
"Oh.. Aku ga ada niat apa-apa.. Lagian kamu siapa? Cuma mantan suami doang kan?" Ujar Veri.
"Saya memang mantan suaminya.. tapi saya masih ada hak terhadapnya.. sedangkan kamu bukan siapa-siapa kamu ada hak atas dia.. Paham!" Seru Rendra jengkel. Veri hanya tersenyum atas jawaban yang dilontarkan oleh Rendra.
"Hahaha.. setau saya yang namanya mantan suami itu sudah ga ada hak lagi atas istrinya.. tapi kalau tanggung jawab sama anak itu baru wajib. Dasar orang aneh!" Ucap Veri sembari menggelengkan kepala.
"Kurang ajar! Berani kamu sama saya hah? Kamu ga tau siapa saya?" Seru Rendra lagi dengan sombongnya.
"Saya ga perlu tau siapa kamu. Karena kamu ga penting bagi saya." Ucap Veri dengan santainya. Rendra tidak dapat menahan kekesalannya. Dan Rendra pun tiba-tiba saja melayangkan sebuah pukulan ke wajah Veri. Dengan tanggap Veri pun, menangkap tangan Rendra. Kemudian, mencengkram tangan Rendra dengan keras. Rendra merintih kesakitan. Veri hanya tersenyum ciut mendengar rintihan Rendra.
"Argh.. sakit..." Rintihnya. Veri semakin menggenggam tangan Rendra dengan sangat kencang. Dengan senyum puas di wajah Veri.
"Argh.. lepasin anj****.." Serunya dengan perkataan yang kasar.
"Cuma segitu kemampuan kamu? Mau sok jagoan lagi?" Ujar Veri.
"Ok-ok Aku menyerah.. tapi lepaskan tanganku sakit!" Serunya lagi sambil menahan sakit. Veri pun langsung melepaskan cengkraman nya. Seraya berkata
"Makanya, ga usah sok jagoan." Ucapnya. Kemudian Veri pun memasang helmnya lagi dan langsung pergi meninggalkan Rendra. Sambil mengibaskan tangannya karena sakit, sambil iya memperhatikan Veri dari belakang yang semakin menjauh.
"Sial! Kuat banget itu orang. Dasar sok jagoan lu.. cuma anak geng motor doang.." Serunya sambil menggerutu.
...****************...
"Bagaimana Veri? Apa kamu sudah mengantarkan Hana pulang?" Tanya Sinta.
"Sudah tante.." Jawabnya.
"Syukurlah.." Seru Sinta.
"Tapi, kamu mengantarkan dia dengan aman kan? Ga ada yang mengganggu kan cah bagus?" Tanya Sinta lagi.
"Aman tante.. cuma tadi ada sedikit gangguan!" Ungkap Veri.
"Gangguan apa?" Tanya Sinta penasaran.
__ADS_1
"Tadi di jalan, Aku dicegat oleh seseorang yang mengaku mantan suami Hana!" Ujarnya.
"Apa? Di cegat sama mantan suami Hana? Maksud kamu Rendra?" Ujarnya heran.
"Ya, Aku ga tau siapa namanya.. tapi yang jelas tadi dia mencegat saya.." Ungkapnya lagi.
"Benar itu Rendra.. memangnya untuk apa dia mencegat kamu Veri?" Tanya Sinta mulai khawatir.
"Ga ngerti tante.. yang jelas dia memberiku peringatan agar Aku menjauhi Hana.. Dan Aku dilarang untuk mengantar dia lagi.." Ungkap Veri.
"Ga ngerti lagi dengan jalan pikirannya Rendra. Apa sih maunya itu anak..?" Ucapnya sembari menggelengkan kepala.
Dari luar tiba-tiba saja ada keributan. Terdengar suara seseorang yang teriak-teriak. Sinta menjadi heran dan bertanya-tanya, siapa gerangan yang teriak-teriak memanggil namanya. Sinta dan Veri pun akhirnya menemui orang itu.
"Sinta, keluar kamu! " Teriak seorang perempuan itu.
Dor
Dor
Dor
"Hanum? Ngapain kamu gedor-gedor rumah saya? Ada urusan apa kamu dengan saya?" Seru Sinta heran.
"Kamu apakan anak saya? Sampai anak saya babak belur seperti ini?" Ujar Hanum emosi sembari menunjuk ke arah wajah Rendra yang lebam. Sinta mengernyitkan dahi karena heran dengan kondisi wajah Rendra.
"Masak sih ini ulah Veri? Kenapa Veri sampai membuatnya dia lebam?" Gumam Sinta.
