
Hana sengaja membeli rumah dekat rumah rahasia Almira dan suaminya itu. Hana juga memastikan bahwa rumahnya dan rumah mereka berhadapan. Setelah Hana menyimak rumah rumah itu, dan menyamakannya dengan di foto, Hana sangat yakin bahwa rumah itu adalah rumah rahasia mereka. Dan keputusan Hana sudah bulat, bahwa Hana akan membeli rumah dekat situ.
.
.
.
Pembelian rumah pun telah deal. Dan Hana melihat sekeliling rumah barunya itu. Hana merasa cukup nyaman dengan keadaan rumah itu. Dan Hana bisa dengan leluasa memantau mereka.
"Maafkan Aku mas Rendra, kamu boleh berbohong denganku. Tapi, Aku bukan wanita bodoh yang kamu kira. Suatu saat Aku akan balas kamu. Dan kamu akan merasakan apa yang Aku rasakan saat ini." Sumpah Hana sembari memandang rumah rahasia Rendra itu.
...****************...
Hana pun kembali ke rumah mertuanya. Untuk kali ini, Hana belum memberitahu yang sesungguhnya tentang rencananya yang akan pindah. Setibanya di rumah mertua, Hana langsung diinterogasi oleh Hanum ibu mertuanya.
"Bagus ya.. jam segini baru pulang.. kamu lupa kalau kamu itu punya suami.. bukannya nungguin suami pulang, malah kelayapan." Sungut Hanum. Hana hanya bisa tersenyum dan tidak menghiraukan perkataan ibu mertuanya. Hana langsung pergi menuju ke kamarnya tanpa sedikitpun merespon perkataan ibu mertuanya.
Tentu saja hal ini membuat Hanum sangat kesal terhadap Hana. Hanum langsung mengikuti Hana dari belakang dengan langkah yang lebih cepat. Kemudian, Hanum pun langsung meraih pundak Hana dan membalikkan tubuh Hana untuk berhadapan dengan dirinya. Hanum melotot ke arah Hana. Lalu ia berkata.
"Kamu itu dengar ga sih, apa yang saya bilang? Tambah hari sikap kamu tambah ga sopan Hana!" Ucap Hanum. Kali ini, Hana melepaskan cengkraman tangan mertuanya. Hana menghempaskan kedua tangan itu dengan keras.
"Cukup ma! Cukup dengan semua ocehan mama.. cukup dengan semua ini ma!" Ucap Hana dengan tegas.
__ADS_1
"mulai berani kamu ya.. melawan mertua kamu sendiri, hah?" Ujar Hanum.
"Maaf kalau saya melawan mama. tapi kenapa si ma, mama itu selalu sinis sama Aku? Mama bilang sikap Aku tidak sopan terhadap mama. Memangnya mama maunya Aku harus bersikap gimana lagi, supaya mama berhenti bersikap sinis sama Aku? Selama ini, Aku selalu menghargai mama kok.. hanya saja, mama yang tidak pernah menghargai Aku. Mama selalu ingin dihormati kan, selalu ingin dihargai oleh menantu. Tapi mama sendiri tidak menghargai apa yang Aku lakukan terhadap mama.. Jangankan memuji, bilang terimakasih aja enggak.." Ucap Hana.
"Kamu itu ya, Hana.. dasar menantu tidak tau diri!" Ejek Hanum.
"Iya, Aku memang menantu yang tidak tau diri.. tapi lebih baik dikatakan tidak tau diri daripada jadi orang yang munafik seperti mama." Sungut Hana.
"Apa maksud kamu Hana?" ujar Hanum. Hana tersenyum sinis mendengar pertanyaan dari ibu mertuanya.
"Tanpa Aku jawab, Aku rasa mama pasti mengerti ucapan Aku.. Oh iya.. selama ini, tadi mama bilang Aku kelayapan kan? Aku bukan kelayapan, tapi Aku kerja. Selama ini, mama kan yang selalu bilang.. kalau Aku hanya mengandalkan suami, menantu tidak berguna. Bahkan anehnya lagi, mama lebih memuji seorang pembantu, yang jelas-jelas kerjanya hanya kelayapan." Tugas Hana. Hanum kena mental dengan jawaban Hana. Dan Hanum pun tidak dapat menjawab perkataan Hana. Malah Hanum ingin memukul Hana karena geram dengan jawaban Hana.
