
"Iya Hana.. papa ga akan melarang kamu.. kamu sudah dewasa.. jadi papa percaya sama kamu.. kalau kamu tau mana yang terbaik buat kamu.." Ujar papanya.
"Iya.. terimakasih pa.." Ucapnya.
"Hana.. ada yang ingin papa bicarakan sama kamu.." Ujar Sandi.
"Apa itu pa?" Tanya Hana.
"Hana.. papa merasa sudah semakin tua.. sebentar lagi.. papa sudah tidak akan kuat lagi untuk bekerja.. papa ingin kamu meneruskan perusahaan papa.. papa ingin kamu yang pegang perusahaan.. papa serahkan semuanya sama kamu.." Ujar Sandi.
"Pa.. anak papa bukan cuma Hana loh.. masih ada Cantika.. terus bagaimana dengan Cantika..?" Ujar Hana.
"Hana.. kamu adalah anak pertama papa.. jadi kamu yang harus meneruskannya.. lagian Hana.. daripada kamu capek-capek kerja di luar.. Apalagi kamu kan sudah punya seorang anak.. pasti memiliki banyak kebutuhan.." Ujar papanya.
"Iya Hana.. ini kamu di perusahaan papa langsung jadi big bos loh.. kamu kan anak papa.." Ucap Dina.
"Ma, pa.. Bukannya kalian sendiri yang mengajarkan kepada Hana untuk mandiri? Pa.. Papa itu adalah panutan bagi Hana.. Mungkin sekarang papa dikenal banyak orang.. Dan dibutuhkan oleh orang-orang penting.. Sekarang perusahaan papa menjadi perusahaan terbesar nomor satu.. bahkan cabangnya pun sudah ada di luar negeri.. tapi, Hana tau untuk mendapatkan itu semua bukanlah hal yang mudah.. Hana tau, lelahnya berjuang sampai berada di titik teratas. Tapi pa.. Hana tidak ingin hanya mengandalkan punya orang tua.. Hana ingin berjuang sendiri.. Hana ingin memulai semuanya dari nol dulu pa.. biar Hana tau bagaimana susahnya merintis dari bawah.. Dan sekarang kan Hana sudah berkeluarga.. ya, meskipun sudah cerai tapi Hana kan punya Rehan yang dibawah tanggung jawab Hana.. jadi Hana ga mau bergantung sama orang tua.. Hana ingin mandiri dan berjuang sendiri pa.. maaf ya pa.." Ucap Hana.
Mendengar ungkapan Hana, Sandi dan Dina merasa salut dengan Hana. Mereka merasa tidak sia-sia mendidik Hana selama ini.
"Tapi, bagaimana dengan perusahaan papa kamu? Kalau Cantika pasti ga akan mau Hana.. Karena cita-cita Cantika bukan di bisnis.. Cantika ingin menjadi dokter." Ucap Dina.
"Kalau masalah itu mama sama papa ga perlu khawatir.. anak mama kan, Aku sama Cantika.. jadi biar Aku dan Cantika yang membantu mengelola perusahaan mama sama papa.. bukan membalikkan nama loh ya.. tapi membantu agar perusahaan papa nanti tetap berjalan lancar. Dan sampai kapanpun perusahaan itu akan tetap menjadi milik Sandi group." Ujar Hana.
"Hana.. papa salut sama kamu. Papa bangga sama kamu.. papa ga sia-sia menyekolahkan kamu tinggi-tinggi.. asal kamu tau Hana.. mama dan papa menyekolahkan bukan hanya sekedar untuk mendapatkan pekerjaan atau menjadi pandai dalam bidang bisnis atau teknologi.. tapi tujuan kami.. supaya kamu memiliki kepribadian dan moral serta akhlak yang baik.. kenapa mama dan papa mengajarkan kamu mandiri.. supaya mental kamu kuat.." Ujar Sandi.
__ADS_1
"Iya, terimakasih atas didikan papa dan mama.." Ujarnya.
"Hana.. yang namanya orang tua.. tetaplah memandang anaknya itu kecil. kami tidak ingin kamu menderita.. bukan maksud mama ingin memanjakan kamu.. tapi, kalau kamu butuh apa-apa.. jangan sampai kamu meminta bantuan orang lain.. ada kami Hana.. kami orang tua kamu.. selagi kami masih ada, masih sehat.. datanglah kesini jika kamu membutuhkan sesuatu.. jangan pernah sungkan.. Mama ga mau kalau Rehan cucu mama sampai terlantar.." Ujarnya.
