
"Sindi, kamu sudah siapkan semua keperluan untuk meeting hari ini?" Tanyaku kepada sekretaris ku.
"Sudah pak.. semuanya sudah siap!" Ujar Sindi.
Aku dan Sindi pun berangkat ke hotel untuk melakukan meeting. Dan meeting itu pun dihadiri oleh beberapa orang-orang penting dari perusahaan besar.
.
.
Aku dan Sindi telah tiba di sebuah hotel. Lumayan bagus hotelnya. Aku pun langsung memerintahkan menuju ke parkiran mobil. Aku dan Sindi langsung turun dari mobil. Aku dan Sindi langsung menuju ke ruangan yang telah ditentukan.
Tidak sengaja Aku melihat mantan istriku sedang bersama orang-orang besar. Entah mulutku tidak bisa berkata apa-apa ketika melihatnya kembali.
Hana.. kenapa sekarang dia kelihatan lebih cantik ya, semenjak perceraian itu Aku tidak pernah bertemu dengannya. Semenjak kami berpisah, dia seperti ditelan bumi. Tapi setelah Aku bertemu kembali dengannya, Dia terlihat lebih cantik dari kemaren. Hana yang sekarang seperti Hana yang dulu seperti pertama bertemu.
"Pak.." Panggil Sindi sekertaris ku, yang tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
"Eh iya..?" Ucapku.
"Bapak sedang liatin Ibu Hana ya? Kenapa pak? Ibu Hana tambah cantik kan?" Ujar Sindi.
"Ah, biasa saja.. Sama aja kayak dulu.. ga ada perubahan." Ucapku mengelak karena gengsi untuk mengakuinya.
"Masak sih pak, malah kalau menurut saya Ibu Hana jauh lebih cantik dari sebelumnya. Pasti pak Rendra menyesal ya karena telah menyia-nyiakan Ibu Hana?" Ucap Sindi lagi.
"Menyesal? Buat apa saya menyesal.. yang ada saya malah senang karena sudah berpisah darinya. Malah sekarang, saya dapat penggantinya yang lebih dari Hana." Ucapku lagi agar Sindi tidak lagi meledek ku.
"Maksud bapak Almira?" Sindi malah bertanya.
"Ya, iyalah.. siapa lagi kalau bukan Almira.. Dia jauh lebih cantik dan lebih seksi dibanding Hana." Ucapku lagi.
"Oh.. begitu pak.. Maaf ya pak, kalau saya lancang.. Kalau menurut saya.. Hana itu jauh lebih baik di atas Almira, udah cantik, penyayang, baik hati, berprestasi, kaya lagi." Kata sekertaris ku. Aku mendengar kata-kata dari Sindi bahwa Hana itu kaya membuatku tidak dapat menahan tawaku.
"Apa? Kaya? Hahaha.. kamu itu ngaco ya Sindi? Dia itu bukan kaya.. tapi biasa.. masih jauh lebih kaya bos kamu ini. . Hana mah apa? Ga ada apa-apanya.." Ucapku sambil ga bisa menahan tawa. Terlihat Sindi menggelengkan kepala seakan Iya tidak percaya dengan ucapan Aku.
"Bapak belum tau ya.. kalau sebenarnya Hana itu kaya raya? Bahkan kekayaan Hana sekarang sudah jauh di atas bapak.. dan lagi, Hana itu memang keturunan konglomerat pak.. papanya aja adalah pemilik perusahaan terbesar di Indonesia, bahkan di seluruh asia. Dan cabangnya pun sudah ada di mana-mana bahkan di luar negeri juga." Ujar Sindi serius. Aku semakin geli mendengar hal ini. Entah apa yang ada dalam pikiran sekertaris Aku saat ini. Apakah dia sedang bermimpi?
"Hahaha.. kamu makin kesini makin ngaco saja Sindi.." Ucapku.
" Ya, udah kalau bapak ga percaya dengan saya.. tapi jangan sampai nyesel loh pak.." Ujarnya.
.
__ADS_1
.
Dalam acara meeting, Aku tidak tau apa yang sedang dibicarakan tadi. Entah mengapa mataku selalu tertuju kepada Hana. Seolah-olah Aku merasa terhipnotis dengan wajah dan body Hana yang sekarang.
.
.
Selesai acara meeting, secara tidak sengaja Aku berpapasan dengan Hana. Aku dan Hana pun saling menatap. Aku pun teringat dengan ucapan Sindi yang mengatakan kalau Hana itu adalah orang kaya, dan memang keturunan konglomerat. Tapi kenapa kerja masih ikut orang? Dan masih mau-mau saja menjadi pesuruh orang. Berati Hana masih miskin dong. Dengan iseng, Aku menyapa Hana.
"Apa kabar mantan istriku?" Ucapku ketika tak sengaja berpapasan dengan Hana.
"Baik!" Jawab Hana biasa saja.
"Ternyata, dari dulu kamu masih gini-gini aja ya? Ga ada perubahan." Ucapku
"Maksudnya?" Tanya Hana tidak mengerti sembari mengernyitkan dahi.
"Ya, kamu kerja masih ikut orang.. Masih mau-mau aja jadi pesuruh orang. Dasar ga punya pendirian!" Kataku berniat untuk mengejek Hana.
"Lalu, urusannya sama kamu apa?" Tanya Hana.
