
Kala mentari masih malu menampakan wajah cerianya, Zee sudah disibukan dengan membuat sarapan untuk suami tercintanya.
Pagi ini Guntur akan berangkat ke kantor satu jam lebih awal dari biasanya. Karena dia akan mempersiapkan acara kerjasama perusahaannya dengan perusahaan properti yang cukup terkenal di kalangan rakyat menengah ke atas.
"Masak apa Yang?" Memeluk mesra pinggang kecil istrinya dan mengecup singkat pipi Zee yang tengah sibuk memasak.
"Nasi goreng kunyit dengan ektra cabe."
"Aku ngiler dengernya."
"Duduk manis di meja makan sonoh! Bentar lagi mateng." Tanpa mengalihkan pandangannya dari wajan yang berisi nasi goreng yang sedang ia masak.
"Aku pengen kayak gini aja. Kan kayak di drakor-darkor yang sering kamu liat."
"Awas ah ribet tau. Aku mana bisa gerak kalo kamu nempel mulu kayak gini." Kali ini dengan nada yang naik satu oktaf.
"Iya, iya jangan marah gitu donk Yang, aku kan cuma merealisasikan semua yang ada di imajinasi kamu kalo lagi nonton drakor." Melesat pergi ke meja makan. Karena takut sutil yang ada ditangan istrinya berpindah arah ke kepalanya.
Tak sampai 10 menit menunggu, sepiring nasi goreng kunyit plus telor ceplok, sudah ada dihadapan Guntur.
"Kamu apa-apaan sih, kok cuma pake boxer doang?" Bentak Zee yang melihat suaminya hanya mengenakan boxer dan bertelanjang dada.
"Cuma kamu doang ini yang liat, aku telanjang ga pake apa-apa juga oke-oke aja kan?" Jawab Guntur santai sambil menyuapkan sesendok nasi goreng buatan istri cerewetnya.
"Yang, kok masakan kamu enak banget sih? Perasaan aku, dulu masakan mama aku yang terlezat."
"Karena ada cinta yang terselip diantara cincangan bawang putih dan bawang merah. (Eaaa,,,Eaaa)" Jawab Zee dengan nada yang dibuat sensual mungkin.
Seperti hari-hari sebelumnya, Guntur mengantarkan istri tercintanya sebelum berangkat ke toko, walaupun lokasinya yang berbeda arah. Tapi dia selalu dengan setia mengantar jemputnya setiap hari.
"Nanti sekitar jam sembilan Aldi yang anter kue ke kantor kamu."
__ADS_1
"Kamu kenapa sih ga pernah mau datang ke kantor aku?"
"Bukannya ga mau Say, tapi aku kan bosnya, bukan kurir. Masa bosnya sendiri yang ngirim kue, terus buat apa aku punya pegawai?" Alibi Zee, padahal sebenarnya dia masih tidak percaya diri dengan dirinya sendiri yang hanya seorang pemilik toko kue kecil, sedangkan suaminya adalah seorang dengan jabatan yang lumayan tinggi di kantornya.
Guntur menggenggam erat tangan Zee, karena dia pun tahu apa alasan Zee tidak pernah mengunjunginya di kantor.
*
"Mbak gimana nih, ampe jam segini Aldi belum datang juga." Kata Lia panik, karena jam sudah menunjukan pukul 08.30, tapi Aldi belum menampakkan batang hidungnya.
"Udah kamu telpon?" Tanya Zee yang juga ikut panik.
"Ga ada jawaban Mbak, Hpnya sih aktif."
Ting,
Sebuah chat masuk ke Hp Zee.
"Ibunya Aldi sakit, dia ga bisa datang. Kamu bisa bawa motor kan?" Tanya Zee pada Nita.
"Tapi aku gak tau lokasinya Mbak."
"Kita kesana sama-sama." Jawab Zee tegas. Karena dia tidak mau mempermalukan suaminya hanya gara-gara pesanan kue untuk dijadikan snack yang telat datang.
30 menit kemudian motor matic yang Nita bawa sudah terparkir dihalaman kantor Guntur yang megah dan menjulang tinggi.
"Kamu balik lagi aja ke toko, takuta anak-anak keteteran. Biar aku nanti pulang dianter supir."
Zee setengah berlari ke meja resepsionis.
"Mbak ini pesenan kuenya, maaf agak telat, seraya meletakan dua pelastik besar berisi box-box berisi kue untuk dijadikan snack pada acara rapat.
__ADS_1
"Simpen disini aja nanti biar satpam yang anter ke atas." Jawab sang resepsionis acuh dan tanpa kata-kata terimakasih keluar dari kedua mulut resepsionis itu, sebab mereka tidak tahu bahwa Zee adalah istri bos mereka.
Zee berbalik arah, dia hendak menelepon supir kantor suaminya, tapi dia lupa membawa handphone, karena sedang ia isi daya di toko.
"Mbak bisa tolong kasih tau, ruangan Pak Guntur di sebelah mana ya?"
Kedua resepsionis itu hanya saling berpandangan kemudian mengalihkan pandangan mereka ke arah Zee dengan wajah sinis.
"Emang Ade ada perlu apa nanya-nanya ruangan atasan kami?"
Deg,,,
Hati Zee sakit mendengar pertanyaan dari salah satu dari mereka yang di nametag nya bertuliskan nama Tami.
"Saya ada perlu, bisa tolong panggilkan kesini?" Pinta Zee masih dengan nada sopan.
"Emang Mbak itu siapanya?" Jawab rekan kerja satunya, dan setengah mencibir ke arah Zee.
"Gue bininya!" Zee mulai emosi karena mendapat hinaan dari karyawan suaminya.
"Kalo Ade bininya saya istri keduanya." Masih dengan nada mengejek.
"Heh berani-beraninya lu panggil-panggil gue Dek, kapan Emak gue ngelahirin anak model lu?"
Disaat yang bersamaan Iren dan beberapa orang lainnya memasuki ruangan itu. Dia nampak anggun dengan setelan kerja yang stylish dan powerfull.
"Mbak, ruangan tempat rapatnya dimana ya?" Tanya Iren tanpa melirik Zee sedikitpun seolah dia tidak pernah bertemu dengan Zee sebelumnya.
"Mari saya antar." Kata salah satu resepsionis dengan nada sopan, dan sedikit membungkukkan tubuhnya untuk mempersilahkan mereka lewat.
Iren membalikan wajahnya dan tersenyum miring ke arah Zee.
__ADS_1
"Pulang sana Dek. Jangan bikin rusuh disini."