Istri Yang Tidak Di Inginkan

Istri Yang Tidak Di Inginkan
Makan bertiga


__ADS_3

Kini masakan telah siap, Dinda menaruh semua masakan yang sudah matang di atas meja makan, ia memasak ayam balado, capcay ati telur puyuh, goreng udang, lalu membuat jus jeruk untuk minumannya.


"Tuan, makannya sudah siap di atas meja makan," kata Dinda pada Reno.


"Ayo kita makan bersama!" ajak Vira dengan sorot mata penuh rencana.


"Makan bersama! Haruskah kita satu meja makan dengan gadis udik itu?" tanya Reno, ia menatap Vira tidak percaya.


"Apa salahnya makan bersama sayangku? Bukankah itu bagus, jadi gadis udik itu tahu kalau cinta kita tidak akan dapat di pisahkan," ujar Vira dengan tatapan mata yang berbinar senang, namun begitu sinis saat menatap Dinda.


Akhirnya mereka makan bertiga.


Di meja makan sejenak begitu hening, Dinda juga memilih diam dan fokus dengan makannya.


"Sayang, aku suapin ya," ujar Vira mesra.


"Iya sayang," sahut Reno mesra.


Dinda mengeryitkan dahinya karena merasa kesal, ternyata ini tujuannya mengajakku makan bersama, percuma aku tidak akan cemburu, namun aku begitu jijik melihat ini semua.


Triiinnnggg


Ponsel milik Dinda berdering, Dinda meraih ponselnya yang ada di dalam tas kecil yang ia bawa, lalu melihat telpon dari siapa? "Leo, aku tahu pasti kamu kawatir padaku," gumam Dinda dengan sengaja.


"Hallo Le."


"Hallo Din, kamu sudah sampai di rumah?"


"Sudah Le, apa kamu kawatir padaku?"


"Iya aku sangat kawatir padamu, kamu istirahat yang cukup ya!"


"Iya aku akan istirahat yang cukup, terimakasih ya kamu sudah selalu perhatian sama aku."


"Sama-sama, aku tutup telponnya dulu ya, aku mau lanjutkan pekerjaanku dulu."


Leo mematikan saluran telponnya, setelah menelpon Dinda hatinya seperti bunga yang baru saja di siram sampai-sampai Leo senyam-senyum sendiri seperti orang yang tidak waras.


"Tidak sopan mengangkat telpon di meja makan," sindir Reno dengan sinis.


"Mesra-mesraan di meja makan aku rasa juga kurang pantas tuan, apalagi di depan istri sah!" balas Dinda seraya tersenyum kecil pada Vira.


"Hey kamu, ingat ya kamu itu istri sah yang tidak diinginkan oleh Mas Reno, jadi tidak usah kurang ajar!" sentak Vira dengan nada menggebu-gebu, karena tidak terima atas perkataan Dinda.


"Aku tidak perduli, biarpun aku istri yang tidak dinginkan, lihat saja pasti suatu saat Mas Renomu itu akan meninggalkan kamu Nona Vira!" tukas Dinda pada Vira.


"Lancang kamu," dengan penuh amarah Vira bangkit dari tempat duduknya dan ia berjalan menuju ke tempat duduk Dinda. "Dasar gadis udik kurang ajar!" Vira menatap Dinda dengan sorot mata tajam, ia mengangkat satu tangannya dan hendak menampar pipi mulus Dinda.


Belum sempat Vira mendaratkan tangannya di pipi mulusnya Dinda, tangan Dinda dengan kuat menahan tangan Vira.


"Jangan pernah menyentuhku! Ingat aku bukan gadis lemah yang bisa kau tindas seenaknya!" tandas Dinda dengan tegas, Dinda juga menepis tangan Vira dengan kasar.


Dinda beranjak dari tempat duduknya, lalu ia menatap Vira dan Reno secara bergantian dengan tatapan sinis.


"Ingat aku bukan gadis lemah yang bisa kalian tindas!" sebelum pergi Dinda memberikan peringatan tegas pada Vira dan Reno.


Setelah Dinda berlalu pergi, Vira menatap Reno dengan kesal.


"Bisa-bisanya kamu diam saja mas di saat gadis itu menghinaku," ujar Vira dengan kesal.


"Maaf sayang," kata Reno dengan nada lembut.


"Sudahlah mas, aku mau pulang," dengan kesal Vira meninggalkan meja makan begitu saja, lalu ia menuju ke sofa ruang tengah dan di raihlah tas yang ada di sofa dengan kasar.


"Sayang, biar aku antar," kata Reno mencegah Vira di hadapannya.


"Sudahlah mas tidak perlu, aku bisa pulang naik taksi," ujar Vira dengan nada kesal, ia menginyikirkan tubuh kekar Reno yang menghalangi jalannya dengan kasar.


Dengan kasar Vira membuka pintu Reno, lalu menutup kembali dengan kasar juga.

__ADS_1


Saat Vira sudah pergi, Reno menggaruk-garuk kepalanya dengan kesal. "Dasar gadis udik, gara-gara kamu Vira jadi marah padaku," gumam Reno dengan suara pelan.


Dengan langkah kasar, kedua tangannya yang sudah mengepal kuat, Reno berjalan menyusul Dinda ke dalam kamar mereka.


"Gubrak," dengan kuat Reno menendang pintu kamarnya.


Dinda bergejolak kaget dan langsung menoleh ke sumber suara.


