
Usia kandungan Hana sudah mulai memasuki minggu ke 40. Hana sedang duduk di kursi depan rumah sembari mengelus perutnya. Hana pun tersenyum sendiri di saat iya merasakan gerakan bayinya. Hana pun sambil berbicara dengan calon bayinya.
"Sayang.. sebentar lagi kamu akan bertemu dengan mama dan juga papa.. sehat-sehat ya, di dalam.. mama tidak sabar ingin segera bertemu denganmu nak.." Ucap Hana kepada calon anaknya.
Hanum yang melihat itu, langsung memutar bola matanya ke atas dan ke bawah. Hanum pun menggelengkan kepala. Iya pun akhirnya menghampiri Hana. Dan menegur Hana.
"Hana! Kamu ngapain berbicara sendiri? Kurang kerjaan aja kamu." Sungut Hanum. Hana pun tersenyum kepada ibu mertuanya.
"Aku sedang berbicara dengan calon anakku ma.. calon cucu mama.." Ujar Hana.
"Bayi masih belum pasti aja kok diajak bicara. Bayi kamu itu ga akan dengar apa-apa.." Ucap Hanum. Hana tidak menjawab perkataan mertuanya. Iya hanya mengangguk saja.
"Iya ma.." Jawabnya.
"Hana! daripada kamu berbicara sendiri ga jelas, dan cuma duduk santai aja.. mendingan Kamu beresin ini rumah, dan kamu masak!" Ujar Hanum.
"Tapi kan, sudah ada Almira ma.." Jawab Hana.
"Kamu ini menantu macam apa sih? Masak semuanya harus di kerjakan sama pembantu? Lalu, gunanya kamu disini apa? Cuma males-malesan gitu? Iya!" Sungut Hanum.
"Tapi ma?" Ujar Hana.
"Halah, ga ada tapi-tapian. pokoknya Aku ga mau tau. Kamu harus beresin ini rumah, lalu kamu masak. Jangan cuma mengandalkan pembantu doang. " Ujar Hanum. Hana pun hanya mengangguk dan mengiyakan perkataan ibu mertuanya itu.
"Iya ma.." Jawab Hana sembari menggelengkan kepala di belakang mertuanya.
Dengan perutnya yang besar dan merasa kesulitan ketika berjalan dan menunduk, Hana pun mengerjakan pekerjaan rumah. Hana merasa lelah dan iya pun beristirahat sebentar. Sembari memegang pinggangnya yang terasa sakit. Hana menghela nafas untuk sedikit mengatasi lelah. Tiba-tiba saja, Hanum melihat Hana yang sedang duduk santai. Hanum pun segera menghampiri Hana dan menegur Hana.
"Hana! ngapain kamu masih enak-enak duduk di sini? Emangnya pekerjaan kamu sudah selesai?" Sungut Hanum. Hana pun menjawab pertanyaan ibu mertuanya.
"Maaf ma.. Aku mau istirahat sebentar.. soalnya Aku lelah ma.." Jawab Hana.
__ADS_1
"Istirahat kamu bilang? Heh, baru cuma begini aja sudah bilang capek.. manja banget si kamu!" Ucap Hanum ketus.
"Aku kan lagi hamil ma.." Ucap Hana. Hanum pun kesal dengan jawaban Hana.
"Kalau dibilangin itu ga perlu jawab lagi.. kamu itu ngeyel ya.." Ujar Hanum ketus. Hana terdiam.
"Iya ma!" Jawab Hana. Hana pun melanjutkan pekerjaannya. Setelah selesai membereskan rumah yang besar itu, Hana pun melanjutkan masak. Hana masak untuk keluarga.
Dari balik itu, ada Almira yang memperhatikan Hana. Kebetulan Almira sedang ingin pergi. Karena iya ada janji dengan seseorang. Sebelum Almira pergi, Almira terlebih dahulu melihat pemandangan yang begitu enak di pandang.
"Rupanya sekarang, ada perubahan profesi nih, kayaknya sebentar lagi ada yang seorang ratu yang akan turun menjadi pembantu. Kayaknya, seru juga lihat pemandangan kayak gini.." Ujar Almira sembari menikmati sesuatu yang enak untuk dipandang oleh mata.
