Istri seperti babu selingkuhan seperti ratu

Istri seperti babu selingkuhan seperti ratu
Perceraian


__ADS_3

"Sabar pa.. jangan keburu emosi.. kita bisa bicarakan ini baik-baik." Ujar mama Hana.


"Sabar bagaimana ma? Mereka sudah keterlaluan.. Hana, keputusan kamu sudah tepat. Papa akan membantu kamu untuk mempercepat proses perceraian ini." Ucap Sandi dengan emosi.


"Iya sabar pa.. papa jangan emosi dulu.. nanti kalau jantung papa kumat bagaimana?" Ucap Dina.


"Ma.. papa ga terima kalau Hana diperlakukan seperti itu sama mereka. Memangnya mereka pikir, mereka itu siapa? Hana itu anak kita ma.. Apa mereka kira cuma mereka aja yang kaya?" Seru Sandi.


"Iya.. mama tau.. mama juga kecewa sama mereka pa.. tapi, seenggaknya kita hadapi dengan tenang.. ga perlu emosi.. kita hadapi ini semua dengan kepala dingin.. kalau kita menghadapi dengan emosi.. yang ada kita yang kalah pa.." Ujar Dina memberi nasehat. Sandi pun menghela nafas kasar dan menggelengkan kepala. Kemudian, Dina memberikan saran lagi.


"Tenang ya pa.. semuanya kita pikirkan baik-baik.. supaya semuanya tidak berantakan.." Ujarnya menenangkan hati suaminya. Sandi pun duduk kembali di sofa. Dina berusaha untuk membuat suaminya tenang.


...****************...


Proses sidang Rendra dengan Hana akan segera dilaksanakan. Hanum tidak menyangka kalau Hana akan melakukan hal ini. Hanum tidak bisa terima kalau iya lebih duluan bertindak.


"Kurang ajar si Hana! Bisa-bisanya Hana lebih dulu melakukan gugatan.. Harusnya anakku yang lebih dulu. Aku ga bisa terima ini semua.. Aku harus menemui Hana sekarang juga." Serunya sambil menggerutu.


Hanum segera pergi ke tempat kerja Hana. Rencananya Hanum ingin melabrak Hana dan ingin mempermalukan Hana di depan orang banyak. Nyatanya, bukan Hana yang dipermalukan melainkan dirinya sendiri yang malu.


"Maaf lagi cari siapa bu?" Tanya satpam yang ada di depan gerbang kantor Hana.


"Saya ingin bertemu dengan Hana. Karyawan di sini." Ujar Hanum dengan raut wajah sulit ditebak.


"Maksud nya Ibu Hana?" Ujar satpam itu.


"Iya! Kemana perempuan miskin itu?" Ucapnya menyombongkan diri. Satpam itu terkejut ketika Hana dikatakan perempuan miskin.

__ADS_1


"Kalau orang sekaya Ibu Hana aja dikatakan miskin, apalagi Aku yang kerjaannya hanya sebagai security? Mungkin bisa dikatakan gembel kali ya.." Gumam securyty itu.


"Heh! Jawab.. dimana Hana?" Tanya Hanum lagi dengan nada emosi.


"Ibu Hana sedang keluar hari ini Bu.. iya masih ada keperluan penting.." Ucapnya.


"Halah.. cuma karyawan biasa kok ada keperluan penting? Memangnya dia penting bagi kantor ini?" Seru Hanum. Securyty itu hanya menggelengkan kepala dengan sikap Hanum.


"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut di kawasan kantor saya?" Seru Sinta yang tiba-tiba datang dari arah belakang Hanum. Hanum pun membalikkan badan dan berhadapan dengan Sinta.


"Siapa kamu?" Tanya Hanum.


"Saya Sinta pemilik kantor ini.. ada perlu apa kamu datang ke sini?" Tanya Sinta.


"Oh jadi kamu pemilik kantor ini? Saya kesini ada perlu dengan salah satu karyawan kamu yang miskin itu." Sungut Hanum.


"Siapa yang anda maksud?" Ujar Sinta.


"Hana? Ada perlu apa kamu dengan Hana? Dan siapa kamu?" Tanya Sinta.