"Kurang ajar! Berani sekali kamu ya.." Ujar Hanum sembari ingin melayangkan sebuah tamparan terhadap Hana. Namun dengan sigap, Hana menangkap tangan mertuanya itu. Hana mencengkram dengan erat tangan mertuanya itu. Sehingga tangan Hanum sulit untuk bergerak.
"Mama mau nampar saya? Mama pikir, mudah untuk menyakiti saya dengan tangan kotor mama? Jangan harap mama bisa menyentuh kulit saya!" Ujar Hana tegas. Kemudian, Hana menghempaskan tangan mertuanya itu. Hanum merasa kesakitan dengan hempasan tangan Hana. Dan Hana pun langsung masuk ke kamar.
.
.
...****************...
Pagi-pagi, Hana sudah membereskan semua barang-barangnya. Hana memasukkannya ke dalam koper. Rendra yang melihat itu, terlihat heran. Mengapa Hana membereskan semua barang-barangnya.
__ADS_1
"Hana.. kenapa kamu membereskan semua barang-barang kamu? Memangnya kamu mau kemana?" Tanya Rendra.
"Aku mau pindah ke rumah baru mas.." Ucap Hana.
"Rumah baru?" Tanya Rendra heran.
"Iya mas.. rumah baru.. Aku sudah membeli rumah untuk Aku tinggal." Jawab Hana.
"Emang disini masih kurang Hana?" Tanya Rendra tidak mengerti.
"Disini tidak kurang kok mas.. tapi, Aku ingin hidup tenang aja.. Aku capek menghadapi sikap ibu kamu yang keterlaluan.. Kamu mau ikut Aku tinggal di rumah baru, atau kamu masih mau tetap disini?" Tanya Hana.
"Enggak ah.. mending Aku tinggal disini bersama mama.. kan mama lebih sayang Aku.. sedangkan kamu cuma menantu di rumah ini.. jadi wajar kalau sikap mama seperti itu sama kamu. Ya harusnya kamu lebih hormati mama Aku dong.. karena mama itu susah payah merawat Aku dari kecil.. sedangkan kamu cuma tinggal enaknya aja.. menikmati gajiku.." Ujar Rendra.
"Oh begitu ya mas? kalau begitu sama kok.. orang tua Aku juga susah payah merawat dan membesarkan Aku. Bahkan, mereka juga berusaha keras untuk menjaga hatiku agar Aku tidak kecewa. Mereka juga susah payah banting tulang, demi menyekolahkan Aku hingga Aku supaya Aku menjadi orang sukses. Dan sekarang.. mau ga mau Aku harus meninggalkan kedua orang tuaku. Mereka harus mengikhlaskan Aku untuk menjadi babu di rumah suaminya. Kamu dan Ibu kamu, seenaknya memperlakukan Aku layaknya pembantu di rumah ini. Tanpa digaji sepersen pun.. Oh iya.. Kamu bilang, Aku seenaknya menikmati gaji kamu? Gaji yang mana mas? Bukankah semua gaji kamu, ibu kamu yang handle ya? Aku tanya gaji yang mana? Sepersen pun Aku ga pernah menyentuh uang kamu mas.." Jawab Hana. Rendra hanya tertegun dengan jawaban Hana.
Tanpa basa-basi lagi, Hana langsung pergi dengan membawa Rehan yang masih di gendongan ibunya.
Dengan membelakangi Rendra, perlahan Hana mengusap air yang hampir mengalir di pipinya. Kemudian, Hana pun pergi.
Adi yang melihat Hana membawa koper, menjadi heran. Adi pun bertanya kepada Hana.
"Hana.. kamu mau kemana nak?" Tanya Adi.
__ADS_1
"Maaf pa.. Hana harus pergi dari rumah ini.." Ujar Hana.
"Kenapa Hana? Apa kamu tidak tahan dengan sikap ibu mertua kamu?" Tanya Adi.