
Baim yang mendengar suara Zee langsung berlari kedalam rumah sebelum Zee melihatnya.
"Bu, kalo si Ketek nyariin aku bilangin aku lagi ga ada gitu!" Pinta Baim pada Ibunya.
Ibu Baim hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku anaknya yang seperti ketakutan melihat Zee.
Dengan senyum manis Ibu Baim membukakan pagar rumahnya untuk mereka.
"Assalamualaikum Bu, Si Baim mana?" Tanya Zee tanpa basa-basi, karena dia sudah sangat akrab dengan ibu para sahabatnya yang sudah dia anggap ibunya sendiri, walaupun belum tentu ibunya Baim memiliki perasaan yang sama.
"Katanya lagi ga ada." Jawab si Ibu sambil tersenyum, kemudian memeluk Zee yang sudah lama tidak bertemu.
"Oooohh jadi dia mau ngehindarin aku nih ceritanya."
"Masuk aja, paling juga ngumpet di kamar." Lanjut Ibu Baim.
Guntur yang merasa lelah hanya bisa menunggu istrinya yang sedang mencari tempat persembunyian Baim di teras rumah. Dia terlihat tergiur melihat mangga yang bergelantungan di pohon yang tidak terlalu tinggi itu.
"Zee sama Baim emang gitu biasanya. Mereka udah temenan dari masih di dalam kandungan." Ucap Ibu Baim ketika melihat Guntur yang terlihat tak bersemangat di teras rumahnya yang sejuk itu.
"Saya udah tau Bu, maaf kalo selama ini istri saya sering ngerepotin Baim. Saya suaminya juga ga bisa ngelarang dia. Saya minta maaf."
Sementara itu Zee dan Fery telah menemukan persembunyian Baim, yang kala itu bersembunyi di di samping kulkas di dapurnya.
"Ngapain lu nyempil disitu?" Tanya Fery sambil cekikikan melihat Baim yang sedang meringkuk di samping kulkas.
"Iiiisstt,,,lu mau ngapain si Tek?" Rengeknya
"Gue cuma pengen mangga di depan rumah lo doang." Jawabnya santai.
Mendengar jawaban Zee Baim menjadi sumringah pasalnya mangga di rumahnya sedang berbuah lebat dan pohonnya pun tidak terlalu tinggi.
"Oh cuma itu doang. Siap gue ngambilin buat lu. Sepohon juga gue sanggup ngalapin buat lu." Jawab Baim sambil keluar dari tempat persembunyiannya.
Dengan lihat Baim memanjat pohon mangganya.
"Im, jangan pake baju! Gue pengen ambil foto lu." Ucap Zee yang telah siap dengan Handphonenya.
"Banyak semut Tek."
"Aaaaaaaahhh,,, waktu dulu juga lu telanjang naek pohon mangga Pak Haji depan komplek."
__ADS_1
"Lah dulu kan gue pake baju baru Tek, takut kena getah."
"Udah nurut aja, nanti saya kasih 500 ribu." Ucap Guntur, menepuk-nepuk dompet kulit yang terlihat tebal."
"Siap deh Nyah." Jawab Baim semangat sambil melempar baju ke arah Fery.
Kini Baim hanya mengenakan celana kolor bergambar pemandangan laut yang dia beli di Bali.
Setelah cukup mengambil foto tanpa sepengetahuan Baim, dia meng-upload beberapa foto sahabatnya itu di akun Instagram miliknya. Yang pastinya akan membuat Baim malu setengah mati bila melihatnya.
"Terciduk,,, Seorang guru SMA swasta tertangkap basah sedang mengambil mangga tetangganya tanpa izin."
Judul dari postingan miliknya.
"Say mungkin Junior nanti bakal jadi fotografer kali ya?" Ucap Zee, dia sedang menggeser-geser layar handphonenya, melihat-lihat hasil jepretan kameranya selama ini.
Cih fotografer katanya?
