
"Licik kamu Almira! Saya tidak menyangka kamu sejahat ini!" Seru Rendra.
"Kenapa? Kaget? Hahaha.."
"Sekarang juga, pergi kalian dari sini! Dan jangan pernah mengganggu acara pernikahan saya! Pengawal.." Usir Almira dan memanggil pengawalnya. Tak lama pun mereka akhirnya datang.
"Usir mereka berdua dari sini!" Perintah Almira.
Pengawal Almira pun mengusir paksa Rendra dan Hanum.
"Lepasin saya! Apa-apaan kalian! Kalian belum tau siapa saya hah?" Seru Rendra. Mereka pun menghempaskan Rendra dan Hanum sampai menuju luar gerbang. Kemudian, pengawal Almira menutup gerbangnya.
"Ah.. sialan!" Seru Rendra sembari menendang pintu gerbang.
****************
Pagi-pagi, Rendra sudah mulai berangkat ke kantor. Rendra ingin menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Rendra ingin menyibukkan waktunya sesibuk mungkin agar iya tidak lagi ingat dengan Almira.
Sesampainya di sana, Rendra segera menuju ke ruangannya. Tapi, anehnya Rendra malah di halang oleh dua penjaga pintu ruangannya. Rendra merasa heran dengan dua orang itu. Kenapa Rendra tidak diijinkan masuk ke ruangannya sendiri. Rendra juga tidak mengenali mereka berdua. Iya juga baru melihat dua orang itu.
"Siapa kalian? Kenapa kalian menghalangiku? Ini ruangan saya!" Ujar Rendra.
"Maaf, kami hanya menjalankan perintah!" Jawabnya.
"Siapa yang memerintahkan kalian? Saya ini bos disini." Ujar Rendra.
"Bos kamu bilang?" Terdengar suara seorang perempuan tiba-tiba dari arah belakang Rendra. Rendra pun membalikkan badannya ke belakang.
"Almira?" Ucap Rendra seketika terkejut.
"Yah.. kenapa?" Seru Almira.
"Buat apa lagi kamu kesini?" Tanya Rendra.
"Kamu lupa ya? Kalau perusahaan ini sekarang sudah jadi milikku?" Seru Almira. Rendra hanya diam sambil melongo.
"Jangan mimpi kamu Almira.. setelah apa yang kamu lakukan padaku.. Sekarang juga kamu pergi dari sini!" Usir Rendra dengan nada tinggi.
"Hahaha... rupanya kamu benar-benar hilang ingatan ya? Sekarang kamu liat ini baik-baik, buka mata kamu!" Ujar Almira sembari memberikan sebuah berkas kepada Rendra. Rendra membaca dengan seksama berkas itu. Wajah Rendra seketika berubah menjadi merah.
"Kamu benar-benar licik Almira!" Seru Rendra.
"Bukan licik sayang.. tapi pintar!" Ucap Almira sembari menyentuh kepala sebelah.
__ADS_1
"Penjaga! Usir laki-laki ini dari sini! Jangan biarkan dia masuk." Perintah Almira.
"Baik Bos!"
Mereka pun mengusir Rendra secara paksa. Dan menghempaskan sampai di luar kantor.
"Ah.. sialan! Kamu benar-benar orang licik Almira.. saya akan balas kamu!" Seru Rendra. Rendra akhirnya pulang dengan kesal karena ulah Almira.
.
.
"Loh Rendra.. kok kamu sudah pulang?" Tanya Hanum heran. dengan wajah lesu yang penuh dengan kekesalan, Rendra tidak menjawab pertanyaan ibunya.
"Rendra.. kenapa wajah kamu masam gitu? Ada apa?" Tanya Hanum merasa ada yang aneh.
"Rendra diusir dari kantor ma!" Jawabnya spontan. Mendengar itu, Hanum kaget.
"Kok bisa? Itukan kantor kamu sendiri Rendra.." Ujar Hanum tidak habis pikir.
"Almira sudah mengambil alih semuanya ma. Iya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan semuanya." Ucap Rendra lemas.
"Apa? Jadi perempuan iblis itu yang menjadi dalangnya?" Seru Hanum.
"Benar-benar perempuan iblis, perempuan ular, mata duitan!" Seru Hanum lagi.
Ting
Tong
Terdengar suara bel pintu dari luar. Hanum segera membuka pintu tersebut. Hanum melotot melihat siapa yang datang.
"Untuk apalagi kamu datang ke sini hai perempuan ular?" Sungut Hanum. Tanpa basa-basi lagi, Almira langsung menerobos masuk ke dalam rumah Hanum.
"Almira, siapa yang ijinkan kamu masuk? Ini rumahku. Kenapa kamu main masuk begitu saja tanpa ijin dariku?" Ucap Hanum sembari melangkahkan kakinya dengan cepat mengikuti langkah Almira.
"Mulai sekarang rumah ini menjadi milik Aku. Dan kalian, pergi dari sini atau jadi babu di rumah saya!" Ucap Almira dengan pedenya.
"Apa-apaan kamu Almira? Ngaco kamu, sejak kapan rumah ini jadi milik kamu?" Ujar Hanum.
"Sejak kapan? Sejak kamu menyerahkan rumah ini kepada saya. Kalian lupa ya?" Ucap Almira.
"Saya dan anak saya tidak akan pergi dari sini. Karena ini adalah rumah kami titik. Dan kamu tidak bisa tidak punya hak atas rumah ini. Mengerti?" Seru Hanum. Almira pun menunduk sembari menyentuh keningnya dengan ujung jari telunjuknya.
__ADS_1
"Pengawal, usir mereka berdua!" Perintah Almira tanpa basa-basi lagi. Para pengawal Almira pun mengusir Rendra dan Hanum. Mereka menghempaskan Hanum dan Rendra. Dan barang-barang mereka pun dilempar oleh pengawal Almira. Kemudian Almira menutup pintu rumah rapat-rapat dan menguncinya dari dalam. Hanum menggedor-gedor pintu memaksa untuk dibuka.
"Almira. Kurang ajar kamu!" Teriak Hanum.
****************
"Aduh Rendra.. mama capek Rendra.. harus jalan kaki begini.." Rengek Hanum.
"Ya, terus kita mau berhenti dimana ma? Memangnya mama mau, kita berhenti dipinggir jalan mirip orang gembel?" Ucap Rendra. Hanum menggelengkan kepala.
"Rendra, tapi mama capek.. cepatlah kamu dapatkan kontrakan sementara.. Yang penting kita ada tempat tinggal.." Ucap Hanum.
Rendra pun berusaha untuk mencari rumah kontrakan. Terlebih dahulu Rendra melihat isi saldo rekeningnya. Setelah itu Rendra mulai mencari kontrakan yang pas. Yang sesuai dengan keadaan ekonominya.
.
.
Akhirnya, Rendra pun menemukan rumah kontrakan itu. Hanum melihat sekeliling rumah kontrakan barunya itu. Hanum merasa risih dengan keadaan rumah barunya. Rumah kontrakannya yang sekarang jauh berbeda dengan rumahnya yang lama. Hanum pun melakukan protes terhadap Rendra.
"Rendra, kamu ga salah pilih kontrakan?" Protes Hanum.
"Iya ini kontrakan kita sekarang ma.." Jawabnya.
"Ya, ampun Rendra.. bisa ga sih, kamu cari kontrakan yang elit sedikit.. malah pilih kontrakan seperti ini.. mana panas lagi, tempatnya sempit.." Protes Hanum lagi.
"Uang Aku hanya cukup untuk kontrakan seperti ini ma.. Dan kebutuhan sehari-hari kita bagaimana, kalau kita pilih kontrakan yang lebih besar, bisa tidak makan kita.. apalagi, untuk saat ini Aku harus mencari kerja dulu ma.." Ucap Rendra.
"Mama ga bisa kalau tinggal disini Rendra.. mama mau rumah kita yang dulu.." Ujarnya.
"Sabar ya ma.. gini saja ma.. kalau misalnya nanti Rendra sudah dapat pekerjaan, Rendra janji bakal carikan rumah kontrakan yang lebih bagus dari ini.. tapi untuk sementara waktu kita tinggal di sini ya ma? Daripada kita tidak punya tempat tinggal.. memangnya mama mau kita tinggal di jalan?" Ujar Rendra. Hanum hanya menggelengkan kepala.
"Tapi benar ya.. kamu harus cari kontrakan yang lebih bagus dari ini.." Ucap Hanum.
"Iya ma.. Aku janji.." Ucap Rendra.
Rendra dan Hanum mulai membersihkan rumah kontrakannya. Sepanjang membersihkan rumah kontrakannya, Hanum menggerutu dan mengeluh.
"Gini amat sih punya rumah kontrakan.. bikin capek, kesal, lesu.. Kalau begini terus, bisa jamuran saya.." Ujarnya. Rendra hanya bisa diam dan menggelengkan kepala.
"Ma.. mama lapar enggak?" Tanya Rendra.
"Ya, lapar lah Rendra.." Jawab Hanum.
__ADS_1