Istri seperti babu selingkuhan seperti ratu

Istri seperti babu selingkuhan seperti ratu
Target telah dicapai


__ADS_3

Setelah itu, Almira segera pergi dari kantor Rendra. Sebelum ada yang mengetahui keberadaannya disitu, Almira melangkahkan kakinya begitu cepat dan tergesa-gesa. Hingga Iya tidak sengaja menabrak seseorang.


Buk!


"Eh.. maaf, Aku ga sengaja.." Ucap Almira.


"Iya ga apa-apa mbak.." Ucap orang itu tanpa melihat wajah Almira.


"Almira..?" Ujar orang tersebut sembari menunjuk ke arahnya.


"Naira..?" Balas Almira panik.


"Kamu ngapain disini?" Tanya Naira sembari mengernyitkan dahi.


"Oh.. enggak kok, ga ngapa-ngapain. Aku cuma lagi cari Rendra disini. Tapi, ternyata Rendra ga ada." Jawab Almira gugup.


"Oh.. begitu ya? Terus, itu apaan?" Tanya Naira sembari menunjuk sesuatu yang dibawa oleh Almira.


"Ini? Bukan apa-apa.. cuma surat lamaran pekerjaan aja.. berhubung Rendra ga ada jadi, Aku bawa lagi.." Ujar Almira memberi alasan.


"Oh.." Ujarnya sembari menganggukkan kepala.


"Oh iya.. Aku duluan ya Naira.. Aku buru-buru soalnya.." Ucap Almira ingin menghindari Naira. Agar Naira tidak terlalu banyak tanya. Almira pun langsung pergi dari hadapan Naira dengan langkah yang terburu-buru. Mata dan kepala Naira memandang dan mengikuti langkah Naira yang terlihat terburu-buru.


"Kenapa langkah Almira terburu-buru seperti itu ya.. seperti ketakutan melihat saya.. emangnya, Aku ini setan apa? Aneh!" Pikirnya.


Naira punya sedikit rasa curiga dengan tingkah Almira. Tapi, tidak ingin ambil pusing. Iya pun juga berlalu pergi dari tempat itu.


****************


Naira bercerita kepada Hanum tentang tingkah Almira yang aneh. Dan Naira mengungkapkan sebuah rasa curiga terhadap Almira. Namun Hanum tidak mempercayai kecurigaannya terhadap Almira. Hanum malah menegur Almira.


"Ma.. tadi Aku bertemu Almira di kantor kak Rendra. Dan Almira terlihat gugup dan panik saat bertemu Aku ma.. saat Aku tanya mau ngapain, jawabnya mau cari kak Rendra. Almira juga membawa sebuah berkas.. setelah Aku tanya lagi, jawabnya itu lamaran pekerjaan.. katanya ingin melamar di kantor kak Rendra.. tapi, kenapa tingkahnya aneh ya ma? Mencurigakan banget gitu.." Ungkap Naira.


"Curiga bagaimana? Orang mau cari kerja kok dicurigai.. ya, bagus dong kalau Almira mau melamar kerja.. itu artinya iya perempuan mandiri.. harusnya kamu bersyukur kalau punya kakak ipar seperti Almira.. berati, dia memang istri idaman.. meskipun dia tunangan Rendra, tapi iya tetap melamar pekerjaan.. itu artinya, dia tidak mengandalkan Rendra.. daripada Hana dulu, iya kan? Kamu mau punya kakak ipar seperti dia?" Ujar Hanum. Naira pun jadi merinding dan mengangkat bahunya.


"Ih.. enggak ah.. amit-amit.. perempuan kok bergantung pada suami terus.." Ujar Naira sembari mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


"Ya makanya.. kamu harus bersyukur punya calon ipar seperti Almira.." Ucap Hanum.


"Iya ma.." Jawab Naira.


"Nanti kalau kakakmu sudah menikah dengan Almira.. perusahaan papamu akan jatuh ke tangan kita lagi." Ucap Hanum.


"Masak si ma? memangnya Almira bisa merebut kembali perusahaan?" Tanya Naira tidak yakin.


"Ya, bisalah sayang.. kalau Almira bekerja di perusahaan Rendra, mereka dengan mudah melakukan kerjasama bukan? Lebih cepat, lebih baik.."Jawab Hanum meyakinkan Naira.


" Oh.. kalau begitu cepat nikahkan saja mereka ma.. Aku ga sabar, ingin cepat-cepat mendapatkan kembali perusahaan papa.. yang seharusnya menjadi milik Aku dan kak Rendra.. iya kan ma?" Ujar Naira.


"Iya Naira.. sabar dong.." Ujar Hanum.


