
Entah apa yang akan terjadi malam ini?
"Apa tidak ada sofa di kamar ini? padahal ini hotel mewah, namun sofa pun tidak ada," keluh Dinda tidak habis pikir.
"Mungkin sofanya masih di pesan, inikan hotel baru," sahut Reno dengan santainya.
Padahal ini semua kerjaan Devan, jadi sehari sebelum acara Devan sudah bertemu dengan Han lebih dulu, niatnya Devan sih ingin membuat Reno dan Dinda agar dekat, namun entahlah berhasil atau tidak?
Flashback
Sehari sebelum acara, Devan dan Han bertemu di sebuah restoran untuk makan bersama dan membicarakan tujuan Devan bertemu dengan Han.
"Tuan Devan, apa ada yang bisa saya bantu? Tumben, kok tiba-tiba minta bertemu dengan saya?" tanya Han heran.
"Apa kerja sama kita ada masalah?" lanjutnya.
Devan tersenyum kecil pada Han.
"Tidak ada tuan, saya hanya ingin meminta bantuan tuan untuk melancarkan rencana saya," jawab Devan dengan sopan.
"Katakan saja! apa yang bisa saya bantu?" ujar Han dengan yakin.
"Nanti saat acara peresmian hotel, kan Tuan Han akan menyuruh seluruh tamu undangan untuk menginap di hotel, saya cuma mau minta tolong nanti kamar yang di siapkan untuk Tuan Reno dan pasangannya tolong di siapkan ranjang tempat tidur saja! terus jangan berikan sofa atau barang lain lagi, kalau pun ada kursi cukup kursi kecil-kecil saja dan televisi," pinta Devan pada Han. "Lihat saja Ren, sampai berapa lama kamu tidak menerima pernikahan ini?" batin Devan dalam hatinya.
"Baiklah, nanti akan saya lakukan seperti yang Tuan Devan minta," jawab Han dengan senang hati.
Han tidak tahu apa maksud dan tujuan Devan, namun Han tetap melakukan apa yang di suruh oleh Devan.
Of Flashback
***
Dinda dan Reno sama-sama duduk di tepi ranjang, mereka tampak kagok, namun Reno berusaha tetap tenang dan jaga gengsi.
"Boleh aku tanya sesuatu, tuan?" tanya Dinda gugup.
"Mau tanya apa?" sahut Reno cuek.
"Bukankah di acara ini kata tuan harus membawa pasangan, tapi tadi aku lihat rekan bisnis tuan ada yang tidak membawa pasangan," ujar Dinda dengan hati-hati.
"Maksudnya kamu Ega dan Endi, mereka sudah menikah, istri-istri mereka ada tadi aku lihat sedang berkumpul dengan istri-istri yang lainnya juga, mereka terlihat masih sendirian, ya karena nasib mereka sama seperti denganku," cerita Reno pada Dinda.
__ADS_1
"Sama, maksudnya?" Dinda merasa penasaran.
"Sama-sama harus menikah dengan wanita yang tidak mereka cintai, hidup kita itu apa-apa di atur oleh kedua orang tua kita, istri-istri mereka juga jauh lebih tua dari mereka," jelas Reno pada Dinda.
Dinda mengangguk paham, ia pun terdiam sejenak.
"Emm, tuan tidak usah kawatir akan pernikahan kita, secepatnya aku akan pergi meninggalkan tuan," kata Dinda dengan yakin.
"Kamu mau kemana?" tanya Reno penasaran.
"Entahlah, yang jelas aku akan menghilang dari kehidupan tuan," ujar Dinda pada Reno.
Dinda beranjak dari tempat duduknya, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.
Saat Dinda sedang mandi, Reno termenung sendirian, tiba-tiba ia kepikiran akan kata-kata Dinda, yang katanya akan pergi meninggalkannya. "Untuk apa juga aku memikirkan gadis itu? lagian baguslah kalau dia pergi, jadi hubungan aku dengan Vira tidak ada yang gangguin," tepis Reno dalam hatinya.
Tanpa mandi terlebih dahulu, Reno melepaskan jas warna hitam yang ia pakai malam ini, lalu ia melepaskan dasinya juga, kini Reno hanya memakai kemeja berwarna putih dan celana bahan panjang berwarna hitam.
