
"Baik kalau mama lagi di atas. Tapi, ketika mama sedang di bawah mereka malah menghina mama dan mengatakan mama adalah gembel, tidak berguna.. hiks hiks," lirihnya.
"Ya, sudahlah ma.. nanti kalau misalnya kita kaya lagi.. mama jauhi saja teman-teman seperti itu.." Ujar Rendra.
"Tapi mama malu Rendra.." Rengek Hanum.
"Iya.. nanti kalau Rendra gajian kita makan diluar ya ma.." Ucap Rendra. Hanum pun mengangguk dan pikirannya mulai tenang.
****************
Seperti biasa, Rendra selalu berangkat pagi ke tempat kerjanya. Meskipun hanya menjadi OB, Rendra tetap semangat demi menyambung hidup. Karena posisi Rendra sekarang bukanlah sebagai bos lagi.
Sejenak Rendra merenung, perlahan iya mulai menyadari bahwa roda kehidupan memang berputar. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Almarhum papanya dulu bahwa segala sesuatu yang kita miliki tidak akan selamanya termasuk harta yang kita punya.
"Woi.. ngelamun aja! Lagi mikirin apa sih?" Tanya teman Rendra yang juga menjadi OB.
"Apaan si? Enggak mikirin apa-apa kok.." Ucap Rendra.
"Oh iya.. kamu sudah liat pengumuman belum?" Tanya teman OB nya.
"Pengumuman apa?" Tanya Rendra.
"Kantor ini mengadakan acara syukuran.. bos juga mengundang semua pekerja di kantor ini.. termasuk OB kayak kita.. Nah, keluarga kita boleh loh kita bawa untuk acara kantor.." Ungkapnya.
"Oh iya? Benarkah?" Tanya Rendra tidak percaya.
"Iya benar Rendra.." Jawabnya meyakinkan.
"Oh.. berati bosnya baik banget yah? Mengundang semuanya tanpa pilih-pilih.." Ujar Rendra.
__ADS_1
"Kalau soal baik, ga perlu ditanya.. bos kita orang yang sangat baik.. jangankan mereka yang jabatannya lebih tinggi yang menyukai sikap bos.. kita pun sebagai OB juga sangat menyukai sikap bos kita.. Bahkan, kita semua yang kerja disini itu sama di depan bos.." Ucapnya memuji.
"Ada ya.. bos yang sebaik itu.. Saya jadi salut sama bos disini.. bahkan para pekerja disini semuanya juga ramah ya.." Ucap Rendra jujur.
"Oh.. tentu.. bahkan, kebaikan dan sikap bos kita juga menurun sama anak-anaknya.. mereka sangat sopan pada kita.. terlebih lagi, anak yang sulung.. be.. baiknya luar biasa.. sudah cantik, kaya, mandiri, baik.. bahkan tidak sombong.. penampilannya juga sederhana.. tidak glamor seperti cewek kaya pada umumnya.." Pujinya lagi. Rendra mengernyitkan dahi ketika berbicara tentang anak bos. Ada pertanyaan dalam hatinya yang kemudian diungkapkan.
"Tunggu-tunggu.. kamu bilang, anak-anak bos? Bukankah yang kemaren itu anaknya bos yah? berati bos punya anak lebih dari satu dong.." Tanya Rendra penasaran.
"Oh.. tentu.. bos itu punya dua anak perempuan.. dan yang kemaren itu adalah mbak Cantika.. dia anak kedua.. dia masih masa kuliah.. tapi kuliahnya di luar negeri.. tapi dia juga baik kok.. dan anak bos yang pertama ini, benar-benar menjadi istri idaman.. dia sangat mandiri dan juga sederhana.. dia perempuan yang sukses.. tapi juga tidak sombong.." Ucapnya lagi-lagi memuji. Mendengar cerita temannya, Rendra menjadi penasaran dengan anak pertama bos kantornya.
"Memangnya, putri pertamanya bos itu kayak gimana sih? Jadi penasaran." Ujar Rendra.
"Nanti kamu juga tau Rendra.." Ujar temannya itu.
"Eh.. mending kita kerja lagi yuk.. entar ketahuan, kita kan jadi malu sendiri.." Ucap temannya.
****************
"Kamu mau ngajak mama ke acara kantor kamu?" Tanya Hanum heran.
"Iya ma.. mama ikut ya, katanya mama pengen makan enak.." Ucap Rendra.
"Tapi, kamu kan hanya sebagai OB Rendra.. kenapa kamu diundang juga?" Tanya Hanum heran.
"Iya ma.. semua pekerja kantor termasuk OB seperti Aku juga diundang.. bos di tempat kerja Aku itu sangat baik ma.. beliau ga pernah pilih-pilih.. Semuanya sama baginya.." Ujar Rendra.
"Berati.. dia beneran orang baik ya?" Ucap mamanya. Rendra mengangguk dan menjawab.
"Iya ma.. benar.." Ujarnya.
__ADS_1
"Sama seperti papa kamu Rendra.. dia juga orang baik.. dulu papa kamu ga pernah pilih-pilih.. semua pekerja kantor sama saja di mata papamu.. mama jadi teringat dengan papa kamu.." Ungkap Hanum menyesal.
"Mama kenapa tiba-tiba ingat papa?" Tanya Rendra heran dengan Hanum.
"Iya Rendra.. mama menyesal dengan perbuatan mama hingga membuat papa kamu menghembuskan nafas terakhir. Seandainya papa kamu masih ada.. mungkin kehidupan kita tidak akan terpuruk seperti ini.." Ujar Hanum menyesal.
"Sudahlah ma.. papa sudah tenang di sana.. Aku yakin, papa sudah memaafkan mama.. karena papa sangat mencintai mama.. Yang terpenting.. kita doakan saja, papa sekarang.. nanti kalau mama sedih, papa juga ikut sedih.." Ucap Rendra. Hanum membuang nafas, iya tidak tau lagi apa yang dia rasakan saat mengingat almarhum suaminya.
"Iya Rendra.." Jawab mamanya singkat.
"Oh iya.. mama sudah makan belum? Mama masak apa hari ini?" Tanya Rendra.
"Pasti sudah lapar ya? Ya, sudah.. kita makan yuk.." Ucap Hanum. Mereka pun pergi ke ruang makan.
Rendra membuka tudung nasi dan melihat lauk pauk makanan yang terdiri dari dua potong tahu, dua potong tempe dan satu potong daging ayam serta sayuran. Melihat makanannya sekarang, Rendra hanya bisa tersenyum.
"Kenapa Rendra?" Tanya Hanum.
"Ga apa-apa ma.. ya, sudah kita makan yuk ma.." Ajak Rendra. Rendra teringat dengan keadaannya yang dulu. Kalau dulu semua lauk, bahkan meminta masakan luar negeri pun serba ada. Tapi jauh berbeda dengan sekarang, daging ayam saja hanya satu potong.
"Ya, ampun.. gini amat ya, hidupku sekarang.. jika dulu makanan apa aja serba ada.. sekarang malah miris begini.. keadaanku yang sekarang sama yang dulu seperti langit dan bumi." Gumamnya. Hanum memperhatikan Rendra yang terpaku menatap makanan di meja. Hanum pun bertanya.
"Kenapa Rendra? Makanannya ga enak ya? Atau kamu ga suka dengan lauk pauknya?" Tanya Hanum. Rendra menggelengkan kepala dan berkata.
"Bukan ma.. makanannya enak kok.. cuma Aku berfikir, bahwa kehidupan Aku sekarang seperti ini.. miris sendiri. Tapi, Aku tetap bersyukur kok ma.. karena masih bisa makan.." Ujar Rendra.
"Rendra.. maafin mama ya? karena lauknya cuma begini saja.. karena memang ini adanya Rendra.. Mudah-mudahan saja keadaan kita cepat pulih ya.. pulih seperti dulu lagi." Ujar Hanum sembari mengelus pundak Rendra.
"Iya ma... ya, sudah kita makan yuk ma.. Ayamnya kita bagi dua ya ma?" Ucap Rendra sembari membelah sepotong daging ayam.
__ADS_1
"Sudah Rendra, Ayamnya buat kamu saja. Biar kamu kuat dan sehat." Ucap Hanum menolak.
"Ga adil dong ma.. kalau Aku makan ayam.. mama juga, masak iya Aku makan enak mama enggak.." Ucap Rendra, sembari meneruskan memotong daging ayam itu.