Istri Pilihan Aki

Istri Pilihan Aki
Hadiah Perpisahan


__ADS_3

Zee, Guntur dan keluarga kecil Fabian meninggalkan Bali keesokkan harinya. Zee hanya bisa cemberut tanpa bisa menolak perintah suaminya.


"Jangan cemberut gitu dong Yang, ntar besok-besok kita bisa kesini lagi." Bujuk Guntur.


"Aku masih kesel banget Say, banyak jadwal yang belum terlaksana disana, aku belum snorkeling, belum ke pantai Lovina, padahal itu tempat yang bener-bener aku pengen kunjungi, aku pengen liat sekumpulan lumba-lumba berenang di laut lepas secara langsung."


"Ngebet banget sih lu Dek pengen ketemu sama  sodara-sodara lu." Ejek Fabian.


"Yang penting jadwal bikin junior ga pernah terlewatkan sama kita Yang."


"Tapi kan kemaren ga jadi, baru juga mulai gr*pe-gr*pe eh datang para dedemit itu."


"Entar kita terusin lah di rumah."


"Hadeuuuuhh, lu kenapa ketularan adek gue sih  Tur?" Tanya Fabian yang tak habis pikir mendengar kemesuman adik dan sahabatnya itu. "Dek, obat sama vitamin yang dikasih dokter kamu minum kan tiap hari?"


"Diminum lah, tapi kalo sampe belum jadi juga gimana Kak?"


"Ya kita honeymoon lagi, keluar negeri kalo perlu supaya ga da yang ganggu." Jawab Guntur santai saat melihat kekhawatiran di wajah istrinya.


Sesampainya di Jakarta, Guntur segera menghubungi Dimas, kemudian menitipkan Zee kepada Fabian dan Nana.


"Kamu di rumah Fabian dulu ya, nanti aku kirim beberapa pengawal buat ngejagain kamu disana. Aku harus ketemu Dimas dulu, kalo udah beres aku jemput."


"Aku mau nyalon aja deh Say."


"Kamu di rumah Bian aja, nanti aku kirim terapis buat massage kamu!"


*


Guntur kini sudah berada di apartemen Dimas.


"Gimana ceritanya sih lu sampe di serang gitu? Mang kalian punya salah apa?"


"Mereka cuma nyerang bini gue Dim. Kayaknya Iren dalang dari semua ini. Nih gue nemuin topi di samping villa gue, gue kira dia cuma mau maling, tapi setelah gue sambung-sambungin kayaknya dia juga salah satu orang yang nyerang kita." Sambil menyerahkan topi yang bertuliskan Jefe beserta nomer teleponnya.


"Emang orang yang nyerang lu orang Spanyol?" Tanya Dimas.

__ADS_1


"Kayaknya sih masih orang kita, mang napa?"


"Jefe kan artinya Bos, dalam bahasa Spanyol."


Kata Dimas yang dulu memang pernah tinggal beberapa tahun di Spanyol.


"Nenek Iren kan orang Spanyol. Waktu kecil dia diurusin neneknya sampe SMP. Coba gue telpon lagi!"


Guntur menekan tombol hijau di handphonenya.


"Halo? Ada apa Var?"


"Bisa kita ketemu?" Dengan nada senatural mungkin.


"Bukannya kamu di Bali?"


"Kok kamu tau aku ke Bali?"


"Mmmh,,, kemaren aku ke toko kue istri kamu, katanya kalian lagi jalan-jalan di Bali." Jawab Iren sedikit gugup.


"Oke, ntar kamu share lokasinya ya!" Iren terdengar semangat.


Kafe☕🍰


"Kamu udah lama nunggu?" Tanya Iren, sambil tersenyum lebar melihat Guntur hanya seorang diri menemuinya.


"Hmmm." Jawab Guntur menutupi kemarahannya.


"Ada kepentingan apa sama kamu? Tumben ngajakin aku ketemuan di luar gini?" Iren masih belum curiga sedikitpun. Bahkan dia memesan ice cream kepada pelayan kafe, sebagai teman ngobrolnya dengan sang mantan.


"Sebenarnya aku paling ga suka ngancem-ngancem orang, apalagi perempuan yang pernah aku sayangi."


"Maksud kamu?" Tanya Iren sambil menyendokan ice cream coklat bertabur buah yang baru diantarkan pelayan Kafe ke mejanya.


