
"Iya Adinda Putri denganmu," tukas Leo lebih tegas.
"Tapi aku,"
"Tapi apa Din? Apa kamu sudah punya kekasih?" selidik Leo penasaran.
"Bukan begitu Le, aku belum siap menikah, aku ingin fokus kerja dulu, ia fokus kerja dulu," cetus Dinda gugup, pernikahannya dengan Reno memang tidak ada yang tahu termasuk Leo.
"Din, aku sudah punya semuanya, aku punya usaha sendiri, aku punya rumah, penghasilan aku perbulan juga ratusan juta, aku punya 3 cafe, tanpa kamu kerja, aku jamin kamu pasti hidup enak dan bahagia," ujar Leo pada Dinda.
Dinda menyimak apa yang di katakan oleh Leo, memang benar apa yang di katakan Leo. Namun takdir yang tidak bisa membuat dirinya menerima Leo untuk menjadi suaminya.
"Le, aku mulai kerja dulu ya," pamit Dinda dan ia buru-buru pergi meninggalkan Leo yang masih duduk.
Leo berdecak kesal, ia mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Din, apa kurangnya aku?" gumam Leo.
Sebenarnya tidak ada yang kurang dari Leo, ia tampan, badannya tinggi tegak, kulitnya putih dan penuh perhatian dan kasih sayang, membuat banyak wanita tertarik padanya namun ya hanya Dinda yang ia inginkan selama ini.
"Sabar Le, mungkin Dinda memang belum siap untuk menikah," batinnya dalam hati.
Dinda di sibukkan dengan pekerjaannya, ia juga tidak mau memikirkan ajakan Leo untuk menikah, apalagi ia sadar posisinya sekarang bukannya seorang gadis lajang lagi, sekarang statusnya itu seorang istri namun tetap gadis karena tidak pernah di sentuh oleh suaminya.
***
Di kantor Reno.
Reno sedang di sibukkan dengan pekerjaannya.
"Ren, ada undangan dari Group Han besok malam jam 7 malam," kata Devan pada Reno.
"Baiklah," jawab Reno cuek.
"Di haruskan membawa pasangan!" lanjut Devan sambil membaca undangan dari Group Han.
Reno menatap Devan serius. "Haruskah?!"
"Harus, undangan ini tertulis seperti itu," tukas Devan.
"Kalau begitu kamu saja yang pergi bersama dengan kekasihmu!" titah Reno pada Devan, Reno juga tampak tidak tertarik dengan undangan yang Devan bacakan, apalagi Vira juga sedang pergi keluar kota.
"Aku inikan jomblo, kekasih siapa yang mau aku ajak ke acara ini?" serkah Devan kesal. "Apa aku harus mengajak Molly, anjing kesayanganku? Yang benar Reno sinting," gumam Devan kesal dalam hatinya.
__ADS_1
Devan dan Reno, mereka adalah saudara dan Devan bekerja di kantor Reno itu menjadi orang kepercayaan Reno. Padahal Devan juga anak orang kaya, ayah nya juga punya rumah sakit, namun Devan memilih untuk tetap bekerja agar bisa mandiri.
Lagian biarpun ayah nya punya rumah sakit, Devan juga tidak mau menjadi seorang Dokter, dia malah bekerja sebagai bawaan Reno, ya tapi ayah nya tidak ada masalah ya penting anaknya tidak bandel dan sukanya hambur-hamburkan uang saja.
"Lalu siapa yang akan pergi ke acara itu? Kan kamu tahu, Vira sedang pergi keluar kota," kata Reno dengan nada menekan.
"Jadi aku juga tidak punya pasangan untuk hadir di acara itu," lanjut Reno cuek.
Devan merasa kesal, rasanya ingin sekali melayangkan tonjokan di wajah tampan Reno, tapi tidak ia lakukan.
"Ren, kamu sudah punya istri, kamu ajaklah istri kamu itu!" titah Devan kasar.
"Van, kamu tahukan aku tidak pernah menginginkan gadis itu," ujar Reno bersungut-sungut marah.
"Reno, ini acara besar, kamu juga harus tahu, jika kamu hadir dengan wanita lain, pasti akan muncul di publik, kamu mau Tante Ria jantungan karena ulah konyolmu itu. Kamu sudah menikah, istrimu juga cantik, apa yang kamu harapkan dari Vira?" seru Devan, ia masih berusaha menahan amarahnya.
"Tapi aku tidak pernah menginginkan gadis itu untuk jadi istriku, Van!" seru Reno dengan lantang.
"Aku tidak mau tahu, lagian Ren, Vira itu tidak sebaik yang kamu kira, suatu saat pasti kamu akan menyesal," tandas Devan dengan tegas.
