
Satu minggu telah berlalu, hari-hari Dinda dan Reno ya masih sama seperti Tom & Jerry, Ria sebagai seorang ibu juga kadang pusing, tapi kadang juga merasa lucu akan tingkah anak dan menantunya itu.
Biarkan mereka bersikap seperti anak kecil, biarkan mereka sering-sering berdebat, mudah-mudahan dari perdebatan mereka setiap hari menjadikan cinta, cinta yang sejati dan hanya maut yang akan memisahkan mereka bukan pelakor seperti kisah cinta aku dan Mas Restu.
Cinta yang aku pupuk setiap hari, kini sudah layu dan tidak mungkin tumbuh lagi untuk selamanya.
Ria setiap hari selalu berdoa untuk kebahagiaan Dinda dan Reno, Ria ingin keluarga kecil mereka diberikan kebahagiaan dan segera diberikan momongan agar rumah yang megah ini ada tangisan bayi, tapi entah itu kapan akan datang?
Kalau ngomongin momongan, Dinda dan Reno saja belum melakukan ehem-ehem, lalu bagaimana biar adanya tangis bayi? Author rasa harus ada pergulatan panas di atas ranjang dan cairan hangat di sana. Tapi entah kapan itu akan terjadi?
Reno sih manusia bodoh yang tidak peka akan perasaannya, sungguh menyebalkan.
"Hay, mau kemana kamu?" tanya Reno, melihat Dinda tampak cantik dengan gaun berwarna putih dan rambut terurai dengan model ikal, di atas rambutnya di berikan jepit bunga-bunga yang begitu cantik.
Malam ini Dinda mau menghadiri acara ulang tahun Leo, Dinda juga tidak bilang pada Reno, itu sebabnya Reno kaget waktu melihat Dinda dengan dandanan yang begitu cantik.
Dinda menoleh kesal. "Hay, hay, aku punya nama!"
"Kamu mau kemana?" sorot mata Reno menajam seperti singa yang akan menerjang mangsanya.
"Mau ke acara pesta Leo, dia hari ini berulang tahun," sahut Dinda malas.
"Aku ikut denganmu!"
"Untuk apa?"
"Untuk apa? Sekarang sudah malam, tidak baik jika seorang wanita yang sudah bersuami pergi malam-malam sendirian," ujar Reno dengan nada lembut.
Dinda menganga malas, tumben ini manusia bodoh pintar? Tapi dia itu kenapa? Apa kepalanya baru saja kebentur tembok, aku rasa tidak. Tapi akhir-akhir ini Reno memang semakin aneh aku rasa.
"Tuan, apa jangan-jangan tuan sudah mulai jatuh cinta padaku?" tebak Dinda dengan jail, senyum Dinda cukup manis membuat Reno salah tingkah dan hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. "Kenapa mendadak panas seperti ini?" batin Reno dalam hatinya.
"Jangan kepedean kamu!" mulut Reno mengatakan itu, tapi hati Reno lain lagi.
"Apakah penampilanku cantik? Aku ingin malam ini Leo lihat aku cantik," celoteh Dinda seraya berputar-putar di depan kaca meja rias.
__ADS_1
"Ganti gaunmu! Itu terlalu pendek, bahkan kaki mulus itu bisa membuat para laki-laki menjadi buas," sergah Reno dengan nada datar.
"Tapi ini sudah,"
"Tidak ada tapi-tapian ganti sekarang!" Reno memberikan gaun warna biru dongker pada Dinda, gaun panjang dengan lengan panjang ini menurut Reno akan cocok untuk Dinda dan kaki mulus Dinda pasti tidak akan menjadi pusat perhatian para laki-laki nakal. Enak saja tubuh istri Reno Bagaskoro menjadi pusat perhatian, itu tidak akan aku biarkan.
Karena tidak mau berdebat panjang lebar, akhirnya Dinda menurut. Dinda menganti gaunnya dengan gaun pilihan Reno, setelah selesai Dinda juga akhirnya pergi dengan Reno.
Reno juga tampak tampan dengan setelan jas warna hitamnya.
"Tuan,"
"Panggil aku sayang!" titah Reno dengan sorot mata tajam.
