
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Dinda sedang duduk di sofa ruang tengah menunggu suaminya pulang.
Tringggg
Telpon rumah tiba-tiba berbunyi dan itu cukup membuatnya kaget, Dinda maraih gagang telpon lalu menempelkan telponnya di telinganya.
"Hallo," sapa Dinda dengan nada lembut.
"Din, ini mama, tadi mama telpon ke ponsel kamu tidak di angkat."
"Iya ma, maaf ma Dinda lupa ponsel Dinda sedang di cas di kamar. Ini Dinda sedang menunggu Mas Reno pulang di ruang tengah."
"Reno, belum pulang?"
"Belum ma, mungkin sebentar lagi ma."
"Kamu sama Reno bagaimana kabarnya? Mama masih pingin liburan."
"Kami baik ma, iya ma liburan saja, mama jaga kesehatan ya, jangan telat makan."
"Sayaaannnggg aku pulang!!"
Suara Reno terdengar begitu nyaring, mungkin mamanya juga di sebrang sana mendengar suara nyaring itu, sungguh ini membuat telinga Dinda sakit tapi ia senang akhirnya suaminya pulang juga.
"Itu pasti suamimu pulang, ya sudah mama tutup dulu ya telponnya," pamit Ria dan mematikan saluran telponnya.
"Kamu sedang telpon siapa?" tatapan Reno penuh rasa curiga, melihat Dinda memegang telpon di telinganya.
"Menurutmu?" Dinda malah balik bertanya, melihat tatapan suaminya begitu curiga rasanya ingin sekali melempar sandal ke wajah tampannya itu.
__ADS_1
"Di tanya malah balik nanya," dengan raut wajah kesal Reno duduk di sebelah Dinda. "Pasti kamu habis menerima telpon dari laki-laki lain ya, hayo ngaku!" tuduh Reno seenak jidatnya sendiri.
Dinda menaruh telpon itu ke tempatnya dengan kasar, lalu mencubit pinggang suaminya dengan cukup keras. "Ahh sakit," desah Reno menggoda dengan tatapan mesum.
Dinda melepaskan cubitannya. "Lagian mas asal tuduh, aku itu habis telpon sama mama, tanya mama saja jika kamu tidak percaya," ujar Dinda dengan tegas.
"Mama, sehat?" tanyanya.
"Sehat, katanya mama masih pingin liburan," jawab Dinda dengan nada lembut.
"Baguslah biar mama liburan, biar aku bisa menikmati masa-masa pengantin baru yang sudah terlambat ini," cetus dengan cengiran nakal. "Kan siapa tahu nanti mama pulang, adonannya sudah jadi," lanjutnya dengan cengiran jail.
Dinda menatap suaminya sinis. "Apa sih mas?"
"Nanti mas kasih tahu, ayo makan dulu! Terus kita nonton film berdua di kamar," dengan senyum penuh semangat Reno meraih tangan Dinda, lalu mengajaknya makan di meja makan.
Di meja makan itu sudah ada nasi goreng selimut telur yang tadi Dinda masak dan minumnya jus jeruk.
Reno lebih dulu pergi ke dalam kamar untuk mandi dan tentunya mempersiapkan acara nonton berdua dengan istrinya.
Setelah selesai mandi, Reno memakai setelan baju tidur berwarna hitam.
"Ceklek," pintu kamar terbuka.
Tiba-tiba Reno merasa gugup dan debaran jantungnya begitu cepat.
"Mas," lirih Dinda dengan sorot mata lembut.
"Dinda, ayo kita nonton, aku sudah siapkan filmnya dan cemilan juga," ujar Reno gugup. Entah kenapa tiba-tiba rasanya deg-degan seperti ini? Sungguh aku sudah seperti ABG yang sedang jatuh cinta.
__ADS_1
Reno menepuk-nepuk tempat di sebelahnya agar Dinda duduk di sebelahnya, Dinda menuruti isyarat dari Reno.
Kini mereka sudah berada di atas ranjang, mereka sama-sama menatap laptop yang ada di depan mata mereka.
"Nontonnya pakai laptop?" tanya Dinda, ia melihat ke arah televisi yang menganggur di tempatnya.
"Iya biar lebih enak," jawab Reno. "Enak kalau ada adegan yang hot, aku bisa langsung praktek nanti," gumamnya dalam hati.
Film telah di mulai, lampu kamar juga sudah di matikan hanya ada lampu kecil yang ada di atas nakas dekat tempat tidur untuk menerangi kamar mereka malam ini.
Kini kedua fokus dengan film yang telah di setel oleh Reno, mengamati adegan demi adegan Dinda menelan ludahnya dengan kasar. "Kenapa harus film seperti ini sih yang di tonton oleh manusia bodoh ini?" tanyanya dalam hati.
Reno tidak berkedip, terlihat sesekali ia mengecap-ecapkan bibirnya, sungguh ngiler melihat adegan demi adegan yang sedang berlangsung di film yang sedang di tonton bersama dengan istrinya. "Aku yakin, malam ini pasti aku akan berhasil," yakinnya dalam hati.
"Mas, apa tidak ada film lain?" protes Dinda, karena sudah tidak kuat melihat adegan demi adegan panas, rasanya hasratnya ingin ia salurkan dengan cepat.
"Film ini bagus, kenapa apa kamu ingin melakukan salah satu adegan di film itu?" godanya dengan tatapan nakal.
Dinda menggeleng pelan, seketika Reno menghela nafas berat.
"Dinda, apa kamu belum percaya dengan ketulusan cintaku?" tanya Reno, ia menatap Dinda cukup dalam dan kedua matanya beralih dari film yang saat ini sedang beradegan panas.
"Aku ingin percaya, tapi aku takut kecewa," jawab Dinda dengan nada lembut.
"Din, aku mencintaimu, apa kamu mau menerima cintaku?" tanya Reno, kali ini ia begitu serius.
"Mas aku...." Dinda menghentikan kata-katanya.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia