Istri Pilihan Aki

Istri Pilihan Aki
Pembuktian


__ADS_3

Guntur segera menggendong Zee ke pelukannya tanpa mempedulikan para preman yang tersungkur ataupun Iren yang shock di salah satu sudut meja.


"Buka!" Perintah Guntur pada salah seorang pelanggan yang tengah berdiri di depan pintu toko kue itu.


Dia memperlakukan Zee seolah dia lah korban yang semestinya langsung segera di tolong. Tanpa mempedulikan tatapan mata pengunjung yang seperti tidak setuju dengan perlakuan Guntur untuk istrinya.


Semua orang yang berada di toko kue Zee, tidak habis pikit dengan kelakuan pasangan suami istri aneh itu.


Yang bonyok siapa yang dibawa ke rumah sakit siapa. Itu pikir mereka


Apa dia ga tau kalo bininya yang udah bikin preman itu keok?


Suaminya sayang banget ya sama istrinya!


Itu bininya diem aja lagi diperlakukan begitu sama lakinya. Batin mereka.


Belum lagi komentar-komentar yang mereka ucapkan secara langsung.


"Pak salah bawa korban tuh!"


"Lah, kagak kebalik ini? Masa si pelaku yang dibawa ke rumah sakit?"


"Nasib mereka gimana ini ceritanya?"


Dan banyak lagi komentar- komentar yang mereka semua lontarkan melihat kelakuan Guntur yang terlihat sangat khawatir dengan kondisi istrinya.


*


"Aku ga apa-apa Say." Kata Zee melihat kekhawatiran di wajah suaminya, dia jadi merasa bersalah karena telah membuat suaminya khawatir.


"Fisik kamu emang ga kenapa-napa, tapi aku yakin kamu syok liat kejadian tadi." Jawab Guntur tegas sambil menggenggam erat tangan Zee. dengan sebelah tangannya.


"Tapi Say. "

__ADS_1


Belum juga Zee menyelesaikan kalimatnya, handphone Guntur berdering, segera ia meletakkan earphone ditelinganya untuk menjawab panggilan telepon dari Dimas.


"Lu dimana?"


"Arah ke rumah sakit. Bini gue diserang preman." Jawab Guntur yang masih terdengar kepanikan di suaranya.


"Tolong lu urus kantor dulu, terus lu kirim laporannya ke email gue!" Lanjutnya.


"Ok, siap Bos. Gue harap bini lu baik-baik aja."


Sambungan telepon pun terputus.


"Kita ke kantor kamu aja, kayaknya kamu lagi banyak kerjaan." Pinta Zee, dia begitu tidak nyaman dengan situasi ini.


"Say, aku beneran ga apa-apa, aku yang udah bikin mereka keok tadi itu. Emang kamu ga tau Say kalo aku ini atlet taekwondo waktu masih sekolah!" Zee berusaha meyakinkan suaminya.


"Kita balik lagi aja ya!" Zee masih berusaha merengek kepada suaminya.


🐣🐣🐣


Zee sudah berada di ruangan rumah sakit tempat Fabian bekerja. Sekitar 10 menit menunggu, akhirnya Fabian datang ke ruangannya dengan tergesa-gesa.Β 


"Kenapa Adek gue?" Tanya Bian dengan napas tersengal-sengal ketika masuk ke ruangannya, sepertinya dia sudah berlari sekencang-kencangnya untuk menemui mereka.


Zee hanya mengangkat bahunya dan melirikan matanya ke arah Guntur yang sedang melakukan pembicaraan di telpon, seolah dia menyuruh Bian untuk bertanya kepadanya.


"Lu udah datang Bi?" Tanya Guntur yang baru selesai melakukan panggilan telepon nya dengan salah satu pengurus perusahaan.


"Ada apa?"


"Dia diserang preman tadi pagi." Jawab Guntur kembali dalam mode panik, sambil mengelus-ngelus rambut Zee yang sedang terduduk di kursi kerja kakaknya.


"Kok bisa? Mang elu ga serang balik Dek?" Kali ini Bian yang balik tanya kepada Zee.

__ADS_1


"Kok lu bisa-bisanya balik nanya gitu ke bini gue?" Timpal Guntur yang tidak Terima istrinya dibentak Kakaknya.


Zee hanya bisa menenggelamkan wajahnya di meja kerja kakaknya, dia sudah bingung harus menjelaskan bagaimana lagi kepada suaminya jika dialah pelaku kekerasan terhadap kedua preman tadi.


"Lah kan dia atlet Taekwondo sama karate. Masa iya ngelawan preman aja ga bisa. Jangan bilang kalo preman yang nyerang lu jago beladiri juga!" Tanya Bian yang kini nada bicaranya sudah seperti Guntur, terlihat kekhawatiran di wajahnya ketika menatap Zee, dia takut preman yang dia lawan memang tak sebanding dengan keahlian bela diri yang dia miliki.


"Boro-boro ahli bela diri, orang sekali tendang aja langsung ambruk." Jawab Zee santai.


Kali ini Guntur melirik ke arah istrinya dengan wajah penuh tanya, dan seolah meminta jawaban yang lebih detail.


"Say, aku ga kenapa-napa, sekarang kamu percaya kan kalo aku yang udah bikin mereka keok?"Β 


Tapi Guntur masih belum percaya dengan apa yang dijelaskan istrinya.


Masa iya badan setinggi keteknya bisa memiliki kekuatan yang bisa membuat preman itu keok?


"Bini lu itu pemegang sabuk tertinggi di Taekwondo, gue aja kalah kalo lawan dia." Jawab Bian santai setelah tahu adiknya baik-baik saja.


Guntur semakin bingung, karena setau dia Bian jago dalam bidang Taekwondo, masa iya kalah melawan istri mungilnya, bahkan dia tahu Fabian sering ikut kejuaraan tingkat nasional segala. Pandangannya masih tertuju kepada istri kecilnya dan masih tidak percaya jika si mungil itu adalah atlet taekwondo seperti yang diceritakan Bian.


"Sekarang kamu percaya?" Tanya Zee.


Tapi Guntur tidak menanggapi. Raut wajah khawatirnya terganti dengan raut wajah bingung.


Zee melangkahkan kakinya mendekati Guntur yang masih kebingungan.


"Apa perlu aku liatin ke kamu?"


Tak ada jawaban dari Guntur, dia masih mencerna semua info yang baru saja dia dapatkan.


Tanpa ba-bi-bu lagi dia mendekati Fabian yang berdiri dihadapannya kemudian membanting dokter muda itu di hadapan suaminya.


"SAKIT B*GO!" Dia meringis kesakitan. "Izin dulu kek lu, maen banting gue aja. Jadi kan gue ada persiapan. Untung gada yang liat. Bisa ancur reputasi gue kalo sampe ada yang liat gue dibanting sama jenglot." Fabian mengomel sambil mengusap-usap bokongnya.

__ADS_1


__ADS_2