
Seketika seluruh pasang mata yang ada di ruangan itu langsung tertuju pada dua orang lelaki dengan pakaian kurang setrika dan rambut panjang (tapi tak seindah para bintang iklan shampo) yang kini berdiri di depan meja kasir.
Zee yang kala itu sedang ingin menjambak rambut wanita yang ada di hadapannya segera menghampiri kedua preman tersebut.
"Mas mau minta kembalian?" Tanya Zee pura-pura pilon.
"Adek cantik, minggir gih! Ntar takut kena kepret!" Kata salah satu preman yang wajahnya tak kalah gondrong dengan rambutnya. (Bayangin sendiri deh!)
"Mas, eh Bang, eh Om, eh, Pak, eh… Aku pantesnya panggil anda apa ya? Kalo Oppa gimana?" Masih dengan suara dimanja-manjakan.
Si Preman gondrong depan belakang itu membuka jaket jeansnya yang memperlihatkan tato naga yang digambar melingkar dari bahu hingga pergelangan tangannya.
"Wah, dia ngatain gue kakek-kakek." Kata si gondrong, kepada teman duet mautnya yang berperawakan kutilang darat (kurus, tinggi, langsing, dada rata).
"Bukan Kakek-kakek Bang, tapi Kakak artinya." Jawab si kutilang darat.
"Kok lu tau?"
"Dari pacar gue Bang, dia demen nonton drakor."
"Mending ngobrol-ngobrolnya sambil ngopi-ngopi yuk!" Potong Zee, ketika mendengar percakapan tak penting itu.
"Wah, nih bocah mulai songong ya? Ga pernah diajarin sopan santun sama orang tuanya ya Dek?" Kata si gondrong lagi. "Gue kesini cuma minta uang keamanan. Cepet bagi duit!" Bentaknya, sambil menggebrak meja kasir.
"Emang toko saya ga aman kenapa? Justru kalian yang bikin toko saya ga aman. Pada bisa mikir ga sih, dasar bubuk rengginang!" Zee meninggikan suaranya.
"BERANI-BERANINYA LU BENTAK-BENTAK GUE! CEPET PANGGILIN YANG PUNYA TOKO INI!" Gertak si gondrong.
"GUE!" Jawab Zee tak kalah ketus.
__ADS_1
"Jadi Adek kecil ini pemilik toko ini?" Dia menatap tajam ke arah Zee dari kepala hingga ujung kaki. "Cepet bagi duit!" Kata si Gondrong tapi kali ini dengan nada yang biasa saja, seolah mengganggap remeh wanita mungil di hadapannya.
"Enak aja, saudara bukan, ponakan bukan pake minta-minta duit, bapak gue aja masih gue palakin duit, lah elu berani-beraninya minta duit ke gue. Kerja dulu kalo mau duit! Mending lu manfaatin tuh otot-otot lu buat banting-banting adonan roti!"
"Heh bocah lu ga takut sama gue? Lu ga liat ini?" Sambil menunjuk tato naga yang dibuat melingkar di tangan kirinya.
"Tato uler?" Jawab Zee santai.
"Liat sama lu bocah!" Bentaknya.
"Emang apaan sih Bang? warnanya udah mulai pudar sih. Masa iya cacing? Eh bukan, bukan. Tokek ya? Eh bukan,bukan, itu— ih apa tuh? Oh iya aku tau, buaya!" Seru Zee dengan semangat seperti sudah menjawab sebuah kuis dengan hadiah puluhan juta.
"Wah bener-bener ngelunjak nih cewek, kudu dikasih pelajaran." Preman gondrong itu murka.
"Gue udah kenyang belajar 12 tahun di sekolah ditambah 4 tahun di kampus. Kurang belajar gimana lagi? Lagian si Abang kagak nyadar diri, udah tau kulitnya buluk, pake ditato, ya iya jelas burem lah gambarnya."
Mendengar perkataan Zee, semua orang yang ada di toko itu langsung menahan tawa mereka. Termasuk si Kutilang darat teman duetnya.
