
Sinta membawa pergi Hana dari tempat itu.
.
.
Dalam perjalanan menuju kantor, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Hana. Sinta sesekali melihat ke arah Hana. Dan Sinta pun merasa kasihan kepada Hana. Sinta bisa merasakan apa yang sedang Hana rasakan. Dan Sinta mencoba untuk menguatkan Hana.
"Hana.. saya tau perasaan kamu saat ini. Tapi Hana, kamu harus sabar ya.. Dan kamu harus bersyukur karena Tuhan masih sayang sama kamu.. Tuhan telah menunjukkan bagaimana Rendra sama kamu.." Ucap Sinta.
"Iya Bu Sinta.. sebenarnya, saya sudah tau dari awal kalau mas Rendra itu selingkuh. Bahkan hubungan mereka seperti suami istri." Ungkap Hana.
"Apa? Jadi kamu udah tau lama tentang perselingkuhan Rendra?" Tanya Sinta terkejut. Hana menganggukkan kepala.
"Iya Bu.." Jawab Hana.
"Kenapa kamu diam saja Hana? Kenapa kamu ga mengambil tindakan? melaporkan Rendra, atau menggugat Rendra.." Ucap Sinta heran.
"Kalau saya mau, sudah saya lakukan dari dulu.. Apalagi, ibu mertua yang selalu mendukung Rendra dengan selingkuhannya.. Tapi, ada satu alasan saya untuk tetap bertahan.." Ujar Hana.
"Apa itu Hana, sehingga membuat kamu tersiksa seperti ini? Siapa yang sedang kamu jaga perasaannya?" Tanya Sinta.
"Ayah mertua saya Bu.. Dia sangat baik pada saya.. dia menitipkan Rendra kepada saya.. dan dia selalu minta maaf atas perbuatan istrinya kepada saya.. Dan dia selalu membela saya.. bahkan dia seperti ayah saya sendiri Bu.. sikap dan kesabarannya seperti ayah saya.." Ujar Hana. Sinta pun mengangguk paham dengan perkataan Hana. Kemudian Sinta pun memberikan saran kepada Hana.
"Hana.. jangan terlalu berkorban untuk orang lain Hana.. Pikirkan dirimu sendiri.. jangan biarkan Rendra menggantung kamu Hana.. Kamu berhak bahagia.." Ucap Sinta.
"Saya bisa bahagia walaupun seperti ini Bu.. jujur, saya sudah tidak ada rasa lagi terhadap Rendra.. saya sudah mati rasa padanya. mungkin, saya bertahan hanya sebatas status saja sekarang. Saya sudah tidak mau peduli lagi tentang dirinya.. Saat ini saya hanya menghargai perasaan ayah mertua saya.. selebihnya saya sudah tidak peduli.." Ucap Hana.
__ADS_1
"Kamu sabar ya Hana.. hanya ini yang bisa saya ucapkan sama kamu.. walaupun bersabar itu tidak mudah.. tapi, saya doakan semoga suatu saat Tuhan memberikan jalan terbaik untukmu." Ucap Sinta penuh pengertian.
"Aamiin.. terimakasih atas dukungannya Bu.." Ucapnya. Sinta pun hanya mengangguk.
...****************...
Rendra sudah merasa bebas di rumahnya. Karena Rendra bisa berhubungan dengan Almira sesuka hati dan kapan saja dia mau. Begitu juga dengan Almira. Iya juga merasa lebih leluasa untuk menjalankan misinya. Mereka merasa sangat leluasa mau berbuat apa di rumah Rendra. Ditambah lagi, Hanum alias mamanya Rendra sudah mendukung hubungan mereka. Dan lagi, papanya Rendra sedang tidak ada di rumah. Papanya Rendra sedang ada kerjaan di luar negeri.
"Sayang.. sekarang kita bisa berhubungan dimana aja tanpa harus sembunyi-sembunyi." Ujar Rendra.
"Iya dong sayang.. Aku juga bersyukur.. ternyata keberuntungan berpihak kepada kita.. semoga kita selamanya ya sayang.." Ucap Almira.
"Iya sayang.." Ujar Rendra.
Mereka sedang asyik bermesraan dimana posisi Almira sedang duduk di pangkuan Rendra. Mereka pun juga tidak ada rasa malu ataupun takut ketahuan lagi untuk bermesraan di mana saja. Rendra tidak segan-segan melakukan perbuatan mesum di rumah Rendra.
...****************...
