Istri Yang Tidak Di Inginkan

Istri Yang Tidak Di Inginkan
Ria tidak bodoh


__ADS_3

"Ceklek,"


Pintu ruangan terbuka, Vira yang dari tadi sedih dan menangis, ia buru-buru menghapus air matanya.


"Om Restu," sapanya, ia tidak kaget jika Restu yang datang karena tadi Reno yang memberitahu pada Restu, kalau Vira itu sedang sakit dan di rawat di rumah sakit.


"Gadis nakalku, kamu sakit apa?" tanyanya, nada bicaranya sangat lembut, beda sekali saat berbicara dengan Ria yang sangat cuek dan dingin. Dasar sudah mulai menua, bahkan sudah bau tanah tapi masih aja nyakitin hati istri yang begitu sabar dan menyayanginya.


"Aku tidak sakit om, aku hanya ingin Reno kembali peduli padaku, om tahu beberapa hari ini Reno sangat berbeda, apa jangan-jangan Reno sudah mulai jatuh cinta pada gadis tidak tahu diri itu om?" keluh Vira, matanya sudah sembab karena dari tadi menangis.


"Lalu bagaimana denganku, om?" lanjut Vira, ia kembali meneteskan air matanya. Tak kuat rasanya jika di abaikan oleh Reno, rindu sekali dengan kasih sayangnya, perhatiannya dan sikap romantisnya.


"Sudahlah tidak usah memikirkan Reno, kan yang memberikan kepuasan kamu itu om, bukannya Reno," tutur Restu, ia sangat malas saat Vira membahas masalah Reno di hadapannya.


Restu memegang kedua pipi Vira, lalu mengusap air mata Vira yang terus berjatuhan.


"Tapi om, aku mencintai Reno," ujar Vira pada Restu. Entahlah, awalnya hanya ingin balas dendam dan membuat Reno sakit hati saja, tapi perasaan yang sulit di jelaskan ini tiba-tiba muncul dalam hatinya begitu saja, wajar saja sih mungkin karena dirinya dan Reno itu menjalin hubungan tidak sebentar.


"Lupakan cintamu itu, aku tidak akan merestui hubungan kalian sampai kapanpun," tukas Restu dengan tegas.


Vira terdiam sejenak, ingat Vira kamu menjalin hubungan dengan Reno dan papanya karena ingin balas dendam jangan sampai kamu benar-benar mencintai Reno, bisikan hatinya.


"Ayo kita ke hotel saja, aku akan memanggil Dokter untuk mengurus semuanya," kata Restu. "Lalu, aku akan pergi ke bagian administrasi untuk mengurus semua biaya," lanjutnya.


Vira mengangguk, akhirnya setelah beberapa lama semuanya selesai dan Restu langsung membawa Vira ke sebuah hotel mewah xx. Tidak lupa juga Restu mengabari Ria kalau dirinya sedang lembur dan kemungkinan malam ini tidak akan pulang. Iya lembur, lembur sama Vira maksudnya. Dasar tua-tua tapi tidak punya otak, ia hanya memikirkan kepuasan nafsunya tanpa memikirkan hati dan perasaan istrinya.


Kasian Ria, dia adalah wanita yang begitu sabar namun cintanya di sia-siakan oleh Restu.


Saat mendapat kabar dari suaminya kalau malam ini ia lembur, Ria memilih untuk istirahat lebih sore saja lagian di rumah juga sepi hanya sendirian, ada Art juga sudah pada tidur.


Dengan hati yang gelisah, Ria semakin hari merasa suaminya ini sudah mulai tidak beres. Mungkin ada yang Restu sembunyikan, namun Ria tidak tahu, tapi diamnya Ria bukan berarti ia bodoh, ia juga selama ini mencari tahu dan menyuruh orang untuk menyelidiki suaminya.


"Nyonya, datang ke hotel xx, ada hal yang harus Nyonya lihat secara langsung!"


Membaca pesan masuk dari orang suruhannya, tanpa menunggu lama Ria langsung bersiap-siap dan bergegas untuk pergi.


Ria pergi ke hotel xx di antar oleh supir pribadinya.

__ADS_1


Di perjalanan hatinya semakin tidak tenang, padahal sudah malam, namun tiba-tiba mendapat pesan dan di suruh datang ke hotel, ada apa? Pikirnya dalam hati.


