Istri seperti babu selingkuhan seperti ratu

Istri seperti babu selingkuhan seperti ratu
hinaan teman


__ADS_3

Aku jadi OB ma.." Ungkap Rendra. Lagi-lagi Hanum dibuat terkejut dengan pengakuan Rendra. Seketika Hanum menjadi lemas dan menjatuhkan dirinya di sofa.


"Ma.. mama kenapa ma? Mama sehat kan? Mama pasti karena belum makan ya? Ini Rendra bawakan makanan.." Ujar Rendra yang kaget melihat mamanya tiba-tiba lemas seperti itu.


"Sudah! Mama tidak apa-apa.. Makanannya kamu makan saja sendiri. Mama ga lapar." Ucap Hanum yang langsung hilang nafsu makannya. Kemudian, Hanum pun bangun dari tempat duduknya dan pergi dari hadapan Rendra.


"Mama kenapa ya? Apa karena Aku jadi OB mama seperti itu?" Pikirnya. Rendra pun masa bodoh dengan sikap mamanya. Karena mamanya tidak nafsu makan, akhirnya dua bungkus nasi iya makan semua. Rendra berfikir mungkin ini rejeki bagi Rendra.


...****************...


Sudah tiga hari berturut-turut. Hanum tidak berbicara dengan Rendra. Tapi, Rendra tetap menghormati ibunya itu. Rendra menjadi heran dengan mamanya. Kenapa Hanum bersikap seperti itu kepada Rendra.


"Ma.. mama kenapa sih? Diemin Aku seperti ini? Mama marah sama Aku?" Tanya Rendra.


"Rendra. Kamu sadar ga, dengan kesalahan yang sudah kamu buat?" Ucap Hanum dengan wajah datar.


"Memangnya salahku apa ma?" Tanya Rendra.


"Kesalahan kamu banyak.." Ujar Hanum dengan suara yang tegas.


"Salahku apa ma?" Tanya Rendra sekali lagi.


"Mau tau kesalahan kamu apa? Pertama, kamu pilih rumah kontrakan yang kecil seperti ini, sudah kecil, sempit, panas lagi. Yang ke dua, Makanan yang kamu beli tiap hari untuk mama itu makanannya orang miskin Rendra... pembantu kita aja dulu makanannya rendang, sate, soto, dan makanan enak lainnya. Masak makanan kita cuma telor ceplok sama tahu tempe doang? Dan yang terakhir, kamu capek-capek cari kerja di kantor hanya jadi sebagai OB? Aduh Rendra... otak kamu itu ditaruh dimana sih? Kamu itu bos.. Pemegang perusahaan yang besar.. kamu pintar, lulusan luar negeri. Tapi kamu malah merosot seperti ini.. Cari kerjaan yang layak dengan otak kamu kenapa sih Rendra.." Ujar Hanum kesal.


"Ma.. seandainya bisa semudah itu.. sudah pasti Rendra memilih pekerjaan yang bagus dan layak. Tapi ma... mencari pekerjaan sekarang sulit.. dan Rendra menemukan kerja hanya itu ma.. kebetulan memang ada lowongan.. ditambah lagi keadaan kita sekarang jauh berbeda dengan yang dulu.. mama harunya mengerti dengan keadaan sekarang.. Aku harus cepat-cepat dapat pekerjaan untuk menyambung hidup.. Ditambah lagi uang tabunganku semakin menipis. Tolong lah ma.. dimengerti.. kita harus irit.." Jelas Rendra memberi pengertian terhadap mamanya.


Hanum hanya diam saja dengan jawaban Rendra. Meskipun Hanum merasa kesal dengan Rendra, tapi iya tidak bisa menjawab semua perkataan Rendra. Kemudian, Hanum pun berkata.


"Tapi Rendra.. mama itu malu dengan teman-teman mama.. mau taruh dimana muka mama? Kalau mereka tau dengan keadaan mama yang sebenarnya, bisa-bisa mereka menertawakan mama.." Ucapnya.

__ADS_1


"Ma.. mama bisa kan, menyamping kan gengsi mama? Sekarang bukan waktunya lagi untuk gengsi mama.. kita itu butuh makan biar bisa bertahan hidup." Ucap Rendra.


"Ya sudah.. terserah kamu aja! Tapi mama beneran ga suka dan tidak sudi dengan ini semua." Sungut Hanum.


"Ya, sudah.. kalau mama tidak suka.. mama bisa pindah kok dari sini.." Ucap Rendra. Hanum melotot dengan jawaban Rendra yang mulai berani kepada mamanya. Tapi kalau dipikir-pikir, jika Hanum keluar dari rumah Rendra, lalu iya akan tinggal dimana? Terpaksa Hanum mengalah dengan keputusan Rendra.


...****************...


"Rendra.. dari pada beli terus.. mending beli mentahannya saja.. biar bisa lebih ngirit.. daripada beli makanan matang terus.." Ujar Hanum.


"Memangnya mama bisa masak?" Tanya Rendra.


"Ya bisalah sedikit.. mama akan coba masak.." Ucapnya lagi.


"Ya.. baguslah kalau mama berfikir seperti itu.." Jawab Rendra.


Hanum pun berangkat ke pasar untuk membeli keperluan bahan pokok. Sementara Rendra, mulai berangkat kerja.


.


.


"Duh.. panas amat sih.. bisa gosong kulit Aku kalau seperti ini.. Gini amat ya, nasib Aku sekarang.. Dulu enak, kemana-mana naik mobil.. tapi sekarang mau naik angkot aja harus mikir-mikir dulu.." Ujarnya sambil berjalan menuju rumah.


Dengan tidak sengaja, Hanum bertemu dengan teman-teman sosialita nya. Mereka terkejut melihat Hanum dengan penampilan yang berbeda.


"Hanum.. kamu Hanum kan?" Tanya salah satu teman Hanum. Tidak percaya kalau itu Hanum.


"Iya.. tapi kok penampilan kamu berubah sekarang? Bukan kayak nyonya besar, tapi kayak gembel." Kata teman yang satu lagi secara terang-terangan.

__ADS_1


"Maaf saya permisi!" Kata Hanum singkat dan langsung pergi dari hadapan mereka.


"Eh.. tunggu dong Hanum.. mau kemana? Malu ya? Kasian ya, kamu sekarang.. udah jadi gembel ya? Dulu, kemana-mana kamu naik mobil tapi kenapa sekarang kamu malah jalan kaki?" Ujar mereka.


"Bukan urusan kalian! Aku mau gini, Aku mau gitu.. ga ada hubungannya sama kalian!" Ucap Hanum.


"Oh.. iya lupa.. dari dulu kamu kan memang selalu mengandalkan uang suami ya? ya,


sekarang suami sudah ga ada.. kamu jadi ga berguna.. jadi gembel kan?" Ucapnya lagi.


"Makanya.. kalau jadi orang jangan sombong.. Kena karmanya kan sekarang?" Ucap mereka lagi.


Hanum tidak menghiraukan perkataan mereka. Hanum pun langsung pergi dari hadapan mereka.


Sesampainya di rumah, Hanum langsung menaruh barang belanjaannya. begitu saja. Hanum menjatuhkan dirinya ke kursi. Iya sambil menangis. Hanum merasa sakit hati dengan perkataan teman-temannya.


"Kenapa si, mereka jahat sama Aku? Kenapa mereka malah menghinaku? Apa dulu mereka tidak ingat, dengan kebaikanku? Apa mereka tidak ingat siapa yang selalu mentraktir mereka? Kenapa mereka malah menghinaku sekarang? Mereka memang bukan teman yang baik." Lirihnya.


Sepanjang hari Hanum menangis hingga Rendra pulang. Rendra kaget melihat mamanya menangis.


"Loh.. ma.. kenapa mama menangis?" Tanya Rendra. Hanum masih saja terisak dengan tangisnya.


"Ma... Jawab ma.. kenapa mama menangis? Siapa yang bikin mama sedih seperti ini?" Tanya Rendra.


"Rendra.. mama dihina!" Ucap Hanum tidak dapat meneruskan kata-katanya.


"Dihina? Siapa yang sudah menghina mama? Apa mama bertemu dengan Hana di Pasar? Apa dia yang sudah memaki mama? Dasar perempuan ga tau diri." Ujarnya menuduh Hana.


"Bukan Rendra.. bukan Hana.. tapi teman-teman sosialita mama yang menghina mama.." Jawab Hanum.

__ADS_1


"Teman sosialita mama? Bukannya mereka teman-teman mama yang baik? Merek kan ibu-ibu berpendidikan ma.." Ucap Rendra heran.


"Baik kalau mama lagi di atas. Tapi, ketika mama sedang di bawah mereka malah menghina mama dan mengatakan mama adalah gembel, tidak berguna.. hiks hiks," lirihnya.


__ADS_2