Istri Yang Tidak Di Inginkan

Istri Yang Tidak Di Inginkan
Minta hak sebagai suami


__ADS_3

"Aku ingin," dengan tatapan yang sulit di artikan Reno malah garuk-garuk kepala, di hadapan Dinda tiba-tiba menjadi salah tingkah. Debaran jantungnya juga semakin cepat, apakah aku harus memeriksakan jantungku ke Dokter? Bisa gila aku kalau seperti ini terus.


"Ingin apa? Katakan saja!" lanjut Dinda, semakin tidak mengerti dengan Reno.


"Aku ingin meminta hak aku, iya hak aku," dengan gugup Reno mengulangi kata-katanya.


Sekilas Dinda menatapnya dengan tatapan kaget, manusia bodoh ini meminta hak, hak apa yang dia maksud? Otak Dinda berputar cepat, namun tidak menemukan jawabannya, ia malah tampak kebingungan.


"Hak apa, maksudnya?" tanya Dinda tak mengerti.


"Hak aku sebagai suamimu," jawab Reno dengan sorot mata begitu dalam.


Dinda tercengang kaget. Hak sebagai suami, berati dia minta hubungan suami istri, apa dia sudah benar-benar tidak waras?


"Aku ini suami sah kamu, jadi tidak salah dong jika aku minta hak aku sebagai suami," jelas Reno dengan sejelas-jelasnya.


"Apa kamu mendadak amnesia? Bukankah dulu kamu melarang aku untuk jatuh cinta padamu, dan sekarang kamu meminta hak kamu sebagai suami, ingat kamu selalu menganggap aku sebagai istri yang tak di inginkan, lalu sekarang kamu meminta hak kamu dengan begitu mudah, aku tidak akan semudah itu untuk kamu bodohi," cecar Dinda, mengingat dulu Reno begitu kejam padanya sungguh hatinya masih sakit hingga saat ini. Jadi maaf saja, aku tidak akan semudah itu untuk memberikan hatiku padanya, aku ingin dia berusaha dan benar-benar membuktikan perasaannya padaku.


"Aku yang akan mulai mencintaimu, Din," ujar Reno dengan nada lembut. Kini Reno menatap dalam-dalam Dinda dengan penuh keseriusan.


Dinda juga menatap Reno, mata kedua insan ini saling menatap dalam-dalam. Di mata Reno jelas sekali kalau benih-benih cinta itu mulai tumbuh, namun di mata Dinda masih meragukan Reno.


"Maka buktikan itu, sebelum kamu membuktikan semuanya, aku tidak akan melakukan kewajibanku sebagai seorang istri," pungkas Dinda dengan tegas dan ia beranjak dari tempat tidur untuk mandi.

__ADS_1


Kini Dinda sudah berada di dalam kamar mandi, ia berdiri di belakang pintu kamar mandi dan saat ini ia merasakan debaran dalam hatinya. "Din, jangan mudah jatuh cinta, apalagi saat ini suamimu baru beberapa hari putus dengan kekasih kesayangannya di masa lalu," lirih hati Dinda.


Aku memang tidak boleh buru-buru jatuh cinta, enak saja dia saja dulu mati-matian menolak aku, bahkan dengan kata-kata yang menyakitkan. Lihat saja dulu perjuangannya seperti apa? Mari kita bermain-main lebih dulu manusia bodoh.


****


Jam menunjukkan pukul 9 pagi, Dinda baru saja selesai menyiapkan sarapan, ia membuat nasi goreng selimut telur pedas. Ia membuat untuk dirinya dan juga suaminya.


Kini mereka berdua berada di meja makan, keduanya makan dengan tenang dan tidak ada obrolan sama sekali.


Setelah selesai makan Dinda membersihkan semuanya, dan setelah semua selesai kini mereka berdua duduk di sofa ruang tengah sambil nonton. Masih hening, dua sejoli itu saling diam dan hanya fokus pada televisi saja.


"Din," lirih Reno membuka obrolan untuk mencairkan suasana yang begitu hening ini.


"Kamu belum menaksir laki-laki lain kan?" tanya Reno hati-hati.


"Entahlah, tapi yang naksir aku banyak," jawab Dinda santai.


Expresi Reno berubah sendu, adakah kesempatan untukku?


"Tapi ingat, suamimu hanya aku," ujar Reno dengan penuh penegasan.


"Suami, suami apa? Suami yang tak diinginkan," sindir Dinda dan mengingatkan akan kata-kata Reno di masalalu.

__ADS_1


"Tentu saja suami satu untuk selamanya," pungkas Reno tegas dengan sorot mata tajam.


Dinda menjulurkan lidahnya. "Wlekk, terserah kamu saja!" ledeknya dengan penuh jail.


Gemas sekali, saat melihat lidah Dinda rasanya ingin sekali memakan lidah itu, lalu menggigitnya dengan lembut. Pikiranku mulai gila lagi, Reno sadar, dasar otak mesum.


"Ingat, jangan melirik laki-laki lain!" titah Reno ketus.


"Dasar tukang ngatur, bukannya kamu dulu juga bersenang-senang dengan Vira," sindir Dinda sinis.


"Itukan,"


"Tring,tring,"


Tiba-tiba ponsel Reno berdering dan Reno melihat ponselnya.


"Untuk apa dia menelponku?" pekik Reno kasar, tapi dia mengangkat telpon itu biarpun rasanya kesal.


"Hallo, ada apa?"


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2