****


Jam menunjukkan pukul 10 malam.


Di sebuah hotel mewah Restu dan Vira menghabiskan malam bersama, seperti malam-malam biasanya mereka melakukan hubungan suami-istri. Tidak satu kali mereka melakukan berulang kali.


"Sayang, enak sekali," lirih Restu saat Vira selesai memberikan sebuah kenikmatan.


"Om, apa nenek lampir tidak tahu hubungan kita?" tanyanya, tangannya dengan nakal terus mengelus-elus benda tumpul di bawa sana.


Restu tersenyum kecil, ia tahu istrinya itu hanya wanita bodoh, tidak mungkinlah dia tahu akan hubungannya dengan Vira, itu yang selalu di yakini oleh Restu, istrinya itu bodoh.


"Tidak sayang, biarkan dia sudah tua, sudah tidak menarik lagi, di ranjang juga dia lemah," sambil mengusap-usap rambut panjang Vira, Restu sangat menikmati elusan tangan Vira di bawa sana.


Malam semakin larut, angin juga sangat dingin menyusup masuk ke tubuh.


Vira dan Restu kembali bergulat untuk kesekian kalinya dengan penuh kenikmatan.


"Om, jika aku hamil bagaimana?" tanya Vira di sela-sela kegiatannya.


"Enak tidak?" godanya.


"Enak om, gede banget milik om," lirihnya dengan nakal.


Resty tersenyum mesum, ia menusukkan benda tumpulnya di bawa sana dengan kuat, membuat Vira merintih kesakitan tapi penuh kenikmatan.


"Yakinlah, punya Reno tidak seenak punyaku Vira sayang," ujarnya dengan nada meremehkan.


"Ahh, punya om membuatku merem melek, nikmat sekali om," lirihnya dengan nada yang diiringi dengan penuh kenikmatan.


"Setiap saat aku akan memberikan kenikmatan seperti ini padamu, sayangku," tuturnya dengan nada nakal.


Sungguh mereka berdua bak iblis yang tidak punya perasaan sama sekali.


****

__ADS_1


Reno mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, setalah dari rumah sakit ia mampir dulu ke rumah Devan, baru ia pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, ia melihat Dinda sudah tertidur dengan nyenyak.


Tapi Reno tidak heran, apalagi jam juga sudah menunjukkan pukul 10 malam lewat saat melihat Dinda tertidur dengan tenang, Reno menatapnya dengan lekat.


"Pasti dia kedinginan," dengan kuat Reno mengangkat Dinda dan memindahkan Dinda ke atas ranjang tempat tidur.


Di selimutilah Dinda dengan selimut tebal, lalu Reno merebahkan tubuhnya di samping Dinda.


Dengan lekat Reno kembali menatap Dinda, ia mengusap pipi Dinda dengan lembut, lalu mencium pipi Dinda dengan hati-hati.


Entah apa yang telah di lakukannya ini? "Sungguh aku sudah mulai gila, kenapa aku bisa-bisanya melakukan ini? Ingat Ren, kamu itu tidak mencintai Dinda, jangan sampai kamu berbuat macam-macam!" hatinya menggerutu sesal. Ia bahkan tidak tahu apa ini perasaan cinta atau hanya sebuah kagum saja?


Saat Reno hendak menaruh ponselnya di atas nakas tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata itu ada pesan dari Devan.


"Ren, papa kamu ada di hotel," pesan Devan.


"Di hotel?" balasnya kaget.


"Iya, mata-mataku bilang begitu," balas Devan.


"Kita kesana sekarang?" tanya Reno lewat pesan chat.


"Apa Tante Ria tahu?" balas Devan.


"Pasti mama tidak tahu, bagaimana kita sana saja?" tanya Reno lagi, saat ini dia sangat penasaran apa yang sedang papanya lakukan di hotel dan bersama siapa?


"Iya Ren, kita sana saja! kita ke hotel xx," balas Devan.


"Siap Dev, sampai ketemu di sana," balasnya cepat.


Tanpa menunggu lama dan tidak membuat Dinda terbangun, Reno beranjak dari tempat tidurnya dan langsung pergi menuju ke hotel yang di katakan oleh Devan.


Entah apa yang akan terjadi di hotel xx nanti


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2