Istri seperti babu selingkuhan seperti ratu

Istri seperti babu selingkuhan seperti ratu
Mempermalukan


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu oleh semua pekerja kantor telah tiba. Para pekerja kantor dengan senang hati menyambut acara itu. Terlebih lagi yang bekerja sebagai OB. Mereka merasa bersyukur acara itu tiba. Karena biasanya bos mereka selain menyiapkan makanan, juga membagikan bingkisan yang berisi kebutuhan sehari-hari. Seperti bahan pokok, pakaian dan lain-lain.


"Ma.. sudah siap?" Ujar Rendra.


"Iya mama sudah siap.." Jawabnya.


"Kalau begitu.. kita berangkat yuk ma.." Ucap Rendra. Hanum merasa ragu ketika ingin pergi ke acara tersebut. Hanum diam memaku sejenak.


"Ma.. ayo.." Ajak Rendra membuyarkan lamunan Hanum.


"Ayo Rendra.." Jawabnya.


"Mama ga apa-apa kan?" Tanya Rendra khawatir.


"Enggak Rendra.. mama ga apa-apa.. Ayo kita berangkat.." Ucap Hanum. Tapi Rendra tidak yakin kalau Hanum baik-baik saja. Pasti ada yang sedang dipikirkan oleh Hanum.


"Ma.. kenapa? Cerita dong ma.. pasti ada sesuatu yang mama sembunyikan kan?" Tanya Rendra sekali lagi. Hanum menundukkan kepala. Akhirnya iya menceritakan apa yang ada di pikirannya.


"Mama merasa malu Rendra.. mama malu pergi ke acara tersebut.." Ungkap Hanum.


"Kenapa harus malu ma?" Tanya Rendra heran.


"Coba kamu liat penampilan mama kamu yang sekarang.. sudah benar-benar jadi gembel Rendra.. takutnya di acara nanti, para undangan berpakaian sangat bagus. Sementara mama hanya berpakaian murahan begini.." Ujar Hanum. Rendra membuang nafas dengan sifat mamanya yang belum mengerti keadaan. Dan Rendra mencoba untuk memberi semangat kepada mamanya.


"Mamaku yang cantik.. kenapa harus malu.. memang keadaan kita saat ini seperti ini.. Ayolah ma.. buang sifat gengsinya mama.. menurut Aku pakaian mama bagus kok.. bahkan teman-teman Rendra, juga sangat sederhana kok ma.. mama mending, masih ngerti style. Sedangkan mereka teman-teman Rendra tidak mengerti apa-apa ma.." Ujar Rendra. Hanum pun menjadi lebih lega mendengar kata-kata dari Rendra. Dan keraguan di hari Hanum pun mulai memudar.


"Ya, sudah.. ayok.. kita pergi Rendra.." Ucap Hanum. Mereka pun berangkat ke acara kantor.

__ADS_1


****************


Sesampainya di tempat acara, Hanum membulatkan kedua matanya. Iya sangat takjub melihat pemandangan yang lebih dari sekedar indah dan sangat elegan. Bahkan, baru pertama kali Hanum melihat fasilitas kantor yang sangat mewah. Dan juga sangat takjub dengan bangunan kantor yang menyerupai istana.


"Rendra... ini tempat kerja kamu?" Tanya Hanum seolah tidak percaya. Sembari mengelilingi lingkungan sekitar dengan kedua matanya.


"Iya ma.. ini tempat kerja Aku.." Jawab Rendra.


****************


 Acara pun akan segera dimulai. Rendra dan Hanum mulai masuk ke ruang acara. MC mengumumkan bahwa para tamu undangan untuk segera menikmati. hidangan yang ada. Melihat menu makanan itu, Hanum menjadi ngiler. Sudah lama sekali Hanum tidak merasakan rasanya makan enak. Dan Hanum pun segera mengambil makanan sebanyak mungkin.


Rendra yang memperhatikan ibunya menjadi malu sendiri. Rendra merasa malu karena Hanum mengambil makanan seperti orang rakus.


"Rendra.. itu ibu kamu?" Tanya temannya.


"Iya itu ibu saya.." Jawab Rendra dibarengi dengan anggukan. Rendra pun menghampiri mamanya untuk tetap bersikap elegan.


"Aduh Rendra.. kamu ngertiin mama dong.. sudah lama sekali mama tidak makan, makanan enak begini.. ini adalah kesempatan mama untuk makan, makanan ini.." Jawab Hanum.


