Istri Yang Tidak Di Inginkan

Istri Yang Tidak Di Inginkan
Para jomblo mencari cinta


__ADS_3

Di hari kedua di acara bulan madunya, Reno mengajak Dinda jalan-jalan, berbelanja dan bersenang-senang.


Untuk urusan pekerjaan kantor seperti biasa ada Devan yang mengurusnya saat Reno tidak ada di kantor.


Devan tampak sangat lelah ia menaruhnya kepalanya di atas meja kerjanya, kedua matanya tampak sayup mungkin karena semalam begadang dengan pekerjaan yang Reno tugaskan.


"Reno, kamu enak-enak, kapan kamu akan pulang?" lirihnya, padahal Reno baru satu hari meninggalkan kantor tapi Devan sudah kelelahan dengan pekerjaan kantor, mungkin karena kerjaan kantor akhir-akhir ini banyak sekali.


Tringgg


Mendengar ponselnya berbunyi Devan mengangkatnya.


"Hallo..."


"Abang Devan, lagi sibuk tidak?"


"Aku sedang kerja, ada apa Far?"


"Bang, bagi no ponselnya suster Lista dong!" pinta Farhan dengan suara begitu manis.


"Lahh, kamu pdkt sama suster Lista, kenapa kemarin kamu tidak minta no ponselnya langsung padanya?" cecar Devan, dasar Farhan kenapa kamu begitu bodoh sekali.


"Aku lupa bang, sangking terpesonanya dengan suster cantik itu," terdengar tawa dari sebrang sana, membuat Devan hanya geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Nanti aku kirimkan no nya, aku tutup dulu telponnya," jawab Devan dan mematikan saluran telponnya.


Farhan tak henti-hentinya senyam-senyum, mungkin sebentar lagi gigi putihnya akan mengering karena terus tersenyum seperti orang yang tidak waras.


Waktu Devan mengajak Handi dan Farhan mencari pacar, iya malam itu Devan mengajak kedua sahabatnya yang sama-sama somplak ke rumah sakit milik papanya, karena Devan tahu suster dan Dokter muda di rumah sakit itu cantik-cantik sekali.


"Kemarin Reno bucinnya kebangetan, terus sekarang Farhan juga mulai bucin dengan gebetan barunya," kata Devan yang diiringi helaan panjang.


"Lalu kamu kapan akan menemukan gebetan? Apa selamanya kamu akan menjadi jomblo, lihat kamu sudah tidak muda lagi," suara Handi begitu khas dan ternyata dia sudah berdiri di ambang pintu sejak Devan bertelponan dengan Farhan.


"Entahlah, kamu sendiri sudah menemukan pacar?" cibir Devan sambil cengar-cengir meledek.


Handi duduk di kursi yang terhalang meja kerjanya Devan, ia memainkan pulpen yang ia ambil di meja kerja Devan.


"Banyak gadis yang mau denganku, Van," katanya begitu sombong dan itu membuat Devan tertawa lepas.


"Van, aku ingin mencari gadis yang sederhana, aku tidak mau dari kalangan sosialita seperti kita, aku ingin punya istri dan dia hanya di rumah saja, tugas dia hanya melayaniku," ujar Handi pada Devan.


"Apa kita harus mencari kepedesaan, Han? Yang benar saja, lalu desa siapa yang akan kita tuju?" Devan malah menatap Handi bingung.


"Desa calon istriku lah pastinya," cetusnya dengan bangga.


Devan memutar kedua bola matanya, kini tatapannya begitu serius pada Handi, membuat Handi menatapnya malas tapi senyam-senyum terus.

__ADS_1


"Calon istri, apa itu tandanya kamu sudah menemukan gadis yang sesuai dengan kriteriamu?" tanya Devan penasaran.


Handi mengangguk. "Aku sudah menemukan gadis itu, tapi aku tidak tahu apakah gadis itu juga suka denganku?" Handi juga tidak percaya, apalagi gadis yang ia taksir begitu kalem dan sangat lemah lembut.


"Memangnya gadis itu siapa?" Devan semakin penasaran hingga terus mendesak Handi agar mengatakan padanya gadis itu siapa?


"Dia adalah Art di rumahku, gadis itu sangat imut dan lucu sekali," jawab Handi membuat Devan termenung sejenak.


"Dev, kenapa kamu diam?" tanya Handi mengagetkan Devan.


"Han, apa sekarang kamu sudah berganti haluan? Apakah otakmu baik-baik saja? Han, jangan jadikan main-main, kasian gadis polos itu," nasehat Devan, karena prinsipnya menjadi laki-laki sejati dan jangan sampai menghancurkan seorang wanita.


"Dev, aku serius, aku lebih suka gadis biasa," tandasnya pada Devan.


Devan mengangguk, kini mereka asik lanjut mengobrol tentang gadis desa yang Handi taksir itu.


Farhan sedang pdkt dengan suster cantik, Handi sedang mendekati Art di rumahnya, lalu Devan, ia masih betah dengan status jomblonya dan belum menemukan yang cocok untuk dirinya.


****


Di saat para sahabatnya sedang berlomba-lomba mencari cinta sejati mereka masing-masing.


Reno sedang asik bercocok tanam dengan istri tersayangnya. Dengan harapan segera di karunia momongan.

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2