Bukannya sebelum hamil juga kerjaannya cuma foto-foto, semua di upload, ampe hasil kerokannya aja di upload.
Guntur tidak menimpali.
"Bikinin sambel rujaknya donk Om A'im!" Zee kembali dalam mode anak kecil.
Bangke nih si Ketek, dia bener-bener ngebabuin gue. Ntu lagi lakinya diem-diem bae lagi.
Baim melirik sepasang suami istri itu dengan sinis, sedangkan Fery sangat menikmati siksaan yang kini Baim terima.
Dari kejauhan, terdengar bunyi-bunyian yang membuat Zee langsung bersemangat dan mencari sumber suara itu.
"Fer, ada topeng monyet! Panggilin Fer!"
Mendengar permintaan istrinya, Guntur langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Yang, kumohon untuk yang ini jangan diturutin ya! Ntar Junior mirip…" Belum juga Guntur meneruskan kalimatnya, Zee langsung memanggil para pemain topeng monyet yang diikuti beberapa anak kecil.
"Abang monyet sini!" Zee melambaikan tangannya ke arah dua orang yang sedang menabuh gendang dan satunya menuntun sang artis.
"Apa dia kata? Abang monyet? Maksud dia kita abangnya monyet apa kita mirip monyet?" Tanya salah seorang dari mereka, tapi tak urung menghampiri wanita cantik yang memanggilnya.
Guntur hanya bisa pasrah, percuma melawan istri mungilnya karena tak seorang pun sanggup melawannya.
__ADS_1
Kali ini Fery semakin terbahak-bahak melihat atasannya yang pucat karena tingkah istrinya.
Kenapa sih dia ngebet banget ketemu saudaranya?
"Dia cewek apa cowok Bang?" Tanya Zee ketika mereka selesai pertunjukan.
"Cewek Neng."
"Namanya siapa?"
"Ngapain sih Yang, nanya-nanya nama monyet segala!" Protes Guntur yang terus mengusap-usap perut istrinya selama pertunjukan topeng monyet.
"Niken Neng." Jawab sang pawang sambil tersenyum.
"Wiiihh, Fer kayak nama cewek lu. Jangan-jangan dia cewek lu yang lagi kerja sampingan." Ucap Zee.
"Jaga omongan lu Pe'a! Satu-satunya jelmaan monyet di dunia ini tuh cuman elu!" Jawab Fery kesal.
"Feeeerrr!" Guntur mengingatkan bawahannya itu, untuk tak menanggapi celotehan istrinya.
"Fer kayaknya bener deh itu cewek lu, liat bibir merahnya sama kayak yang suka dia pake." Lanjut Zee seperti tak puas mengerjai sahabatnya yang terlihat kesal.
"Paaaaakk, kali ini aja Pak, boleh kali saya pites istri Bapak!" Fery merengek kepada Guntur.
"Say minta uang buat ngasih pacarnya si Fery."
Guntur mengeluarkan selembar uang seratus ribu.
"Niken, kalo mau kerja sampingan mending kerja di toko kue aku aja. Kasian Babang Fery liat kelakuan kamu, malu banget dia." Ucap Zee sambil menyerahkan uang yang diberikan suaminya.
"Makasih banyak Neng." Ucap kedua orang itu.
"Dadah Niken, jangan ulangi lagi ya!" Zee masih belum puas membuat Fery kesal.
"Dadah Abang monyet!" Lanjutnya kepada kedua pawang itu dan kembali masuk ke rumah Baim.
"Gua masih ga ngerti maksud dia panggil Abang monyet ke kita. Gue kayak kesinggung aja dengernya." Ucap salah seorang dari kedua pawang.
"Biarin aja lah. Lu mau duitnya diambil lagi ma dia?" Jawab yang satunya
"Gue masih penasaran aja, maksudnya kita abangnya monyet? Apa kita mirip Monyet?"
__ADS_1