...****************...


"Akhirnya, Aku mendapatkan berkas ini. Jadi sebentar lagi, Aku akan mendapatkan apa yang Aku mau." Ucapnya.


"Iya sayang.. semoga apa yang kamu dapatkan dapat tercapai ya? Semoga dendam kamu segera terbalaskan." Kata Alex.


"Tapi, kamu ga akan sampai nikah sama Rendra kan?" Tanya Alex.


Ya enggak lah.. mana ada Aku mau nikah sama laki-laki itu? Istri yang sempurna seperti Hana saja dikhianati, apalagi cuma Aku yang kalah jauh..." Ujar Almira.


" Lantas, kenapa kamu menyingkirkan istri Rendra itu? Dia kan ga ngerti apa-apa tentang masalah kamu ini.." Tanya Alex.


"Aku tidak pernah merasa menyingkirkan siapapun.. justru Rendra dan Hanum sendiri yang menyingkirkan Hana.. Aku tau bagaimana sifat Hanum. Hanum yang egois dan selalu menang sendiri. Orang secantik dan sekaya Hana saja bisa dia hina.. apalagi Aku.. " Ujar Almira.


"Lalu, apa yang akan kamu perbuat terhadap Hanum sayang?" Tanya Alex.


"Aku akan membuat Hanum kehilangan segalanya. Syukur-syukur kalau dia sampai gila.. secara kan Hanum mata duitan.." Ucapnya.


"Lalu, apa kamu akan merebut perusahaan suami Hanum dari tangan Hana?" Tanya Alex lagi.


"Ya, enggak lah.. Aku ga ada urusan sama Hana.. urusanku hanya sama Hanum.. Hana ga ada kaitannya dengan ini.." Ujar Almira lagi.


...****************...

__ADS_1


Di jalan, Almira membeli dua ikat bunga. Iya mengunjungi makam kedua orang tuanya. Dengan menggunakan kacamata hitam dan pakaian hitam, Almira duduk di samping makan Ayah dan ibunya.


"Ayah, Ibu.. apa kabarnya kalian di sana? Pasti kalian sudah tenang di sana ya? Ayah, Ibu.. sekarang Almira sudah besar, sudah dewasa. Almira rindu kalian.. Tapi sekarang, Almira sudah tidak bingung lagi.. Almira menemukan jalan hidup Almira sendiri.." Lirihnya. Tidak terasa buliran air bening mengalir di pipinya. Rasa sedih karena kehilangan yang Almira rasakan sangatlah mendalam.


.


.


Setelah dirasa cukup berbicara dengan nisan ayah dan ibunya.. Almira pun pamit pergi kepada mereka.


"Ayah, Ibu, Almira pulang dulu ya.. terimakasih.." Ucapnya sambil beranjak pergi.


Dalam perjalanan keluar dari kuburan. Almira sempat melihat Hana. Almira menjadi penasaran. Makam siapa yang ingin iya kunjungi. Almira pun mengikuti Hana. Iya bersembunyi dibalik pohon. Almira melihat Hana yang sedang menaburkan bunga di makam Adi.


"Ngapain Hana ke makam om Adi? Pakai menabur bunga segala lagi." Ucap Almira.


"Bodoh amat ah.. ngapain Aku jadi ngurusin Dia? Mau Hana ngapain aja, terserah dia lah.. mending Aku pulang.." Ujarnya. Almira pun pergi dari tempat itu.


...****************...


"Almira.. kamu maunya tunangan dulu sama Rendra atau langsung menikah?" Tanya Hanum.


"Aku terserah mas Rendra sajalah bagaimana enaknya." Jawab Almira.


"Kalau menurut Rendra, lebih baik langsung menikah saja ma.. lebih cepat kan, lebih baik.." Ujar Rendra.


"Bagus! Ini kesempatan bagus, semakin cepat semakin baik.." Gumam Almira.


"Bagaimana sayang? Kamu ga keberatan kan?" Tanya Rendra membuyarkan lamunan Almira.


"Ya, enggak lah.. buat apa keberatan.. ini kan acara pernikahan Aku sendiri.." Jawab Almira.


"Iya sayang.. kamu memang pengertian banget.. beda banget sama Hana!" Puji Rendra. Almira tersenyum geli mendengar kata-kata itu.


"Dasar buaya! Emangnya, kamu pikir Aku bakal tersanjung dengan kata-kata manis dari mulutmu?" Gumamnya lagi.


"Ya, sudah.. kalian atur saja bagaimana enaknya.. siapkan semuanya dengan matang.." Ujar Hanum.

__ADS_1


__ADS_2