"Saya Hanum, Istri dari seorang Adi jaya. Pemilik perusahaan terbesar nomor 3 di negara ini. Dan Orang kaya ke tiga di negara ini. Dan bilang sama karyawan kamu yang miskin itu. Kalau jadi orang jangan belagu. Sok sokan menggugat anak saya. Memangnya anak saya masih kurang tampan? kurang kaya? Kalau anak saya bermain perempuan ya wajarlah. Karena orang tajir itu bebas mau ngapain saja." Serunya. Sinta hanya menggelengkan kepala dengan sikap Hanum yang sombong.


"Hana tidak ada disini. Jadi, silahkan anda pergi dari sini!" Usir Sinta.


"Kamu mengusir saya? Hei.. berkaca dong.. siapa anda berani mengusir saya? Anda belum tau rupanya siapa saya?" Ujar Hanum dengan percaya dirinya. Sinta hanya tersenyum dengan kesombongan Hanum.


"Saya tau siapa anda.. siapa sih yang ga tau dengan seorang istri dari jaya.. orang terkaya nomor 3.. tapi, kekayaanmu itu tidak ada apa-apanya nyonya besar.." Ujarnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Apa maksud anda? Apa anda sudah gila?" Ujar Hanum.


"Terserah anda mau bicara apa.. tapi yang pasti kekayaanmu itu tidak ada apa-apanya. Suatu saat anda pasti tau maksud saya." Ucap Sinta.


Tak lama, Hana pun datang dengan menggunakan mobil kantor. Iya sudah datang dari pertemuan dengan perusahaan besar milik ayahnya. Hana melihat Hanum dengan Sinta sedang ribut-ribut. Hana melihat dari dekat. Iya ingin tau apa yang sedang mereka bahas.


"Sepertinya mereka sedang ribut.. ada apa ini?" Ucap Hana. Hana pun langsung memberhentikan mobilnya. Iya langsung turun dari dalam mobil dan langsung menghampiri mereka.


"Ibu Sinta.. Ada apa bu?" Tanya Hana.


"Oh.. rupanya orang miskin sudah datang.." Cela Hanum.


"Mama Hanum.. ada keperluan apa mama datang kesini?" Tanya Hana.


"Saya ada perlu sama kamu.. perempuan ga tau diri." Ujarnya.


"Ada perlu sama saya?" Tanya Hana heran.


"Heh, Hana! Berani-beraninya kamu ya.. menggugat anak saya.. kamu pikir kamu siapa? Berani menggugat anak saya! Jangan sok kaya kamu, merasa paling bisa tanpa anak saya.. Emang kamu itu sudah kaya? Sudah mapan? memangnya kamu punya uang berapa? Lagian kalau kamu merasa ga butuh anak saya ga apa-apa.. baguslah!" Ucapnya.


"Memangnya siapa sih yang butuh anak kamu? Ibu Hanum yang terhormat, anda jangan ke gran.. memangnya selama saya menjadi istri Rendra, saya bergantung sama Rendra? Enggak kan.. Jadi, ada atau tidaknya Rendra.. itu sama aja bagi saya. Memangnya selama ini Rendra memberikan saya apa? Uang, kebahagiaan? Yang ada penderitaan. Dan saya juga sangat bersyukur bisa berpisah dengan anak anda. Karena beban saya jadi berkurang.. beban, ketika harus menjadi pembantu di rumah anda, beban dari cacian dan hinaan anda, bahkan tekanan batin dari Rendra." Ujarnya sembari tersenyum sinis kepada Hanum.


"Awas aja kamu.. Aku akan menuntut kamu nanti di pengadilan karena kamu telah kurang ajar sama Ibu mertua." Ucapnya. Hana hanya tersenyum sinis.


"Ya.. kita liat saja nanti.. siapa yang akan tersenyum atau menangis di pengadilan.." Ujarnya. Kemudian, tanpa basa-basi Hana langsung pergi dari hadapan Hanum. Diikuti oleh Sinta. Kemudian, Satpam itu pun langsung menutup gerbang kantor. Hanum merasa seperti tidak dihargai. Iya melihat disekitarnya banyak orang yang memperhatikannya. Hanum merasa malu sendiri. Iya pun langsung pergi sambil menggerutu tidak jelas.


"Awas aja kamu Hana.. bisa-bisanya kamu membuat saya malu. Sial!" Gerutunya.

__ADS_1


...****************...


Hari persidangan pertama Hana dengan Rendra pun telah tiba. Hana dan keluarganya mengantar Hana sampai ke persidangan. Bahkan Sinta juga ikut mengantar Hana sampai ke persidangan.


__ADS_2