"Iya ma.. terimakasih atas kebaikannya. Insha Allah ma.. saya akan berusaha untuk membuat anakku selalu bahagia.. doanya saja ma..Apa yang kalian ajarkan kepadaku.. Akan Aku ajarkan juga pada anakku nantinya.." Ujar Hana.
"Pasti Hana.." Ucap Mamanya.
Meskipun dari keluarga konglomerat, Hana adalah anak yang mandiri. Iya bukan anak perempuan pada umumnya yang manja dan hanya mengandalkan kekayaan orang tua. Selain itu, Hana juga memiliki sifat yang rendah hati dan juga tegas.
...****************...
Hana sudah resmi menjadi janda. Sekarang beban Hana sudah berkurang dan tidak ada lagi tekanan batin baginya. Hana sudah merasa lebih tenang. Dan Hana pun pamit kepada orang tuanya untuk pulang ke rumahnya sendiri. Orang tua Hana tidak dapat melarang Hana untuk pergi. Karena memang putri pertamanya itu sudah memiliki keluarga.
Hana kembali masuk kerja lagi di kantor Sinta. Sinta sudah menganggap Hana sebagai putrinya sendiri. Sekarang jabatan Hana sudah naik lagi. Hana diangkat menjadi seorang CEO di kantor Sinta. Pengangkatan sebagai CEO di kantor Sinta bukan karena Hana dekat dengannya. Melainkan karena prestasi Hana selama bekerja. Dan Hana pantas mendapatkan itu semua.
.
.
Satu bulan berlalu, Hana sudah lupa dengan kejadian bulan lalu. Hana lebih fokus dengan pekerjaan dan bisnis yang iya jalani. Dan tak lupa juga, Hana juga fokus terhadap Rehan. Meskipun perempuan sibuk, tapi Hana tetap meluangkan waktunya untuk Rehan.
Kekayaan yang Hana miliki semakin meningkat. Bahkan terbilang, kekayaan Hana sudah melebihi Rendra. Namun, meskipun begitu Hana tetap rendah hati. Iya tidak menampakkan kekayaannya. Iya tetap tampil sederhana di depan umum.
.
__ADS_1
.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan.
"Permisi Ibu Hana.." Ucap sekertaris Hana.
"Iya silahkan masuk.." Jawabnya.
"Ibu Hana.. ini adalah jadwal meeting kita bersama klien nanti." Ujar sekertaris Hana. Hana membuka jadwal meeting tersebut.
"Loh jadwal meeting besok lusa di adakan di hotel bintang lima?" Tanya Hana.
"Benar Bu.." Ucap sekertaris Hana.
"Baiklah kalau begitu.. oh iya.. sebentar lagi saya mau keluar sebentar karena ada keperluan.. tolong kamu handle semuanya ya.. Saya ga bisa menghadiri langsung meeting nanti.. Jadi, saya serahkan semuanya sama kamu.." Ujarnya.
"Baik Bu Hana.." Ucap sekertarisnya.
Hana pun langsung bersiap-siap dan langsung beranjak. Hana sebenarnya ada janji dengan Sinta. Dan Hana menepati janji itu. Hana menemui Sinta di tempat biasa. Hana sengaja tidak membawa mobil pribadinya ke kantor. Dan Hana memilih untuk naik bis kota ke tempat kerjanya. Hana menyewa bus kota tersebut untuk dirinya sendiri tanpa ada penumpang yang lain. Hana menunggu bus yang disewanya di depan halte.
__ADS_1
Sebuah mobil dari arah berlawanan melaju dengan cepat. Hingga tidak sengaja, Hana kecipratan air. Dan baju Hana menjadi kotor. Mobil itupun langsung berhenti. Hana melihat nomor seri mobil itu. Hana sudah mengenali mobil tersebut. Pemilik mobil itupun turun dari mobilnya. Iya langsung menghampiri Hana. Ternyata iya adalah Hanum mantan Ibu mertua Hana.
"Aduh.. jadi kamu toh yang kecipratan air? Kasian banget ya kamu.. tapi kamu pantas si.. kecipratan air itu.. pantas dengan keadaan kamu yang miskin. Eh.. btw, kamu ngapain disini? Oh.. sedang nunggu bus ya.. aduh.. kasian banget nasib kamu sekarang ya Hana.. ya, memang si.. kalau awalnya gembel akan kembali jadi gembel.." Ejek Hanum.