Karena merasa sudah puas melihat pemandangan itu, Almira pun akhirnya pergi. Iya merasa dia yang telah menjadi ratu di rumah itu. Lalu, Iya berpapasan dengan Hanum. Almira tentu saja sangat panik melihat Hanum. Almira langsung menundukkan kepala karena iya tidak berani menatap wajah Hanum. Karena bagi Almira Hanum adalah sosok yang menyeramkan. Pandangannya pun tajam.
"Ibu.." Sapa Almira. Hanum memandang Almira dari atas ke bawah. Hanum pun bertanya.
"Almira.. kamu mau kemana? Kelihatan rapi sekali." Tanya Hanum.
"Oh.. ini bu.. saya ada urusan sebentar." Jawab Almira.
"Almira.. hari ini kamu cantik sekali.. ya, wajar sih.. anak seusia kamu ini.. tapi penampilan kamu sangat modis lo.. jujur saya suka dengan penampilan kamu. Andai aja kalau menantu saya secantik kamu.. pasti Rendra setiap harinya senang. Tapi sayang... menantu saya buluk." Ujar Hanum memaki Hana di depan Almira.
"Wah, kayaknya lampu ijo nih.." Gumam Almira dalam hati. Rasanya Almira ingin tersenyum. Tapi iya tau tempat. Iya pun berpamitan kepada Hanum.
"Iya bu terimakasih atas pujiannya. Tapi maaf.. saya harus pergi dulu bu.. soalnya taksinya sudah menunggu di depan!" Jawab Almira.
"Oh.. iya Almira.. silahkan.." Ujar Hanum. Hanum pun masih memperhatikan Almira. Iya tidak ada henti-hentinya mengagumi penampilan Almira saat ini.
...****************...
Di sisi lain, Hana mulai merasakan ga enak di perutnya. Iya merasakan kontraksi di perutnya. Semakin lama, rasa sakit itu semakin parah.
__ADS_1
"Aduh.. sakit.. Aw.." Hana mulai tidak kuat. Iya memanggil mertuanya untuk minta tolong. Hanum mendengar teriakan Hana. Dan Hanum segera menghampiri Hana.
"Ada sih Hana? Kenapa kamu teriak-teriak?" Sungut Hanum.
"Ma.. tolong Aku ma.. perut Aku sakit ma.. Kayaknya Aku mau melahirkan.." Ujar Hana merintih kesakitan.
"Halah.. manja banget sih.. itu kontraksi palsu namanya.. kontraksi palsu bagi ibu hamil itu biasa! Bilang aja kalau kamu malas kan.." Sungut Hanum lagi.
"Ma.. Aku ga bercanda ma.. ini sakit ma.." Rengek Hana lagi.
"Hah! Sudah lah.. emangnya Aku peduli sama kamu!" Ucap Hanum. Sembari iya meninggalkan Hana dan tidak menghiraukannya.
Hana semakin tidak kuat menahan sakit. Iya melihat air ketuban sudah mengalir di kakinya. Hana semakin panik dan Hana semakin tidak kuat menahan sakit. Iya berusaha untuk menghubungi suaminya. Namun, Rendra sama sekali tidak menjawab panggilan dari Hana.
.
.
.
Sementara di luar sana, Rendra sedang asyik berduaan dengan Almira. Iya sedang bersenang-senang dengan Almira di dalam kamar. Tiba-tiba saja Rendra mendengar HP nya berbunyi. Rendra merasa sangat kesal.
"Siapa sih? Ganggu orang saja!" Rendra pun melihat HP nya. Ternyata itu dari istrinya. Tentu saja itu membuat Rendra sangat kesal. Lalu, Rendra pun menjawab telfon dari istrinya. Bukannya berbicara lembut tapi iya berbicara ketus terhadap Hana.
"Hana! Bisa ga, kamu ga usah ganggu Aku? Aku lagi sibuk meeting.." Ujar Rendra berbohong.
"Mas.. kamu pulang sekarang mas.. perut Aku sakit mas.. Aku mulai kontraksi.." Ucap Hana merintih kesakitan.
"Enak banget kamu ngomong.. pulang, pulang. Kamu pikir ini ga penting? Ini jauh lebih penting daripada kamu." Sungut Rendra. Tanpa basa-basi pun Rendra langsung menutup telfonnya.
"Halo mas.. mas.." Teriak Hana. Hana semakin kesakitan. Iya tidak bisa tahan rasa sakit itu. Hana mencoba untuk keluar dan meminta pertolongan orang lain.
__ADS_1