Reno melepaskan satu kancing kemejanya, lalu ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur. Ia meraih ponselnya yang ada di dalam saku celananya, lalu ia menelpon Vira untuk mengobati rasa kangen yang terpendam.
"Tringgg!!"
Mendengar ponselnya berdering, Vira melihat itu telpon dari siapa? "Reno, aku yakin kamu pasti merindukanku," gumamnya dengan suara pelan.
"Hallo juga sayangku, sudah jam 11 malam kok belum tidur?"
"Aku tidak bisa karena merindukanmu."
"Sabar, sebentar lagi aku akan pulang!"
"Baiklah, jangan lama-lama! atau aku akan pergi menyusulmu."
"Vira sayang!!!" panggilnya dengan suara manja.
"Vira sayang, itu siapa Vira?!" tanya Reno, saat samar-samar mendengar suara laki-laki memanggil Vira dengan sebutan Vira sayang.
"Hush!!" Vira memberikan tanda isyarat pada laki-laki itu, ia menaruh jari telunjuknya tepat di bibirnya agar laki-laki itu diam dan laki-laki itu mengangguk nurut. "Kenapa sih kamu gangguin saja," gumam laki-laki itu dengan kasar.
"Vira, aku tanya itu suaranya siapa?" tanya Reno untuk kedua kalinya.
"Kamu bersama dengan laki-laki lain di situ!" seru Reno tampak gusar.
__ADS_1
"Sayang, itu om aku, dia biasa memanggil aku dengan sebutan seperti itu, kamu tau kan aku ini anak yatim-piatu dan aku di besarkan oleh om aku, ya dia biasa memanggil aku dengan sebutan seperti itu," jelas Vira dengan penuh kebohongan.
"Iya om, kenapa?" sahut Vira dengan nada di buat-buat, agar Reno percaya.
"Nak, makan dulu! Itu tante sudah menunggu kita di ruang makan," ujar laki-laki itu pada Vira.
"Itukan, itu om aku, aku makan malam dulu ya sayangku, aku tutup telponnya dulu," pamit Vira dan buru-buru ia menutup telponnya.
***
"Om, kalau aku sedang telpon, om jangan panggil aku!" rajuk Vira kesal.
"Maaf sayang, om tadi tidak tahu kalau kamu sedang menelpon," Om-om itu langsung memeluk Vira dengan erat.
"Ya sudah, jangan ngambek lagi! besok om ajak shopping, sekarang kamu puasin om dulu, karena milik om sudah sangat tegang," ujar om-om itu dengan tatapan penuh kemesuman.
Vira tersenyum nakal, tanpa menunggu lama ia pun melancarkan aksinya supaya laki-laki yang sudah tidak terlalu mudah itu puas dengan servisnya malam ini. "Nenek lampir, suatu saat kamu juga akan di buang, aku ingin kamu merasakan hal yang sama seperti ibuku dulu!" batin Vira dalam hatinya.
Kini Vira dan om-om itu bergulat panas di atas ranjang tempat tidur.
***
Dinda keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk kimono berwarna putih, ia menatap Reno yang tampak gusar.
Namun Dinda enggan bertanya karena takut salah, ia hanya duduk di tepi ranjang dan berniat membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, namun belum sempat melakukan itu, tiba-tiba Reno menatapnya dengan kasar.
"Tidur di lantai!" sentak Reno, namun Dinda menolak ia menggelengkan kepalanya.
"Di lantai dingin sekali, nanti aku sakit," jawab Dinda dengan nada lembut.
Memang benar apa yang di katakan oleh Dinda, di lantai begitu dingin, Reno pun merasakan hal itu.
Iya ini semua adalah ulah Devan, karena Devan ingin Reno dan Dinda tidur satu ranjang dan berharap mereka melakukan sesuatu.
"Baiklah, kita tidur satu ranjang, namun jangan sampai kamu menyentuhku!" tatapan Reno penuh ancaman.
Kini keduanya sama-sama membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, Reno juga memberikan batasan bantal guling di tengah-tengah mereka tidur.
Dinda tidak bisa tidur, ia cukup gusar sedangkan Reno masih memikirkan tentang suara di telpon tadi.
Dinda mengangguk, entah apa yang akan terjadi selanjutnya?
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia