
"Keterlaluan mama. Keterlaluan kalian! Ok, mama bilang Hana juga orang luar kan? Sama kalau begitu, Almira hanya pembantu disini.. berarti dia orang luar juga.. yang ga ada kaitannya dengan keluarga kita. Sekarang juga, kamu pergi dari sini Almira.. saya ga sudi melihat wajah kamu. Dan mama pergi juga dari rumah ini.. karena mama hanya orang luar dan juga berasal dari kalangan orang yang biasa juga kan?" Usir Adi akhirnya.
"Papa ngusir mama?" Tanya Hanum kaget.
"Iya!" Jawab Adi singkat.
"Papa ga bisa mengusir mama begitu saja! Mama ini istri papa, mama sudah bertahun-tahun menemani papa susah dan senang." Ujar Rendra membela mamanya.
"Diam kamu pengkhianat! Kamu sendiri kenapa tega mengkhianati istri kamu? Padahal Hana juga baik sama kamu dan juga tidak pernah dendam dengan perbuatan jahat mama kamu!" Ucap Adi. Hanum langsung mendekati Rendra dan mengelus pundak Rendra.
"Pa.. Jangan pernah mengatakan Rendra seorang pengkhianat. Bukan Rendra yang pengkhianat tapi Hana nya saja yang gampangan.. papa sudah tau kalau anak kita ini memang playboy.. Tapi, Hana dibutakan oleh cinta." Ujar Hanum.
"Pergi kalian!" Bentak Adi dengan mata yang sudah memerah. Hanum pun tertawa terbahak-bahak mendengar Adi yang marah.
"Hahahaha.. Papa mengusir mama? Papa ga sadar siapa yang papa usir? Apa papa lupa, bahwa rumah ini sudah atas nama Aku?" Ujar Hanum mengungkapkan.
"Apa maksud kamu? Sejak kapan saya merubah rumah ini menjadi nama kamu?" Tanya Adi heran.
"Oh.. papa perlu bukti? Ok, sebentar ya.. saya ambil dulu buktinya." Ujar Hanum sembari bergegas ke kamar untuk mengambil sebuah berkas. Tak lama, Hanum pun datang lagi dan memberikan sebuah dokumen penting kepada Adi.
"Ini, sekarang kamu liat sendiri!" Ujar Hanum sembari menyodorkan dokumen tersebut kepada Adi. Adi pun langsung mengambil dokumen tersebut. Adi terkejut melihat isi dokumen itu. Ternyata rumah itu sudah menjadi atas nama Hanum dan sudah tertera tanda tangan Adi juga di dalamnya. Adi menggelengkan kepala dan tidak percaya akan hal itu.
"Ga mungkin, ini ga mungkin.. saya ga pernah merasa tanda tangan ini.. Kamu benar-benar licik Hanum!" Ujar Adi sembari menunjuk ke arah Hanum.
"Licik! oh.. tentu bukan dong sayang.. kamu sendiri yang tanda tangan.. kenapa menyalahkan Aku? Kamu ga ingat dengan tanda tangan kamu? Ini asli loh.. tanda tangan kamu sendiri dari tangan kamu.." Ucap Hanum sambil tertawa.
"Benar-benar licik kamu Hanum! Saya tidak menyangka kalau kamu selicik ini." Ujar Adi sembari memegang bagian dadanya karena menahan sakit.
__ADS_1
"Bagaimana pa? Apa papa masih berkuasa mengusir Aku? Hahaha.. jangan kira papa bisa mengusir Aku dari sini.." Ujarnya. Adi sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa. Dadanya sungguh sakit. Dan Adi pun juga tidak dapat menahan rasa sakit di dadanya.
Brak!
Adi terjatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri. Rendra dan Hanum menjadi terkejut karena Adi tiba-tiba tidak sadarkan diri.
"Papa.." Teriak Rendra langsung mendekati papanya.
"Aduh.. papa, masak cuma begini sudah drop sih? Mama kan cuma berkata yang sebenarnya.. jangan lebay dong pa.." Ujar Hanum mengira kalau suaminya hanya pura-pura pingsan saja.
"Ma! Ini papa beneran pingsan ma.. kita harus segera bawa papa ke rumah sakit. Jangan sampai orang lain tau tentang kejadian ini.. kalau sampai ada salah satu orang yang tau.. habis kita ma.." Ujar Rendra. Dengan segera, Rendra pun langsung menggotong papanya ke dalam mobil. Rendra langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Papa.. bertahan ya.. sebentar lagi kita bakalan sampai di rumah sakit.." Ujar Rendra panik.
.
.
.
"Bagaimana keadaan papa saya dok?" Tanya Rendra. Dokter itu pun menundukkan wajahnya. Kemudian dokter itu menyampaikan suatu kenyataan pahit.
"Maafkan saya pak.. saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi bapak Adi sudah tidak tertolong." Ucap dokter itu. Rendra terkejut mendengar ucapan dari dokter itu. Rendra pun langsung bergegas menuju ruang UGD. Rendra melihat sekujur tubuh papanya sudah tertutup oleh kain. Rendra perlahan melangkah mendekati papanya yang sudah tidak bernafas lagi. Rendra dengan pelan membuka kain yang menutupi wajah papanya.
"Pa.." Lirihnya.
****************
__ADS_1
Acara pemakaman hampir selesai. Para peziarah mulai pergi satu persatu. Sekarang hanya tinggal Rendra dan Ibunya juga Almira yang di samping Rendra.
Dari jauh, Hana berlari mendekati makam ayah mertuanya itu. Tiba di sana Hana langsung memeluk nisan papa mertuanya.
"Papa.. kenapa papa pergi secepat ini? Maafin Hana ya, pa.. Hana ga bisa jenguk papa disaat papa sakit.. Maafin Hana.." Ujar Hana sembari menangis dalam pelukan nisan.
"Emang ini semua salah kamu Hana!" Ucap Hanum menyalahkan Hana. Hana pun langsung berdiri dan menghadap mereka.
"Kenapa sih kamu itu selalu membawa sial di keluarga kita?" Ujar Rendra.
"Kalian kenapa menyalahkan saya?" Tanya Hana.
"Ya memang salah kamu kan?" Ucap Hanum.
"Memang papa ini meninggalnya di mana? Bukannya papa ini kondisinya drop ya? Memang saat papa drop Aku ada di situ? Saya jadi curiga.. jangan-jangan kalian sendiri yang menyebabkan papa meninggal?" Ujar Hana.
"Berani-beraninya kamu nuduh kami Hana?" Sungut Hanum.
"Dasar perempuan pembawa sial.. saya menyesal menikah dengan kamu!" Ucap Rendra kasar.
"Oh.. kamu menyesal ya menikah denganku? Kalau Aku ga pernah menyesal sih menikah dengan kamu mas.. tapi, Aku hanya menyesal pernah percaya oleh laki-laki seperti mu.." Jawab Hana dengan tenang.
"Sekarang.. Aku sudah ada Almira yang tulus dengan Aku. Bisa memenuhi semua kebutuhanku. Jadi jangan harap kalau Aku dengan Almira akan bubar. Meskipun kamu sudah mengetahui.. Dan ingat! Sampai kapanpun Aku akan tetap memilih bersama Almira.. Tapi kamu tenang saja, Aku tidak akan menceraikan kamu.. karena ada anak." Ujar Rendra dengan PD.
"Oh.. begitu ya mas.. Baiklah kalau begitu Aku akan memperlancar hubungan kalian. Bahkan, kalian mau menikah pun Aku ga peduli. Silahkan kalian mau berbuat apa sesuka hati kalian. Kalian mau berbuat mesum dimana aja itu terserah kalian.. masa bodoh bagi saya. Oh iya satu lagi.. nih buat kamu mas.." Ucap Hana sembari memberikan sebuah amplop warna coklat kepada Rendra.
Rendra pun mengambil amplop berwarna coklat itu. Lalu membuka isi amplop tersebut. Ternyata isi dari amplop itu adalah surat gugatan cerai. Rendra terkejut melihat surat itu. Ternyata Hana sudah mempersiapkan semuanya.
__ADS_1
"Hana! Apa kamu ga kasian sama anak kamu? Bagaimana dengan status anak kamu?" Tanya Rendra.
"Anak kamu? Kamu mau menyebut kita aja sulit. Padahal itu adalah darah daging kamu juga mas.. kamu jangan khawatir tentang status. Karena anakku ga butuh sosok ayah sepertimu." Ucap Hana.