"Heh! Kenapa kamu diam saja? Cepat tanggung jawab." Seru Hanum.
"Tunggu-tunggu.. memangnya saya pernah apakan anak kamu? Dan apa hubungannya sama saya dengan wajah Rendra yang lebam?" Tanya Sinta berusaha tenang.
"Memang ini bukan kelakuan kamu. Tapi kamu adalah dalang dari semua ini! Dan karena ponakan kamu yang sok jago itu.. anak saya babak belur seperti ini. Pasti kamu yang nyuruh kan?" Serunya lagi.
"Hei.. jangan asal nuduh kamu.. Biar lebih jelasnya lagi, mending kita tanya langsung sama ponakan saya.. benar enggak apa yang kamu omongin? Daripada ribut-ribut di luar, mending masuk dulu.. kita bicara! Ga malu apa diliatin banyak orang?" Ujar Sinta.
__ADS_1
"Hahaha.. kenapa? Kamu malu? Takut ketahuan kalau kamu dan keponakan kamu itu ga ada moral? Main tonjok aja." Ujar Hanum. Sinta hanya menggelengkan kepala.
Karena mendengar ribut-ribut, Veri pun akhirnya keluar. Veri ingin tau sebenarnya tantenya itu sedang ribut dengan siapa di luar.
"Ada apa tante?" Tanya Veri.
"Oh.. ini rupanya ya.. keponakan yang sok jagoan, padahal cuma anak geng motor.." Seru Hanum.
"Loh.. Ibu ini siapa? Ada perlu apa sama saya?" Tanya Veri.
"Ga usah banyak tanya kamu! Liat kelakuan kamu.. Anak saya sampai babak belur kayak gini! Kamu apakan anak saya?" Tanya Hanum kesal.
"Loh.. bukannya kita yang ketemu tadi ya? Siapa tadi? Oh mantan suami Hana bukan?" Seru Veri memastikan takut salah orang.
Plak! Tiba-tiba saja Hanum melayangkan sebuah tamparan keras ke wajah Veri. Sinta yang melihat itu terkejut. Sembari memegang pipinya yang lumayan sakit karena tamparan, Veri pun sambil tersenyum.
"Kenapa Ibu Menampar saya? Apa karena anak Ibu yang babak belur? Ibu yakin kalau itu saya yang melakukannya?" Tanya Veri tegas.
"Siapa lagi kalau bukan kamu pelakunya? Sudah jelas-jelas tadi anak saya bertemu kamu. Dan kamu menganiaya anak saya.." Sungut Hanum.
Veri memperhatikan wajah Rendra. Dan menjadi heran kenapa wajah Rendra tiba-tiba lebam.
"Perasaan tadi saya hanya mencengkram tangannya saja deh.. itu pun ga kenceng-kenceng amat. Aneh, kenapa wajahnya yang lebam ya.. ga masuk di akal.." Gumam Veri.
"Kenapa kamu diam saja? Kamu berfikir untuk kabur? Oh.. jangan harap kamu bisa kabur dari kami.. Makanya jadi orang jangan sok jagoan! Kamu belum tau siapa saya, siapa Anak saya, Hah?" Sungut Hanum sambil berlagak.
"Itu di wajah kamu ada apa ya? Seperti gerak-gerak gitu.. Kayaknya ada ulat sama nyamuk deh.." Ucap Veri sembari menunjuk ke bagian wajah Rendra yang lebam. Secara reflek, Rendra pun langsung menepuk bagian wajahnya yang lebam.
Sinta dan Hanum pun heran. Mengapa ketika Rendra menepuk wajahnya tidak merasakan sakit sama sekali. Veri hanya senyum-senyum sendiri melihat kelakuan Rendra.
"Sudah ketahuan kalau kamu hanya acting saja! Dasar cowok cemen.." Ejek Veri.
"Rendra.. kamu kok ga kesakitan? Tapi tadi, dan itu wajah kamu?" Tanya Hanum heran sendiri. Sinta yang melihat hanya geleng-geleng kepala.
"Sekarang ketahuan kan, siapa yang berbohong? Saya kan sudah bilang dari tadi, kita bicara di dalam saja.. jangan teriak-teriak di luar.. sekarang siapa yang malu? Kamu sendiri kan? Sekarang, kalian pergi dari rumah saya!" Usir Sinta tegas.
__ADS_1
Hanum dan Rendra pun akhirnya pergi dari rumah Sinta. Para tetangga Sinta pun menyoraki Hanum dan Rendra.
"Hu.. dasar tukang tipu!" Sorak mereka.