"Aku kesini cuma mau ngasih tau ke kamu untuk jangan pernah mencoba mengganggu istri aku lagi!" Dengan nada penuh penekanan dan sedikit mengancam.


Mendengar itu, tanpa sengaja Iren menjatuhkan sendok ice creamnya, karena kaget dengan kata-kata yang diucapkan Guntur.

__ADS_1


"Sepertinya kamu udah ngerti maksud aku." Guntur melirik sinis ke arah Iren yang tertunduk diseberang mejanya.


"Tadinya aku ingin kita masih bisa menjalin hubungan, walaupun hanya sekedar hubungan pertemanan, karena bagaimanapun kamu pernah berarti buat aku. Tapi setelah kelakuan konyol kamu yang hampir membuat istriku celaka, sekarang bahkan untuk melihat wajahmu saja aku sudah merasa jijik." Sambung Guntur. "Pergi dari negara ini atau aku akan nuntut kamu dan juga perusahaan ayah kamu, karena udah mengirim utusan mereka buat nyelakain istriku." Ancam Guntur.


Tak ada kata-kata sanggahan keluar dari mulut Iren. Karena dia sangat mengenal Guntur, ancamannya bukan hanya gertakan semata. Dan itu bahkan bisa lebih fatal dari gertakannya bila dia masih memilih untuk berada disini.


"Kenapa kamu tega sama aku Var?" Dengan nada bergetar menahan amarahnya, Iren memberanikan diri membuka mulutnya.


"Tega kenapa? Apa salah aku sama kamu sebelumnya? Atau jangan-jangan selama ini kamu masih menyimpan perasaan sama aku?"


"Ya, perasaan aku ke kamu masih sama Var. Teganya kamu mutusin aku secara sepihak, dan tega ninggalin aku yang lagi terpuruk hanya untuk menikah sama perempuan kelas rendahan seperti dia. Apa yang kurang dari aku? Aku bahkan jauh lebih baik dari segi apapun dibanding istri kamu itu." Iren kini sudah tidak bisa mengontrol kata-katanya.


"Kamu kira dulu aku mudah ngelupain kamu? Bohong kalo aku bilang aku ga patah hati waktu aku memutuskan hubungan kita, bahkan pernah terfikir olehku untuk meninggalkan keluargaku untuk bisa bersamamu." Ucap Guntur dengan nada sedikit lebih tinggi dari biasanya.


"Hampir setiap hari aku menolak perjodohan itu, sampai-sampai dulu aku sempat membujuk istriku untuk membatalkan perjodohan kita. Tapi pada akhirnya aku sadar aku ga bisa menolak takdir, karena bagaimanapun kerasnya aku menolak jika takdir aku itu dia mau gimana lagi? Dari saat itu aku mulai membuka hatiku untuknya. Dan sampai sekarang aku tak pernah menyesali pernikahan ini." Ucap Guntur mencoba mengingat kembali momen-momen patah hatinya dia saat harus berpisah dengan Iren. "Dan perlu kamu tau Ren, aku selalu merasa beruntung pernah kenal dan berhubungan denganmu." Jawab Guntur tegas dan itu membuat Iren semakin sakit mendengar pernyataan terakhir yang Guntur keluarkan.


"Tapi aku masih sangat mencintaimu Var?" Sambil bersimpuh dihadapan Guntur yang hendak beranjak dari kafe itu, sehingga membuat mereka jadi bahan tontonan.


"Itu bukan cinta Ren, tapi ob.se.si." Sambil menepiskan tangan Iren yang menggenggam tangannya, dan pergi meninggalkan Iren.


Iren dengan cepat berlari dan meraih tangan Guntur sehingga otomatis membuat Guntur membalikan tubuhnya, disaat yang bersamaan Iren mencium bibir Guntur.


"Anggap itu hadiah perpisahan dari aku!" Responnya dingin dan kembali meninggalkan Iren yang kini terduduk dilantai kafe itu.


Zee : Makasih Thor, aku suka,,,aku suka… (Tanpa tau adegan terakhirnya)


Author : Gue..,😎😎😎 (tampang sombong)


Guntur : Makasih Thorrr, udah dibolehin dapet ciuman Iren, Lumayan.


Author : Dasar laki-laki, tadi dingin banget ngomong ke si Iren, sekarang malah kesenengan.


Guntur : Jangan sampe bini gue tau ya Thorr


Author : Kasih gue ciuman terhot lu dulu donk!😉😉


Guntur :🤮🤮🤮

__ADS_1


__ADS_2