
Kehamilan Zee merupakan berita yang sangat menggembirakan untuk keluarga dan para sahabatnya, terutama keluarga Guntur karena ini adalah calon cucu pertama mereka. Kedua orang tua Guntur begitu antusias menyambut kehadiran cucu yang masih berbentuk zigot itu.
Tapi mereka juga tahu jika ini adalah awal dari segala penyiksaan dan penderitaan untuk orang-orang disekitar Zee. Bagaimana tidak, tidak sedang hamil pun dia adalah hukum yang harus mereka patuhi apalagi untuk kondisi seperti sekarang ini.
"Gue kasian banget liat lakinya. Bininya yang hamil dia yang ngidam, liat mukanya pucet banget gitu!" Ucap Egy. Menunjuk ke arah Guntur dengn dagunya.
"Si Ketek hamil, kok gue jadi merinding gini ya?" Ujar Fery, bergidik ngeri.
"Sama, ujian hidup kita sampe sembilan bulan ke depan dalam ancaman guys."
Egy dan Baim menyetujui perkataan Fery, dia menatap sepasang suami istri juga para keluarga yang sedang bergembira menyambut kehadiran bayi mungil mereka.
"Dia kagak hamil aja udah bikin kita kesusahan tiap ketemu. Apalagi kalo dia hamil coba? Berarti mulai sekarang kita harus siaga 24 jam untuk mendapatkan perintah dari tu bocah. Dan semoga anaknya ga minta yang macem-macem ya guys!"
"Amien." Fery dan Egy serempak mengamini kata-kata Baim.
Hari ini selepas Guntur keluar dari rumah sakit, keluarga Guntur mengadakan syukuran kehamilan Zee dengan mengundang mereka makan malam di rumah keluarga Guntur.
"Kak kamu masih mual?" Tanya Mama Vivi melihat anaknya terlihat tak berselera menyantap hidangan makan malam tersebut.
Guntur hanya mengangguk.
"Kok gitu sih Say? Aku yang hamil kamu yang mual. Jadikan aku ga bisa manja-manjaan." Zee cemberut.
"Kejadian ini sering couvade atau kehamilan simpatik. Dan bisa juga bukan suami aja yang bisa mengalaminya, kadang orang-orang terdekatnya pun bisa ngalamin hal serupa. Bahkan teman-teman si ibu juga ada yang pernah mengalami hal serupa loh!" Ucap Fabian menerangkan kepada orang-orang yang ada.
Ketiga sahabatnya langsung mengusap-usap perut mereka seolah menjauhkan hal tersebut dari mereka.
"Ya Allah Tek, sekarang elu lebih menakutkan dari virus yang lagi ngetrend tau Tek. Mulai sekarang gue mau jaga jarak deh sama elu, takut ketularan ngidam gue." Ucap Baim yang disambut gelak tawa yang lain.
"Say, masa aku disamain sama virus?" Rengek Zee.
"Jangan manja-manjaan dulu Dek, kasian laki lu lagi ngidam. Mual dia liat muka lu!"
"Cih,,, yang mual tuh liat kalian yang selalu datang kalo ada acara makan gratis." Cibir Zee.
__ADS_1
*****
Ting,,,
Fery tak henti berdoa sebelum membuka pesan chat di WhatsApp-nya dari Zee.
"Nyet beliin rujak ulek yang suka mangkal di sekolah kita ya." Sebuah chat masuk ke aplikasi WhatsApp
"Kan jauh banget dari kantor Tek, lu nyuruh yang laen napa!"
"Junior pengennya dibeliin sama Om Peyi katanah."
Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk mengahapi ujian ini ya Allah..
Dengan berat hati dan Fery melajukan mobil barunya yang baru dicicilnya selama dua kali ke SMA mereka yang jaraknya sekitar 10 kilo meter dari tempat kerjanya.
Mudah-mudahan pedagangnya rujaknya masih idup. Doa Fery dalam hati.
"Alhamdulillah." Ucap syukur Fery ketika melihat si penjual rujak.
"Iya Mas."
"Eh tapi tunggu Bu, saya tanya orangnya dulu takut salah."
Kemudian Fery menelpon Zee, dia takut ada yang salah dan mengharuskannya kembali ketempat itu.
"Ada apa?"
"Gue udah ditempat rujak nih. Cabenya berapa? Buah-buahan apa aja yang mau dimasukin ke rujaknya?"
"Cabenya pedes ga?"
"Lah mana gue tau masa iya gue cobain dulu cabenya Tek?"
"Tanya si ibunya, kalo cabenya pedes banget, pake cabenya dua aja, kalo cabenya lumayan pedes pakein tiga, tapi kalo cabenya ga pedes pake cabenya lima. Kedondongnya yang banyak, jangan pake nanas! Terus tanya mangganya asem ga? Pastiin mangganya ga terlalu asem dan ga kematangan ya! Satu lagi jangan pake ketimun!"
__ADS_1
"Mangnya ga boleh ibu hamil makan timun?" Tanya Fery bingung.
"Entar becek." Jawab Zee polos sambil mematikan Handphonenya.
"Apa dia kata tadi? Gara-gara becek gue lupa kan pesenan tu bocah." Fery terlihat gusar dan mengacak-acak rambutnya.
"Pesenan yang lagi ngidam ya Mas?" Tanya ibu si penjual rujak.
"Iya. Tapi masalahnya saya bukan bapaknya anak yang dia kandung."
"Astaghfirullah,,,si Masnya baik banget ya. Emang Mas ga marah waktu tau dia bukan anak Mas?" Tanya si Penjual rujak yang salah tangkap terhadap jawaban Fery.
"Ngapain marah bu, orang dia bini bos saya. Si ibu nih pikirannya aneh-aneh deh!"
Si Ibu rujak nyengir, menutupi rasa malunya.
"Nih." Fery menyerahkan satu pelastik besar yang berisi beberapa bungkus rujak.
Zee yang kala itu sedang berbincang dengan kedua sahabatnya yang lain menjadi kaget gara-gara ulah Fery yang meletakkan bungkusan plastik dengan kasar.
"Lu beli rujak banyak amat." Kata Baim yang kaget melihat lima buah bungkus sterofoam di dalam plastik hitam yang dia bawa.
"Pusing gue, daripada gue suruh balik lagi, mending gue bawain dia dengan beberapa macam level pedes." Fery terlihat lelah, dia mengendurkan dasinya kemudian merebahkan tubuhnya di samping Zee.
"Si Bos disini juga?" Fery sedikit terkejut melihat Guntur yang baru kembali dari mini market dengan membawa kantong belanjaan yang berisi susu hamil dengan berbagai rasa dan berbagai macam merk.
"Mau gimana lagi Nyonya ngerengek pengen kesini." Jawab Guntur sedikit kesal, pasalnya ketika itu dia sedang meninjau pabrik yang jaraknya cukup jauh dari kantor.
"Kan Junior yang ngajak Say." Protes Zee.
"Sayang, kamu kalo mau ngajakin jalan jangan waktu jam kantor ya! Papa kan lagi sibuk kerja nyari uang buat Mama kamu yang sering belanja online." Ucap Guntur, dia berlutut, seolah sedang berbicara dengan bayi mereka.
"Kok Papa Mama sih Say. Aku ga mau dipanggil Mama." Protes Zee.
Kira-kira si Ketek mau dipanggil apa ya sama Juniornya?😉
__ADS_1