"Hadiri acara Group Han itu! Karena itu acara penting dan ingat kamu harus hadir dengan istrimu!" lanjut Devan sebelum pergi meninggalkan ruangan Reno.
Devan yang sudah merasa sangat marah, ia memilih beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruangan kerjanya Reno sebelum amarahnya benar-benar pecah.
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Reno sudah ada di rumah sedangkan Dinda belum pulang.
"Tuh anak kemana? Jam segini belum pulang, dasar tukang keluyuran," geram Reno seraya membanting tas kerjanya ke sofa dengan kasar.
Saat Reno hendak mendaratkan pantatnya di sofa, tiba-tiba terdengar suara mobil, Reno pun langsung bergegas untuk mengintip di jendela.
"Pulang dengan siapa lagi dia? Apa sih kerjaan dia? Apa jangan-jangan dia seorang gadis panggilan, padahal kelurganya dulu cukup kaya, namun karena bangkrut ya mungkin saja dia menjadi gadis panggilan, dasar gadis murahan," ujar yang menduga-duga semau hatinya sendiri.
Dinda membuka pintu rumah. "Tumben pintunya tidak di kunci? Apa manusia kulkas itu sudah pulang?" batinnya dalam hati.
"Dari mana saja kamu baru pulang?!" suara menggema terdengar jelas di telinga, iya siapa lagi kalau bukan suara Reno Bagaskoro yang menyebalkan itu.
Dinda menoleh kesal saat melihat tampang wajah tampan suaminya itu.
"Apakah penting aku dari mana? Bukankah kamu tahu, aku bekerja," sahut Dinda ketus.
"Sudah berani kamu padaku, dasar gadis murahan," sorot mata Reno begitu tajam, setajam singa yang ingin menerkam mangsanya.
Hati Dinda begitu tersayat saat mendengar Reno mengatakan bahwa dirinya itu gadis murahan, maksudnya apa?
__ADS_1
"Kamu bilang, kamu bekerja, apakah seorang Bos akan setiap hari mengantarkan anak buahnya pulang, kalau tidak ada sesuatu aku rasa tidak mungkin," tuduh Reno dengan senyum sinis.
"Atau mungkin kamu juga sudah di prawanin oleh bosmu itu, makanya dia selalu mengatarkan kamu pulang," dengan tawa terbahak-bahak, sungguh Dinda merasa Reno sudah cukup keterlaluan, ini sudah termasuk hinaan baginya.
"Cukup!!"
"Jaga mulut kotor tuan itu!!"
"Aku tidak semurahan kekasih kesayangamu itu, tuan," pungkas Dinda dan ia berlalu pergi dari hadapan Reno.
Reno tidak bergeming, ia mencerna kata-kata Dinda baru saja, kenapa dia malah bilang Vira yang murahan, jelas-jelas dia yang sering di antar pulang oleh bosnya, dasar gadis sok polos.
"Vira ku tidak semurahan dirimu!" serunya dengan suara lantang.
Dinda enggan menanggapinya lagi, ia memilih masuk ke dalam kamar dan mandi. "Tuan saja tidak tahu seperti apa kekasih kesayangannya tuan itu? Dasar manusia bodoh," batin Dinda dalam hati.
Dinda bergegas mandi, setelah selesai mandi, ia berganti pakaian dengan baju tidur lengan panjang dan ia langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa tempat Dinda biasa tidur setiap malam.
Reno masuk ke dalam kamar, ia membuka pintu kamar dengan kasar.
"Kenapa malah tidur?" sentak Reno, membuat Dinda membulatkan matanya.
"Sudah malam, memangnya apa yang mau aku lakukan?" tanyanya malas.
"Aku belum makan, buatkan aku makanan! Aku lapar sekali!" kata Reno dengan nada tinggi.
"Oh mau makan, emang doyan dengan masakan aku yang tidak enak? Aku takut tuan akan muntah jika memakan masakanku nanti," sindir Dinda, ia sengaja agar Reno teringat akan kejadian beberapa hari lalu.
Reno tersenyum masam, ia menatap Dinda sengit.
"Buatkan aku makanan sekarang! Jangan banyak bicara!" pungkas Reno galak.
Dengan rasa kesal dalam hatinya Dinda beranjak dari tempat tidurnya, lalu ia bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan makanan untuk Reno.
***
Setelah makanan siap, Reno juga sudah selesai mandi, ia pun bergegas menuju ke ruang makan untuk makan malam.
Setelah selesai makan malam, Reno kembali masuk ke dalam kamar dan Dinda juga masuk ke dalam kamar.
Kini dua sejoli yang tidak saling mencintai itu, akhirnya tertidur nyenyak di tempat mereka masing-masing, Reno tidur dengan nyenyak di ranjang yang empuk dengan selimut tebal sedangkan Dinda tidur di sofa.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia