
Cuaca amat sendu, awan kelabu menyelimuti setiap sudut kota, sepertinya langit akan menumpahkan kesedihannya pagi ini.
Cuaca hari ini amat sangat serasi dengan suasana hati seorang gadis yang kini sedang berada di depan cermin yang sedang menyapukan sedikit blush on ke pipinya.
"Semudah itu kamu lupain aku? Apa kekuranganku? Aku wanita yang hampir mendekati sempurna." Dia berbicara pada dirinya sendiri di depan cermin.
Dia berjalan lesu ke luar kamarnya sambil menenteng tas branded puluhan juta miliknya, duduk di meja makan seorang diri. Dan ini terjadi hampir setiap hari.
Percuma punya meja makan dengan banyak kursi, tapi yang makan cuma aku sendiri.
"Non mau sarapan apa?" Tanya seorang wanita paruh baya yang menjadi kepala pelayan di rumahnya.
"Ga usah. Aku sarapan di luar aja." Beranjak dari kursinya dengan angkuh. " Singkirin meja makan ini! Percuma jadi pajangan doang. Aku udah muak liatnya." Dan pergi meninggalkan kepala pembantu itu dengan kunci mobil di tangannya.
Ya, kalian pasti sudah tahu dia adalah Irene, seseorang yang pernah sangat Guntur cintai. Selama mereka pacaran Guntur selalu memberikan perhatian penuh terhadapnya, yang tidak pernah ia dapatkan dari orang tuanya yang terlalu sibuk mencari uang. Ya, uang, uang, dan uang, keluarganya lebih mementingkan uang daripada putri semata wayangnya itu, sehingga dia tumbuh menjadi seorang gadis mandiri, angkuh, sombong dan tidak berprikemanusiaan. Tapi itu dulu, semenjak mengenal dan mendapatkan perhatian dari Guntur dia berubah menjadi gadis manis, layaknya perempuan pada umumnya. Guntur selalu bisa membuatnya bahagia dan selalu bisa menghiburnya dikala sedih.Β
Itu sebabnya Irene begitu sulit menerima saat Guntur memutuskan hubungan mereka secara sepihak.Β
Guntur adalah orang pertama yang membuatnya bahagia, menjadikan dirinya seseorang yang penting bagi dirinya, mengenalkannya arti sebuah rasa cinta. Dan Guntur pula lah orang pertama yang membuatnya merasakan sakitnya patah hati dan menderita.
Setelah empat tahun, dia masih sulit untuk melupakannya, tapi apa yang terjadi pada Guntur, dia dengan mudahnya merelakannya dan memilih hidup bahagia dengan wanita yang levelnya jauh dibawah dirinya dipandang dari sudut manapun.
Pagi ini tak biasanya dia menggunakan mobil sport terbarunya untuk dia bawa ke kantor. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini hanya dia dan Tuhan yang tahu
*
__ADS_1
"Mbak, liat mobil baru masuk ke parkiran kita, keren banget ya!" Kata Aldi, dia tak berkedip memandang sebuah mobil dengan harga puluhan miliar itu.
Hingga seorang wanita cantik dengan gaya yang fashionable turun dari pintu mobil yang ditarik ke atas tersebut.
"Mbak Liat deh, itu kan Mbak Irene."
Zee yang kala itu sedang sibuk mengajari salah satu karyawannya menyusun roti, langsung menghentikan kegiatannya, dan beralih ke parkiran tokonya.
Pamer mobil baru tuh maksudnya ke gue?
Ntar gue pamer c*pang di dada gue biar dia kepanasan**.
"Pagi Mbak Irene." Sapa Aldi. "Mau sarapan apa hari ini?"
Iren hanya tersenyum sambil memilih-milih roti dan pastry yang akan jadi menu sarapan paginya. Sedangkan Zee pura-pura acuh dengan kedatangannya, sambil terus memberikan pengarahan kepada beberapa karyawan tokonya.
"Bisa temenin aku ngobrol?" Tanya Iren pada Zee.
Zee hanya mengangguk dan mengikutinya ke meja tempatnya duduk.
"Ada apa? Langsung aja!" Zee to the points.
"Oke, sepertinya kamu tahu maksud aku. Aku mau rebut Varo kembali dari kamu!" Irene blak-blakan. "Aku bakalan bikin Varo jatuh cinta lagi sama aku!"
Zee menyunggingkan satu sudut bibirnya.Β
__ADS_1
"Tapi gimana kalo suami saya yang ga mau lepas dari saya? Bukannya kamu liat sendiri betapa cintanya dia sama saya?" Tantang Zee. "Aku juga tau preman yang kemarin malam itu pasti suruhan kamu kan! Cara kamu mendapatkan hati suami saya itu terlalu kuno." Sindir Zee.
Iren tersenyum miring sebagai jawaban dari pernyataan Zee.
"Ternyata kamu ga sebodoh yang aku kira ya?" Iren membalas sindiran Zee. "Kamu harus mempersiapkan diri untuk dicampakkan oleh Varo. Karena aku akan melakukan semua kelicikan ku untuk mendapatkan hati Varo kembali!" Tantang Iren.
"Cih,,,Dasar wanita murahan, gaya fashion mu ternyata ga sebanding dengan kelakuan mu yang rendahan. Ingin merebut suami saya? Itu ga kan mudah Ferguso!" Zee mencibir. "Dia sudah terlalu mencintai saya."
"Tapi itu dulu, sebelum aku kembali ke kehidupannya, tadinya aku ingin merelakan dia, tapi waktu aku liat istrinya jauh levelnya dibawah aku, aku jadi semakin ingin merebutnya kembali. Kamu ga pantas buat Varo!" Jawabnya lagi.
Zee bisa saja dengan mudah menjambak, menarik dan melemparkannya ke luar, tapi tak dilakukannya. Dia hanya mengepalkan tangan di atas pangkuannya.
"DUIT!!!"
Terdengar suara Bariton menggema di toko kecil Zee, sehingga membuat seluruh mata pengunjung toko tertuju pada asal suara tersebut, begitu pun ZeeΒ yang tak kalah terkejutnya.
Jeng,,,
Jeng,,,
Apakah itu suara Guntur yang minta uang buat beli bensin?
Atau suara Iren yang ternyata adalah seorang wanita jadi-jadian?
πππ
__ADS_1
Ditunggu jawabannya Shaaaaayyy..πππ