"Sebentar lagi saya sampai rumah.. Aku ga sabar ingin bertemu dengan cucuku. Sudah lama sekali Aku tidak mendengar kabar darinya. Bahkan Hana juga jarang memberi kabar kepadaku semenjak dia pindah dari rumah." Ucap Adi.
.
.
.
Taksi yang dinaiki Adi telah sampai di depan rumahnya. Adi bergegas turun dan ingin cepat beristirahat. Setelah itu iya berniat ingin menemui Hana dan cucunya. Adi pun mulai masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Setelah Adi membuka pintu, Adi terkejut melihat suatu kejadian yang ada di depan matanya. Adi membulatkan matanya yang besar melihat kelakuan Almira dengan Rendra. Adi pun langsung berteriak kepada Rendra.
"Rendra!" Teriak Adi. Rendra dan Almira pun langsung terkejut dan menghentikan aksi mesum mereka. Rendra dan Almira tercengang ketika melihat Adi yang wajahnya mulai memerah. Adi langsung berjalan cepat menghampiri Rendra. Tanpa basa-basi, Adi langsung melayangkan pukulan terhadap Rendra.
Buk!
suara pukulan yang dilayangkan. Rendra hanya bisa memegang wajahnya yang dipukul oleh papanya. Iya tidak bisa berkata apa-apa. Begitu juga dengan Almira. Almira hanya menundukkan kepala tidak berani menatap wajah Adi.
"Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu melakukan hal serendah ini Rendra?" Tanya Adi dengan nada tinggi. Rendra tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh papanya. Dan Adi pun berkata lagi.
"Apa kamu sudah kehilangan akal sehat Rendra? Dimana akal sehatmu, dimana urat malumu Rendra? Kamu itu sudah menikah dan sudah punya anak. Kenapa kamu tega mengkhianati istri dan anak kamu?" Ujar Adi sembari menggelengkan kepala.
"Hana sudah tau tentang ini pa.." Jawab Rendra akhirnya.
"Walaupun Hana sudah tau, lalu kamu teruskan perbuatan bejat kamu? Sekarang papa mengerti apa yang dimaksud oleh Hana dulu.. Kenapa Hana tidak mau menceritakan semua perlakuan kamu terhadapnya kepada papa. Sekarang papa sudah tau jawaban yang dimaksud oleh Hana. Dasar kurang ajar kamu!" Ujar Adi dengan nada marah dan hendak melayangkan pukulan lagi kepada Rendra. Namun, Hanum menghentikan niat papanya itu.
"Stop!" Teriak Hanum sembari bergegas menghampiri mereka.
"Stop papa pukul Rendra. Ingat, Rendra itu anak kita.. sedangkan Hana, dia cuma orang luar. Ga ada hubungan darah dengan keluarga kita. Seharusnya papa membela Rendra bukan Hana." Ujar Hanum.
"Ibu sama anak, sama saja. Jelas-jelas Rendra ini bersalah.. kenapa sih mama selalu memanjakan Rendra? Ini akibatnya kalau mama terlalu memanjakan anak. Atau jangan-jangan, mama sudah tau kelakuan mereka? Dan mama malah mendukungnya." Ujar Adi langsung menebak. Dengan beraninya, Hanum mengatakan yang sebenarnya.
"Iya! Mama sudah tau semuanya. Dan mama mendukung hubungan mereka. Kenapa? Papa ga terima? Itu bukan urusan mama. Yang penting bagi mama Rendra bahagia dengan pilihannya." Ucap Hanum.
"Apakah Hana itu pilihan kita? Bukan ma.. Hana itu pilihan Rendra sendiri.. Kenapa sih mama ini sangat membenci Hana? Salah Hana apa?" Ujar Adi.
"Karena Hana itu hanya dari kalangan yang biasa. Tidak sekaya kita.. Dan Hana itu menyebalkan bagi mama.." Ucap Hanum kesal.
__ADS_1
"Keterlaluan mama. Keterlaluan kalian! Ok, mama bilang Hana juga orang luar kan? Sama kalau begitu, Almira hanya pembantu disini.. berarti dia orang luar juga.. yang ga ada kaitannya dengan keluarga kita. Sekarang juga, kamu pergi dari sini Almira.. saya ga sudi melihat wajah kamu. Dan mama pergi juga dari rumah ini.. karena mama hanya orang luar dan juga berasal dari kalangan orang yang biasa juga kan?" Usir Adi akhirnya.