, si Fery nyumpahin aku mati!" Rengek Zee dari kursi belakang yang sedang diapit kedua sahabatnya, tanpa melepaskan cengkramannya sedikitpun.
"Nanti aku potong gajinya bulan ini!" Jawab Guntur yang tetap fokus menyetir tanpa melihat kekhawatiran di wajah Fery.
"Gue cuma mau bikin elu tenang doang Tek!" Jawab Fery lemas.
__ADS_1
"SAYANG! SAKIIIIT!!!" Teriakan Zee berhasil membuat semua orang yang ada di dalam mobil kehilangan pendengaran mereka beberapa detik.
Cunguks : Minta doanya ya Reader, supaya si Ketek Lancar persalinannya..🤲🤲🤲