"Ya, Aku cuma mau ngingetin aja sih.. biar kamu ada kemajuan dikit. Buat usaha sendiri dong.. kayak Aku, sudah punya perusahaan sendiri.. biar hidup kamu ga gini-gini aja.. kerja kok mau jadi pesuruh orang. Dulu waktu kamu jadi istri Aku.. kamu kan enak ga kerja.. jadi ratu." Ucapku pada Hana, agar dia sadar bahwa Aku adalah suami terbaik. Dan ingin membuat Hana menyesal karena telah berani menggugat ku dulu. Tapi, ini malah sebaliknya. Aku tidak melihat penyesalan di wajah Hana. Yang Aku lihat, Hana malah menertawakan Aku.
"Kenapa pak? Bapak malu ya?" Ucap Sindi tiba-tiba.
"Hah, malu? Apa yang harus dibikin malu.. lagian bagaimana pun tetap Aku yang kaya.. bukan Hana. ngapain Aku malu sama dia?" Kataku. Sebenarnya Aku malu ketika Hana mengatakan hal ini kepadaku. Hanya saja Aku mengelak dari Sindi agar Aku tidak malu untuk kedua kalinya.
Aku dan Sindi pun langsung menuju parkiran. Rencana kami ingin langsung kembali ke kantor. Secara tidak sengaja, Aku melihat Hana sedang berbicara dengan seorang laki-laki. Mereka terlihat akrab sekali.
"Siapa laki-laki itu?" Pikirku. Dan Aku juga memperhatikan mereka dari jauh. Ternyata laki-laki itu mengantar Hana.
Aku pun mengikuti mereka dari belakang. Dan ternyata memang benar, bahwa laki-laki itu mengantar Hana untuk pulang.
"Dasar perempuan murahan. " Seruku. Aku tidak dapat terima kalau Hana menemukan laki-laki yang lebih dari Aku.
.
.
Aku menyetop perjalanan laki-laki yang mengantar Hana barusan. Aku memberikan peringatan kepadanya agar tidak mendekati Hana lagi.
"Stop! Turun kamu!" Seruku padanya.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa kamu mencegat saya? Siapa kamu?" Tanya laki-laki itu.
"Saya mantan suami Hana!" Jawabku.
"Ada perlu apa dengan saya?" Tanya laki-laki itu.
"Ada hubungan apa kamu dengan Hana?" Tanyaku kepadanya lagi.
"Oh.. saya cuma mau mengantar dia pulang.. ga ada yang lain." Jawabnya.
"Ini untuk pertama dan terakhir. Jangan coba-coba untuk anterin Hana lagi. Apa lagi mencoba dekati dia.. Jangan harap! Camkan itu!" Kataku memberi peringatan.
"Oh.. Aku ga ada niat apa-apa.. Lagian kamu siapa? Cuma mantan suami doang kan?" Jawabnya.
"Saya memang mantan suaminya.. tapi saya masih ada hak terhadapnya.. sedangkan kamu bukan siapa-siapa kamu ada hak atas dia.. Paham!" Seruku pada laki-laki itu.
"Hahaha.. setau saya yang namanya mantan suami itu sudah ga ada hak lagi atas istrinya.. tapi kalau tanggung jawab sama anak itu baru wajib. Dasar orang aneh!" Ucapnya kepadaku.
"Kurang ajar! Berani kamu sama saya hah? Kamu ga tau siapa saya?" Kataku dengan nada tegas.
"Saya ga perlu tau siapa kamu. Karena kamu ga penting bagi saya." Ucap laki-laki itu dengan santainya. Aku tidak dapat menahan kekesalanku. Dan Aku pun tiba-tiba saja melayangkan sebuah pukulan ke wajah laki-laki itu. Tapi sayangnya Iya lebih cepat dari Aku. Laki-laki itu menangkis tanganku. Kemudian, iya pun mencengkram tanganku dan menekannya. Hingga Aku merasa kesakitan.
"Argh.. sakit..." Rintihanku. Soalnya laki-laki itu malah semakin menekan tanganku.
"Argh.. lepasin anj****.." Seruku lagi.
"Cuma segitu kemampuan kamu? Mau sok jagoan lagi?" Ejek laki-laki itu.
"Ok-ok Aku menyerah.. tapi lepaskan tanganku sakit!" Ucapku sambil menahan sakit. Ia pun langsung melepaskan cengkraman nya.
Akhirnya Iya melepaskan cengkraman nya. Dan lagi-lagi iya mengejekku sambil menertawakan Aku.
.
.
Sesampainya di rumah, Aku langsung mengadu kepada mama. Aku sengaja memoles wajahku agar terlihat lebam dan seperti orang yang benar-benar kesakitan.
"Rendra, kamu kenapa sayang? Kenapa kamu lebam seperti ini?" Tanya mama. Aku sengaja membuat cerita palsu kepada mama. Dan mama terlihat sangat kesal. Mama menanyakan ciri-ciri orang itu.
Aku pun menceritakan ciri-ciri laki-laki tersebut dengan detail. Sepertinya mama mengenali laki-laki itu. Dan mama pun langsung mengajak Aku entah kemana.
"Kurang ajar! Sekarang kamu ikut mama.." Ucapnya sembari menarik tanganku.
__ADS_1
"Ikut aja! Benar-benar kurang ajar itu orang.. berani-beraninya dia membuat anakku seperti ini." Ujar mama.