
Mendengar jawaban Hana, Hanum pun jadi malu sendiri. Rendra yang melihat ada keributan, akhirnya datang mendekat. Ternyata setelah yang terjadi keributan itu adalah ibunya sendiri. Rendra pun langsung menghampiri ibunya.
"Ada apa ini? Hana? ma.. sekarang kita pergi dari sini ya.. maaf ya Hana, jika mamaku membuat ulah lagi padamu.." Ujar Rendra. Rendra pun langsung membawa pergi Hanum dari hadapan Hana.
.
.
"Kamu itu apa-apaan sih Rendra? Kenapa kamu halangi mama untuk memakai Hana? Kamu jatuh cinta lagi sama dia? Iya?" Ucap Hanum. Rendra menggelengkan kepala dengan sikap mamanya yang memalukan. kemudian, Rendra pun memberikan pengertian kepada ibunya.
"Bukan begitu ma.. Rendra tau, mama pasti menuduh Hana yang bukan-bukan.. iya kan? Sampai kapan mama harus benci sama Hana? Apa mama belum jera, dengan karma yang sudah kita dapatkan?" Ucap Rendra sadar.
"Karma, karma.. ga ada karma bagi saya yang kaya raya.. ini bukan karma, hanya saja kekayaan kita sedang dirampas oleh orang yang ga tau diri. Sama seperti Hana." Sungut Hanum.
"Segitu bencinya ya, mama sama Hana?" Hanum tidak menjawab pertanyaan Rendra. Hanum masih kembang- kempis karena menahan emosi bertemu dengan Hana.
****************
Acara pun telah dimulai, MC pun telah menaiki panggung dan mulai menyerukan suaranya. MC meminta perhatian para tamu undangan sebentar. MC pun menyarankan agar para tamu undangan duduk di tempat yang telah disediakan.
Para tamu pun mengikuti apa yang dikatakan oleh MC. Termasuk Rendra dan Hanum. MC pun memulai acaranya. Dan tak lama, MC memanggil pemilik perusahaan untuk menaiki panggung yang telah disediakan.
Rendra dan Hanum kaget. Mereka berdua membulatkan matanya yang besar. Hanum tidak menyangka, ternyata pemilik perusahaan yang megah ini adalah Sandi. Hanum dan Rendra kini diam membisu. Mereka tidak dapat berbicara apa-apa lagi. Mereka hanya bisa menundukkan wajahnya karena malu.
__ADS_1
Sandi pun menyampaikan sebuah pidatonya. Sandi juga berterimakasih kepada mereka yang telah bekerja dengan keras dan cerdas di kantor Sandi. Tak lama, Sandi pun memanggil anak-anak dan istrinya untuk segera menyusul dirinya ke atas panggung. Hana berjalan terlebih dahulu ke atas panggung bersama dengan Rehan.
Melihat Rehan, mata Rendra berkaca-kaca. Entah apa yang dirasakan oleh Rendra saat melihat Rehan. Terlihat, Hana sedang menuntun tangan Rehan.
"Rehan.. kamu sudah besar sekarang nak.." Gumamnya. Rendra jadi tertunduk dengan kehadiran mereka.
Sedangkan Hanum, Hanum masih saja merasa tidak suka dengan Hana dan Rehan. Dalam diamnya, Hanum masih saja mencaci dan menghina mereka.
"Halah, cuma gini aja.. lebay banget sih mereka.. pasti mereka mau pamer, mentang berduit, seenaknya mengadakan acara... dasar pencitraan.." Gumamnya. Karena tidak suka, Hanum pun berdiri dari tempat duduk dan iya pun pergi dari ruangan acara itu. Rendra mendongak ke mamanya yang tiba-tiba berdiri dan pergi.
"Mama mau kemana ma?" Tanya Rendra.
"Ga perlu banyak tanya.. yang jelas mama merasa gerah ada di sini.. ya, sudah mama duluan aja!" Sungut Hanum. Dan iya pun langsung pergi begitu saja. Rendra tidak dapat mencegah ibunya. Rendra memilih untuk membiarkan ibunya pergi. Iya masih ingin melihat wajah Rehan.
Di akhir acara, Sandi dan keluarganya membagikan bingkisan yang berisi bahan pokok dan pakaian. Bingkisan ini dibagikan kepada pekrja yang posisinya sebagai OB dan karyawan biasa.
"Alhamdulillah.. lumayan nih.. buat kebutuhan keluarga.. jadi bisa lebih irit bulan ini.." Ucap teman OB Rendra.