Zee yang sudah tak bisa lagi menyembunyikan kemarahannya langsung meraih tangan preman yang mencengkram kerah kemejanya, dengan sekejap mata dia memutar tangan buluk tersebut ke belakang punggungnya yang membuat sang pemilik tangan buluk itu meringis kesakitan kemudian membenturkannya ke salah satu etalase kaca yang ada di depannya. Dan seketika itu pun sang preman Gondrong buluk itu langsung pingsan, dengan darah yang mengalir segar dari pelipisnya.
Untung etalasenya ga kenapa-napa. Kan mehong harganya. Pesanan khusus soalnya. Gumam Zee sambil menilik etalase yang berisi aneka ragam roti.
Melihat teman duetnya terkapar sang Kutilang darat maju untuk mengarahkan tinjunya ke arah Zee, tapi sebelum tinjunya mendarat, Zee sudah mendaratkan kakinya di dada rata Sang Preman Kutilang. Dia pun terpental ke belakang dan tepat di samping meja Iren yang kini hanya bisa meneguk ludahnya melihat Zee mengalahkan kedua hama tersebut.
Dengan kerennya Zee meregangkan otot-otot leher dan jari-jarinya hingga terdengar bunyi krek, krek dari tiap ruas tulang leher dan jari-jarinya.
"Berdiri lu!" Perintah Zee pada preman yang baru ia jatuh kan.
Dengan kaki gemetar dia segera bangkit dari duduknya, dan kini tubuhnya sudah menempel di tembok dengan tubuh menghadap Zee. Melihat gelagatnya yang akan kabur Zee kembali mendaratkan kaki kanannya di dada preman kunyang itu dan menekan dadanya dengan kuat.
__ADS_1
"Mau kabur kemana lu?"
Tak ada jawaban dari orang yang ia ajak bicara, dia memukul-mukul kaki Zee yang sedang menguncinya dengan tenaga yang masih tersisa agar dapat terlepas dari kaki si pemilik toko.
"Masih berani lu ngusik kehidupan gue?" Tanya Zee, tapi tatapannya tertuju lurus ke arah Iren yang kini pucat pasi. "Jangan mimpi lu mau ngusik hidup gue lagi, atau lu yang akan dapat hadiah yang lebih besar dari ini." Kali ini Zee dengan jelas melihat Iren berusaha menelan ludahnya dengan kasar.
Akhirnya latihan Taekwondo sama Karate gue bisa gue pake dan gue pamerin disaat yang tepat. Ga sia-sia latihan dari TK sampe SMA. Hahaha...
Preman yang dia pojokan itu menggelengkan kepalanya dengan kasar, karena dia sudah sulit untuk bernafas.
Zee melepaskan kuncian nya, dan preman itu pun jatuh tersungkur seketika. Disaat yang bersamaan Guntur memasuki toko kue istrinya dan kaget melihat kekacauan yang terjadi. Dia tadinya hanya ingin mengantarkan handphone Zee yang tertinggal di mobilnya, tapi kini dia terkejut melihat seorang preman yang tergeletak tak sadarkan diri dengan wajah penuh darah, dan satu lagi preman sedang tersungkur sambil terbatuk-batuk di lantai.
"Ada apa ini sayang?" Guntur panik tingkat galaksi.
Zee menghambur ke pelukan suaminya dan kembali ke wujud aslinya. Manja, seperti biasa.
"Liat Say, dua kancing kemeja aku copot gara-gara ditarik preman itu." Rengek Zee. "Leher aku juga lecet kayaknya, perih banget kena kukunya yang kotor, aku harus ke dokter sekarang, takut kena infeksi virus yang serius." Kata Zee masih dalam mode merengek.
Guntur yang melihatnya langsung murka kepada preman baru saja siuman itu.
"Lu apain bini gue bangs*t?"
Bugh, bugh, bugh, bugh!
Guntur mendaratkan pukulan kepada Preman yang baru siuman.
Ya Allah Bang, harusnya abang nanyanya apa yang bini abang lakuin sama kita sampe kayak gini? Batin si Kutilang Darat melihat temannya yang kembali pingsan.
Kaget bingitz Otor tuh gengs..
__ADS_1
Zee emejing banget ya? 😍😍