"Iya.. Rendra tau ma.. tapi tolong ma.. Rendra malu sama teman-teman Rendra.." Ucapnya.


"Halah.. cuma sesama OB aja malu.." Ejek mamanya. Rendra hanya menggelengkan kepala dengan sikap mamanya itu. Rendra pun akhirnya pergi dari hadapan mamanya.


.


.

__ADS_1


.


Hanum jadi bingung mencari tempat untuk bisa menikmati makanan yang diambilnya. Tak lama, Hanum menemukan tempat untuk menikmati makanan. Hanum pun langsung melahap makanan itu. Orang-orang yang melihat Hanum menjadi sangat risih. Karena Hanum makan seperti itu.


Hanum menjadi bahan pembicaraan orang lain. Tanpa disengaja, sikap rakus Hanum terlihat oleh Hana. Hana pun langsung menghampiri Hanum. Iya memastikan apakah itu beneran Hanum atau bukan.


"Ibu Hanum?" Sapa Hana yang ada di belakangnya. Hanum pun seketika berhenti melahap makanannya dan langsung berbalik arah. Iya mendongak ke atas dan melihat wajah Hana. Melihat Hana, Hanum menjadi tidak selera. Iya pun langsung menaruh makanannya.


Seketika Hanum langsung berdiri dari tempat duduk. Dan dengan bangganya memaki-maki Hana.


"Oh.. ternyata perempuan perebut ada disini juga?" Sungut Hanum. Hana mengernyitkan kening.


"Maksudnya apa ya bu?" Tanya Hana tidak mengerti.


"Gara-gara kamu, saya jadi miskin. Kamu, perempuan tidak tau diri. Seandainya kamu tidak merebut perusahaan suamiku, mungkin saat ini kehidupanku tidak begini." Ujar Hanum dengan suara keras. Hanum dan Hana, kini menjadi tontonan banyak orang. Hana melihat di sekitarnya, ternyata mereka melihat dirinya. Mereka saling pandang dan saling bertanya satu sama lain.


"Saya merebut perusahaan Ibu? Perusahaan yang mana yang saya rebut?" Ucap Hana.


"Halah.. jangan pura-pura ga tau kamu!" Ucap Hanum.


"Hei.. semua yang hadir disini, kalian hati-hati dengan perempuan ini. Perempuan ini, tukang rebut.. Perebut harta orang.. saya, saya sudah jadi korban pertama dia.." Teriak Hanum memfitnah Hana. Semua orang yang mendengarnya, menggelengkan kepala. Seolah-olah mereka tidak percaya dengan apa yang Hanum katakan. Kemudian, Hanum pun mendorong Hana kebelakang hingga Hana hampir jatuh. Beruntung saja ada Veri yang dengan sigap menangkap Hana. Hingga Hana tidak sampai terjatuh.


"Ada apa ini?" Tanya Veri. Hanum tersenyum kecut saat melihat Veri.


"Cocok sudah! Kalian berdua sama-sama pengecut! Kamu laki-laki perebut istri orang, sedangkan kamu adalah wanita murahan yang paling termurah!" Ucap Hanum yang menghina Hana dan Veri. Hana sudah tidak dapat lagi menahan malu karena ocehan Hanum. Banyak orang yang sudah mengomentari Hana karena fitnah Hanum ini.


Dengan penuh emosi dan rasa kesal, Hana pun langsung melayangkan sebuah tamparan ke wajah Hanum. Semua yang menonton itu, seketika membelalakkan mata bahkan, Veri pun juga membulatkan matanya yang besar.

__ADS_1


"Hana.." Ucap Veri seketika.


"Cukup! Sudah cukup kamu menjelek-jelekkan saya! Saya pikir, setelah keadaan kamu seperti ini, kamu akan berubah dan sadar. Tapi, ternyata kamu tidak berubah malah semakin menjadi! Rupanya, kamu belum sadar juga ya? Kamu seperti ini, itu karena ulah kamu sendiri. Dan kamu, sudah memfitnah orang yang ga bersalah.. dan ga ada sangkut pautnya dengan ini! Kamu lupa, dengan apa yang telah kamu lakukan? Kalau saya dibilang perempuan ga tau diri.. lalu apa kabarnya dengan dirimu yang mendukung perselingkuhan anaknya.. bahkan, memuji orang lain dibanding menantunya sendiri.." Jelas Hana.


__ADS_2