"Sayang?!" Dinda menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Jika kamu tidak mau, panggil aku dengan sebutan suamiku, ingat suamiku!" pungkasnya dengan tegas.
Dinda semakin tidak mengerti dengan laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
"Terserah kamu saja, daripada harus panggil dengan sebutan yang membuatku ingin muntah, lebih baik kita sebut dengan panggilan aku, kamu saja!" sergah Dinda tidak mau kalah, enak saja mau mengatur aku, lagian dia siapa? Dia lupa akan kata-katanya dulu, kalau aku tidak boleh mengharapkan cinta darinya, lalu sekarang? Dia duluan yang sudah menunjukkan benih-benih itu pada dirinya.
Reno mengendarai mobilnya dengan kecepatan agak tinggi, di dalam mobil hanya tecipta keheningan, Dinda juga hanya fokus dengan jalan-jalan yang tidak terlalu macet.
"Acaranya dimana?" tanya Reno sinis, padahal mah dalam hati senang bisa ikut dengan Dinda ke acara ulang tahun Leo, setidaknya Dinda harus selalu terjaga.
"Di hotel xx no 19," jawab Dinda singkat.
Reno mengangguk, ia langsung melajukan mobilnya menuju ke hotel tersebut.
Sesampainya di hotel, Reno dan Dinda turun dari dalam mobil.
Saat Reno hendak meraih tangan Dinda untuk di gandeng dengan tatapan sinis Dinda menepis tangan Reno dengan kasar. "Aku bisa jalan sendiri," lirihnya tapi di dengar oleh Reno.
"Baiklah, ingat lihat jalan, tidak usah lirik-lirik laki-laki tampan yang ada di sini," sorot mata Reno penuh dengan ancaman.
__ADS_1
Dinda menghela nafas berat, Reno itu maunya apa? Bahkan ia mendarat aneh seperti ini.
"Le, mana gadis yang special itu?" tanya Arif, yang tidak lain adalah teman dekat Leo.
"Sebentar lagi datang, tadi mau aku jemput, tapi dia tidak mau," jawab Leo, matanya mencari-cari seseorang, siapa lagi kalau bukan Dinda yang ia cari. "Dinda kok belum datang, padahal sudah mau jam 7 malam," batin Leo dalam hatinya. Ia kawatir Dinda tidak datang.
Leo tadinya mau menjemput Dinda, namun Dinda menolak karena tidak ingin Reno marah-marah tidak jelas.
"Itu dia," seru Leo, matanya langsung berbinar-binar penuh kebaikan.
Melihat Dinda berjalan dengan gaun yang begitu cantik, membuat Leo tersenyum bahagia, akhirnya gadis special yang di tunggunya datang juga.
"Cantik sekali," puji Arif tanpa berkedip.
Leo hendak melangkahkan kakinya untuk menjemput Dinda, namun saat melihat laki-laki yang di belakang Dinda, ia malah tampak tidak suka. "Laki-laki itu selalu aja mengekor sama Dinda, sebenarnya laki-laki itu siapa sih?" batinnya dalam hati.
"Leo," sapa Dinda dengan nada lembut, sedangkan Reno sudah seperti pengawal yang sedang mengawal Dinda.
"Dinda," sapa balik Leo, Leo hendak memeluk Dinda tapi dengan cepat Reno mengantikan posisinya Dinda dan akhirnya yang di peluk oleh Leo ada Reno. "Maaf, kalian bukan muhrim, jadi tidak usah peluk-pelukan!" bisik Reno sinis di telinga Leo.
"Apa hak kamu melarangku," bisik Leo. "Memangnya kamu siapa?" lanjut Leo di telinga Reno.
Reno meringis kecil, dasar bedebah, hati Reno meraung-raung.
"Aku adalah,"
"Kalian kenapa pelukan lama sekali sih?" Dinda menarik tangan Reno, agar melepaskan pelukannya dari Leo.
Dalam hati Reno, Dinda kenapa kamu menarikku di saat yang tidak tepat?
"Din, sebenarnya laki-laki itu siapa?" Leo melirik Reno dengan tatapan tidak suka.
"Dia adalah,"
"Kenalkan aku adalah,"
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia