Istri Pilihan Aki

Istri Pilihan Aki
Baim


__ADS_3

"Have a nice weekend Sir!" Sebuah sapaan manis, tapi dengan nada mencibir keluar dari bibir muridnya, untung dia orang yang sabar, coba jika tidak? Mungkin sang siswa itu sudah dia dikutuk menjadi Lamborghini saat itu juga.


Dia berjalan acuh, badan tinggi tegapnya melintasi lorong sekolah menuju tempat parkiran, motor sport keluaran baru berwarna hitam khas mencirikan lelaki sejati menjadi tunggangannya sejak sebulan yang lalu. Motor puluhan juta pemberian sahabatnya itu ia terima sebagai kado ulang tahunnya yang ke 27. 


"Gy besok tolong kiloin motor si Kampret tuh! Perih mata gue liatnya!" Seperti itulah cara si Nyonya besar mengganti motor lamanya dengan tunggangan barunya ini. 


Sebenarnya bukan tunggangan seperti ini yang dia harapkan, melainkan tunggangan yang bisa mengeluarkan suara desahan bila dia menungganginya. Sayangnya hal itu hanya impian semata seperti yang dulu Egy bilang nasib percintaannya memang tak serupawan wajahnya.


Beberapa minggu lalu dia kembali patah hati oleh seorang wanita yang sudah hampir sebulan ia dekati. Dengan percaya diri yang besar dan dorongan dari si pemberi motor yang meng make over dirinya agar bisa melewati momen pernyataan cintanya dengan tampilan yang berbeda.


Ya walaupun dia harus mendapatkan sebuah hinaan sebelum dia mendapatkan tampilan barunya. 


"Fer, tolong bawain dia nyari baju yang bener donk, masa mau nembak cewek tampilannya masih kerenan tukang kebon di rumah gue! Baju yang dia pake tuh kalo ada di rumah gue, udah gue jadiin lap dapur tau." Ucap Nyonya besar itu seraya memberikan kartu kreditnya. 


Momen yang begitu dia tunggu-tunggu hingga pada akhirnya kedua insan itu pun bertemu di kafe milik sahabatnya, daaaaan…? 


Sebelum dia mengutarakan perasaan cintanya, Sang pujaan hati dengan senyum malu menyerahkan sebuah kartu berwarna merah dengan sebuah pita berwarna emas yang menghiasinya. Dia mau kawin pemirsaaaah.


Ternyata Sang gadis mengajaknya bertemu hanya untuk menyerahkan sepucuk surat undangan pernikahannya. 


Semua sahabatnya yang ada di kafe itu pun langsung ikut merasa kecewa, harapannya untuk makan gratis di pesta pernikahan Baim pupus sudah. Benar-benar menyedihkan. Zee yang saat itu terlihat kesal karena ulah perempuan bermata bulat itu langsung menghampiri mereka. 


"Ngapain lu disini?" Zee pura-pura tak tahu. 


"Gue bilangin cewek si Rima loh, elu ketauan pdkt sama cewek lain." Ucap Zee yang kini ikut bergabung bersama mereka. 


"Rima tukang tahu bulat itu ya Mom? Yang suaranya kayak gini 'Tahuuuu bulat digoreng dadakan di atas mobil lima ratusan!'" Kaisar menirukan suara cempreng si tukang tahu bulat bernama Rima yang sering berjualan di komplek. Zee lupa jika si cerdas yang belum bisa mengucapkan kata berawalan Be' itu ada bersamanya. 


"Bukan lah. Itu mah Rima Oleng, masa Om Baim pacaran sama tukang tahu bulat yang suaranya kayak kucing kejepit. Dia tuh temen sekolah Mama, cantik orangnya." Zee memuji pacar hayalan yang dia buat untuk Baim. 


Baim hanya mengangguk dengan senyum yang dipaksakan kepada balita cerdas yang sudah mengaransemen lagu Potong Bebek Angsa menjadi sebuah lagu tak layak dengar.


Seperti itulah sahabat somplak yang memiliki mulut setajam silet itu mempertahankan harga diri Baim di hadapan wanita incarannya. 


☀☀☀


Siang itu dengan malas Baim mengendarai motornya, membelah jalanan ibu kota yang padat menuju sebuah butik tempat dia dan para sahabat yang satu spesies dengan dia akan melakukan fitting baju untuk dipakai di acara pernikahan Fery dan kekasihnya Niken yang sudah lebih dari lima tahun dia pacari. 


Peran Zee juga sangat penting dalam mempersatukan Fery dan Niken untuk ke jenjang yang lebih serius ini. 


"Fery lu kapan mau nikah? Gue takut si Niken keburu sadar doang."

__ADS_1


Atau dia akan menceritakan hal-hal mesum kepada sahabatnya itu agar Fery panas dan terpancing untuk menikahi kekasihnya. 


"******* mulu, mang elu ga mau apa ngerasain yang lain? Yang lebih enak dari sekedar *******? Begituan doang mah cuma bikin si Usro blingsatan tak ada pelarian untuk ia tuju doang tau Fer, kasian gue sama Usro."


Seperti itulah cara Zee memanas-manasi Fery. 


Tapi episode ini kita fokus kepada Sang guru tampan bernama Muhammad Ibrahim Sodik, atau yang biasa dipanggil Baim, atau Om Aim. 


"Lama amat sih lu Nyet. Kaki gue ampe pegel nungguin elu." 


"Kan Mommy duduk. Kok pegel?" Kaisar memotong ucapan Mommynya.


"Ih, Kai! kalo kata Momy pegel ya pegel, emang duduk ga pegel? Menunggu itu pekerjaan yang sangat melelahkan Kai, apalagi nunggu jodoh yang selalu ditikung orang." Sebuah alasan yang Zee berikan kepada putranya membuat hati pria yang baru datang itu tiba-tiba panas.


"Ngapain juga sih gue harus datang? Kan gue udah bilang ukuran gue sama aja kayak ukuran baju si Egy." Balasnya yang kini tengah mencium si pemilik pipi beraroma bedak bayi.


"Ya Allah Im, emang lu ga tau kalo silaturahmi itu bisa memperpanjang umur kita?" Mamah Dedeh sedang bersemayam di tubuh wanita cantik bergaun hijau toska itu.


"Tapi kalo silaturahminya sama demit macam lu umur gue makin pendek. Elu kan paling seneng bikin gue kesel Tek." Balas Baim. 


"No Tek Om, Mommy Zee." Protes Kaisar. 


"Tek itu panggilan sayang Om buat Mommy kamu tau. Coba Kai bayangin kalo Kai ga punya ketek?"


"Ntar tangan Kai nempel dong di badan Kai, ga bisa digerakin. Jadi Mommy kamu itu ibaratnya sebuah ketek yang amat penting buat Om!"


"Uuuuhhh So sweeet." Jawab Zee sambil memukul kepala belakang Baim dengan tanpa rasa bersalah. 


"Si Bangke, maen kelepak pala orang aja. Emak gue yang tiap tahun mintrahin gue juga kagak pernah ngelepak pala gue." Baim menarik rambut Zee yang dikuncir kuda. 


"Tar tahun ini gue yang bayarin fitrah elu, sekalian sama emak bapak lu!" Kesombongan yang tak pernah padam Zee tunjukkan setiap mereka berkumpul. 


☕☕☕


Ketiga Cunguks dan ibu negara kini sudah berkumpul di kafe Egy setelah melakukan fitting baju. 


"Nyet semalem gue liat tokek kawin masa di kamar gue. Untung mereka kagak kawin di kamar lu ya!" Ucapan itu Zee tujukan kepada si pemilik gelar Jones. 


"Apa hubungannya tokek kawin sama gue?"


Baim terus menyeruput ice coffee yang Egy suguhkan untuknya. 

__ADS_1


"Lah gue aja yang udah kawin liat mereka kawin berasa diledekin, jadi langsung aja gue telanjangin laki gue, ga ikhlas gue diledekin tokek. Kita jadinya duel kuda-kudaan ma tuh tokek, dan lu tau siapa pemenangnya?"


"Siapa?" Tanya Egy antusias.


"Gue lah, ngacir mereka liat gue tempur lebih heboh dari mereka." Entah mengapa tersirat nada bangga dan sedikit bumbu kesombongan dari ucapan ibu muda itu dengan apa yang sudah dia ceritakan saat dia merasa menang melawan pasangan tokek. 


"Coba kalo tuh tokek kawin di kamar elu. Menderita lahir batin deh lu. Tokek aja yang jelek punya pasangan, lah elu cakep, body oke, otak encer eh masih jomblo. Yakin jungkir balik elu liat mereka ena-ena."


Baim menoyor kening sahabat dari planet lain itu. "Si Bangke, itu mah elu aja kali. Liat tokek kawin aja lu segitu panasnya, gimana kalo lu liat kalo ada orang kawin di depan muka lu?"


"Gue ajak elu nonton lah, kan seneng gue liat elu menderita."


Senja mulai menampakan wajah sendunya saat pria yang masih mengenakan kemeja kantornya yang berwarna biru navi masuk ke dalam kafe. Melihat pria dengan warna dasi senada dengan warna baju yang istrinya pasangkan tadi pagi Kaisar langsung berlari ke arahnya. 


"Daddy!!!"


Mendengar kata Daddy yang terucap dari mulut kecil itu para wanita yang seketika terpesona mendadak patah hati, terutama saat mereka melihat pria tampan itu mengecup kening wanita yang paling berisik diantara ketiga teman prianya.


"Kebenaran, aku sama anak-anak mau nyanyi dulu. Kamu temenin Kaisar ya!" Ucap Zee yang menarik paksa Cunguks untuk ikut menemaninya bernyanyi. 


Lagu Terlatih Patah Hati untuk Sang Jones, Zee kumandangkan petang itu. 


Begini rasanya terlatih patah hati


Hadapi getirnya terlatih disakiti


Bertepuk sebelah tangan (sudah biasa)


Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)


Penuh luka itu pasti tapi aku tetap bernyanyi


Sepenggal bait yang amat mewakili perasaan Baim hari itu. Entah harus tersenyum atau menangis dia menanggapi lagu tersebut saat Zee bernyanyi dengan begitu riang ke arahnya. 


Jangan lupa Ritualnya… 


Like! 


Komen!! 


Vote!!! 

__ADS_1


Biar cemungut Otor ngehalunya…😝😝


__ADS_2