"Norak banget kamu.. dapat bingkisan aja bangga.. malu dong.." Ucap Rendra.
"Ren.. kenapa harus malu? Kita kan dikasih, bukan minta.. Ya, setiap tahunnya memang begini.. Lagian, kita sebagai OB gaji kita ga seberapa. Mungkin bagi kamu hal ini tidak ada harganya.. karena kamu hanya tinggal bersama ibu kamu, sedangkan Aku ada anak dan istri yang harus Aku nafkahi.. serta membiayai sekolah anak-anakku. Sekarang, bukan saatnya untuk mementingkan gengsi, selagi itu halal dan merepotkan orang lain gas lah.." Ucap teman OB Rendra. Rendra tertunduk malu. Rendra berfikir apa yang dikatakan oleh temannya itu memanglah benar.
Rendra jadi malu kepada mantan mertua dan mantan istrinya. Dan Rendra juga khawatir dengan mantan mertuanya jika tahu bahwa iya bekerja di kantornya, Sandi akan memecat dirinya. Dan Rendra juga tidak ingin kehilangan pekerjaannya ini. Karena iya sudah merasakan bagaimana sulitnya mencari pekerjaan.
__ADS_1
Saatnya tiba giliran Rendra untuk mengambil bingkisan itu. Terlebih dahulu Rendra menggunakan masker dan topi berwarna hitam dan Rendra merendahkan topinya yang lebih menutupi wajahnya. Hal ini iya lakukan agar iya tidak dikenali oleh Hana dan mantan mertuanya.
Saat Hana membagikan bingkisan itu, Hana merasa tidak asing dengan sosok pria yang ada di depannya. Hana seperti mengenali laki-laki itu.
"Apa mungkin dia?" Gumamnya.
Si kecil Rehan, juga melihat pria itu. Iya dengan nalurinya membuntuti Rendra di belakangnya. Hana memanggil putranya tersebut, namun Rehan tidak menghiraukan panggilan Hana.
"Rehan, mau kemana nak?" Panggil Hana.
"Sebentar ya pa.. Hana kejar Rehan dulu.." Ucap Hana. Sandi mengangguk mempersilahkan Hana. Hana segera membuntuti Rehan. Sampai di luar ruangan, Rehan memanggil Rendra dengan sebutan papa.
"Papa.. papa.." Panggil Rehan. Rendra seketika menghentikan langkahnya. Rendra pun perlahan membalikkan badannya. Iya melihat Rehan sedang berdiri di belakangnya dengan tatapan polosnya.
"Papa.." Rengek Rehan sembari berlari ingin memeluk ayahnya. Hana yang melihat pemandangan itu menjadi diam mematung. Rendra membungkukkan badan dan langsung menggendong Rehan. Dengan hati yang tulus, Rendra mencium pipi anaknya itu. Matanya berkaca-kaca, iya terharu melihat Rehan yang mengikutinya dan memanggilnya papa.
"Rehan.. apa kabar kamu sayang? Papa kangen kamu.. maafin papa yang selama ini menelantarkan kamu nak.. papa memang jahat sama kamu dan ibu kamu.. papa sudah dzolim sama kalian.. maafin papa.." Ucap Rendra lirih. Rendra pun akhirnya menyadari bahwa ada Hana yang sedang berdiri tegak memperhatikannya. Rendra pun tertunduk dan menurunkan Rehan dari gendongannya. Iya menuntun Rehan untuk berjalan ke arah Hana.
"Rehan.. jadi anak yang baik ya.. papa pulang dulu.." Ucap Rendra kepada Rehan sembari duduk jongkok. Rehan yang polos hanya bisa menatap ayahnya itu. Rehan pun berdiri dari duduk jongkok nya.
"Hana.. saya minta maaf, mungkin saat ini saya sudah hilang malu.. tapi saya mohon sama kamu untuk tidak memberitahu papa kamu jika saya bekerja disini.. jujur sekarang ini saya sangat membutuhkan pekerjaan ini.. saya akui bahwa saya adalah laki-laki brengsek yang berbuat dzolim sama kamu dan juga Rehan." Ucapnya mengakui. Dan Rendra pun segera pergi dari hadapan Hana.
"Tunggu!" Cegah Hana. Hana langsung menghampiri Rendra.
__ADS_1
"Rendra.. silahkan kamu bekerja disini.. saya tidak akan bilang ke papa.. saya sudah memaafkan kamu.. sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Kamu hanyalah masa lalu bagi Aku.." Ucap Hana.