
Hari persidangan pertama Hana dengan Rendra pun telah tiba. Hana dan keluarganya mengantar Hana sampai ke persidangan. Bahkan Sinta juga ikut mengantar Hana sampai ke persidangan. Sinta memberi semangat terhadap Hana. Bahkan Ayah dan ibunya juga memberi semangat kepadanya. Juga Cantika yaitu Adik Hana yang baru datang dari luar negeri juga memberi semangat kepada kakaknya.
"Hana, saya yakin kalau kamu pasti bisa menghadapi ini.." Ujar Sinta.
"Hana, papa dan mama akan terus mendukungmu.. papa dan mama akan selalu ada di sampingmu.." Ucap Sandi.
"Betul Hana.. apa pun yang menjadi keputusan kamu.. kami dukung nak.. kuat ya sayang.." Ucap Dina.
"Kak Hana.. jangan khawatir ya.. Aku yakin kok kalau kak Hana itu pasti bisa, pasti kuat, semangat ya kak.. Kalau kakak udah resmi cerai dengan Rendra, nanti bakal Aku kenalin deh sama dosen-dosen Aku.. dosen-dosen Aku banyak yang muda lo kak, ganteng, tajir-tajir juga.. kalau cuma modelan macam Rendra.. apaan tuh kak.. ga ada apa-apanya." Ujar Cantika bermaksud untuk menghibur agar kakaknya tidak galau.
"Ah.. kamu apaan si dek.. Ngaco deh.." Ucap Hana.
"Ya, ga apa-apanya dong Hana.. Aku juga punya ponakan yang juga lebih dari Rendra... Aku yakin kalau dia bertemu kamu.. pasti dia langsung suka.." Ucap Sinta.
"Untuk saat ini, saya belum kepikiran ke situ Bu.." Ucap Hana.
"Iya Hana.. saya mengerti.." Ucap Sinta.
Sebentar lagi, sidang akan dimulai. Hana pun dipersilahkan untuk memasuki ruangan. Begitu juga dengan Rendra, Iya juga dipersilahkan masuk ke dalam ruang sidang. Rendra. Hanum dan Almira juga menunggu di luar.
Dalam persidangan hakim membacakan sebuah bukti akurat yang diberikan oleh Hana. Rendra tidak menyangka kalau Hana akan memiliki bukti-bukti perselingkuhan itu. Bahkan, Hanum pun juga terlibat dalam perselingkuhan mereka. Rendra terkejut dengan surat yang telah dibacakan oleh Hakim.
Dan Hakim juga mengabulkan semua tuntutan yang diajukan Hana terhadap Rendra. Rendra tidak bisa menerima dengan keputusan Hakim.
"Enggak bisa! Ini ga adil.. kalau begitu.. saya juga mau mengungkapkan bahwa Hana juga selingkuh. Iya selingkuh sebelum saya selingkuh." Ucapnya. Hana hanya diam saja, Hana mempercayai pengacaranya. Hana membiarkan pengacara Hana yang berbicara.
"Kalau Ibu Hana pernah selingkuh, apakah anda memiliki bukti yang kuat?" Tanya pengacara Hana.
__ADS_1
"Saya memang tidak memiliki bukti apapun. Tapi, saya yakin kalau dia juga selingkuh!" Ujar Rendra dengan telunjuknya yang menunjuk ke wajah Hana.
"Apa yang membuat Anda yakin dengan tuduhan anda?" Tanya Hakim.
"Begini bapak Hakim yang mulia.. Saudari Hana ini meninggalkan rumah sudah lama. Sementara, Saudari Hana waktu itu masih baru mendapatkan pekerjaan. Saudari Hana ini pindah rumah karena iya sudah membeli rumah yang baru. Sementara saudari Hana waktu itu masih baru dapat pekerjaan. Darimana uang yang iya dapatkan untuk membeli sebuah rumah dengan harga yang tidak murah? Padahal selama ini, dia bergantung dengan suaminya. Coba bapak Hakim pikir.. apa iya saudari Hana tidak melakukan perselingkuhan?" Ujar seorang pengacara yang disewa oleh Rendra. Hakim itu manggut-manggut dan bertanya kebenarannya kepada Hana sendiri.
"Apa benar yang dikatakan oleh pengacara saudara Rendra Ibu Hana?" Hakim.
"Itu tidak benar pak Hakim, apa yang dituduhkan oleh bapak Rendra dan pengacaranya itu adalah fitnah. Saya memang pindah rumah, dan saya memang membeli rumah sendiri. Tapi, saya membeli rumah itu dengan uang saya sendiri. Selama saya menjadi istri bapak Rendra, saya tidak pernah dinafkahi. Selama ini, saya dan anak saya tidak bergantung kepada Rendra. Bahkan, Rendra menelantarkan saya. Yang ada, Rendra itu malah membelikan rumah untuk selingkuhannya. Tak hanya itu, bahkan Rendra transfer tiap bulan kepada selingkuhannya dengan jumlah yang tidak sedikit." Ungkap Hana.
"Anda jangan memutar balikkan fakta nona.." Ujar pengacara Rendra.
"Memutar balikkan fakta? Oh tentu tidak.. saya berbicara bukan sekedar berbicara.. tapi saya berbicara sudah dengan buktinya.. bapak Hakim bisa melihat ini.." Ucap Hana sembari memberikan sebuah bukti kepada Hakim itu.
Setelah melihat semua bukti-bukti yang ada, Hakim pun berdiskusi sejenak. Dan tak lama, Hakim memutuskan bahwa tuntutan Rendra tidak diterima. Alhasil, Hana yang memenangkan persidangan ini. Untungnya saja Hana tidak menuntut harta gono gini kepada Rendra. Hana bersyukur karena persidangan telah selesai. Hana dan Rendra pun sudah resmi bercerai. Hana dan Rendra pun beranjak dari tempat duduk. Hana pun bersalaman untuk yang terakhir kalinya dengan Rendra. Dan Iya juga mengembalikan cincin pernikahannya. Hana memberikan sebuah senyum kemenangan kepada Rendra.
"Bagaimana Rendra? Apa tuntutan kamu diterima oleh Hakim?" Tanya Almira.
"Ya pasti diterima dong.. karena kan anak saya bukan orang sembarangan. Pengacaranya aja adalah pengacara yang sangat mahal.. jadi, Hakim itu akan berpikir bahwa anak sayalah yang benar." Ucap Hanum. Sementara Rendra, dia hanya diam saja. Rendra tidak menjawab pertanyaan dari Almira.
"Rendra.. kenapa kamu diam saja?" Tanya Almira.
"Sebenarnya Rendra kalah dalam persidangan ma.." Ungkapnya demikian.
"Apa? Kalah? Kok bisa?" Tanya Hanum terkejut dan heran kenapa bisa kalah.
"Iya ma.. karena tuntutan Aku ga ada bukti yang otentik ma.. meskipun pengacara yang membelanya tetap saja tidak bisa.. Sementara Hana, dia punya semua bukti yang benar-benar akurat ma.. Sehingga Hana lah yang menjadi pemenangnya." Ujar Rendra.
__ADS_1
"Apa Hana juga menuntut tentang harta gono- gini sama kamu?" Tanya Almira khawatir jika Hana akan meminta haknya kepada Rendra.
"Untungnya sih.. Hana tidak akan meminta apa-apa dari Aku.." Jawab Rendra.
"Hah.. baguslah.. aman berati.." Ucap Almira.
.
.
.
Sementara Hana dan keluarganya, mereka merayakan kemenangan Hana. Sinta juga tidak lupa mengucapkan selamat kepada Hana.
"Hana, selamat ya.. kamu bisa melakukan ini sendiri.. dan kamu bisa mengumpulkan semua bukti yang ada.. hingga pada akhirnya kamu menang dalam persidangan.." Ujar Sinta.
"Iya, terimakasih bu Sinta.." Ujar Hana.
...****************...
Sekarang, Hana dan Rehan kembali ke rumah orang tuanya. Sebenarnya Hana sudah punya rumah sendiri. Namun, Hana ingin menenangkan pikirannya kembali dengan cara tinggal bersama mereka untuk sementara waktu.
"Hana.. apa kamu masih ingin pulang ke rumah kamu yang baru?" Tanya Sandi.
"Iya pa.. itu kan rumah Aku.. pasti Aku akan pulang ke sana.. tapi entar pa.. Aku masih ingin menenangkan pikiran Aku dulu.." Ujar Hana.
"Iya Hana.. papa ga akan melarang kamu.. kamu sudah dewasa.. jadi papa percaya sama kamu.. kalau kamu tau mana yang terbaik buat kamu.." Ujar papanya.
__ADS_1