"Dasar gadis pembuat masalah, gara-gara kamu, Vira sangat marah padaku," ujar Reno dengan suara menggema, raut wajahnya sangat merah karena di bumbui dengan amarah yang begitu dalam.


"Kau menyalahkanku? Makanya punya kekasih itu mulutnya di didik dengan baik!" lawan Dinda, ia tidak mau terus-terusan bersikap lemah di hadapan Reno dan Vira.


"Plakkk!!!"


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Dinda, Dinda memegangi pipinya yang baru saja di tampar oleh Reno.


"Jangan berani membuat Vira marah lagi atau kamu akan aku siksa!" ancam Reno pada Dinda.


Dinda terdiam, sejahat inikah suaminya? Bahkan dia berani menampar pipi mulusnya hanya karena kekasihnya marah pada dirinya.


"Hiks,hiks," saat ini Dinda hanya menangis sambil memegangi pipinya yang agak memar.


Reno yang tidak tega, ia mencoba mendekati Dinda, namun Dinda malah menjauhkan dirinya dari Reno.


"Maaf, apakah sakit?" tanya Reno pada Dinda.


Dinda tidak menjawab, ia malah berlalu pergi begitu saja dari hadapan Reno, ia berlari keluar dari dalam kamar menuju ke dapur.


"Rumah ini bagaikan neraka."


"Aku ingin pulang."


Dinda duduk di pojokan dapur, ia menangis karena merasa sedih.


Setidaknya jika aku ini hanya seorang istri yang tidak diinginkan, maka jangan sakiti aku.


"Aku tidak sengaja melakukannya."


"Aku hilaf, maafkan aku."


Reno sungguh menyesali perbuatannya."Aku harus minta maaf pada Dinda," batinnya dalam hati.


***


Di sebuah bar mewah Vira tampak happy dengan para teman-teman lelakinya, ia berjoget sambil mabuk.


"Vir, aku rasa kamu pasti sedang punya uang banyak," ujar salah satu temannya.


"Heru, kamu tahu kan aku punya Sugar Dady kaya raya, aku juga punya kekasih kaya raya, aku bisa mendapatkan uang dari mereka kapan saja," celoteh Vira sambil terus berjoget mengikuti alunan musik.


"Iya aku tahu, yang penting kamu harus memberikan mereka kepuasan, kamu harus siap melayani mereka kapan saja."


"Kamu benar Her, tapi transferan mereka tidak tanggung-tanggung, bahkan Sugar Dadyku memberikan aku rumah mewah di komplek elit."


Heru berjoget dekat dengan Vira, ia menggesek-gesekkan bagian kerisnya ke pantat Vira.


"Malam ini sama aku mau dong Vir," bisik Heru dengan nakal.


"Berani bayar berapa kamu Her?" tanya Vira sambil meneguk minuman yang ada di tangannya.


"Vira, kamu tahu sendiri aku tidak punya uang, gratislah!" bujuknya dengan mesra.


"Baik-baiklah, malam ini kita bersenang-senang, lagian aku juga lagi pingin, aku mau minta sama Sugar Dadyku, dia pasti sedang bersama dengan istrinya, aku mau minta dengan kekasihku, dia selalu ketiduran di saat mau ehem-ehem."


"Kamu puaskan aku malam ini, nanti aku yang bayar kamu," lanjut Vira dan di anggukin semangat oleh Heru.


"Ayo kita ke hotel sekarang!" ajak Vira, namun Heru menggelengkan kepalanya. "Tidak usah di hotel, di rumahku saja!" ajak Heru dengan nakal.


Akhirnya Heru membawa Vira ke rumahnya dan ia akan menggarap Vira di rumahnya nanti. "Asik dapat gratis, biarin dia sudah sering di pakai, yang penting aku puas," batin Heru dalam hatinya.

__ADS_1


Heru dan Vira meninggalkan teman-teman mereka yang lainnya.


Sesampainya di rumah Heru, ia langsung melakukan tujuan, Vira juga menikmatinya, ia bahkan tidak menolak sama sekali. Dasar Vira ini memang wanita murahan, namun Reno terlalu di butakan dengan cinta.


Tanpa sesal atau sedih Vira malah asik happy-happy di bar dan sekarang malah asik bercinta dengan Heru yang tidak lain adalah temannya.


***


Malam menunjukkan pukul 10 malam, Rena tampak gelisah menunggu sang suami yang tak kunjung pulang dari kemarin, bahkan no telpon juga tidak bisa di hubungi sama sekali.


"Reno, papamu ini pergi kemana? Dari kemarin tidak pulang-pulang," ujar Rena gelisah.


"Mama, papa pulang!!"


Mendengar suara suaminya, Rena buru-buru beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut kepulangan suaminya.


"Papa, kenapa papa kemarin malam tidak pulang?" tanya Rena pada suaminya.


"Kerjaan papa banyak ma," jawab Restu cuek.


Rena tampak kesal, namun ia berusaha tenang.


"Apakah harus menginap pa?"


"Mama, bisakah mama tidak bawel? Papa capek baru pulang."


Restu malah berlalu pergi begitu saja dari hadapan Rena.


Rena merasa ada yang aneh dari suaminya, tapi Rena tidak mau menduga-duga, mudah-mudahan suaminya hanya kelelahan saja dan butuh istirahat yang cukup.


Sesampainya di kamar, suaminya malah sudah tidur, padahal Rena sudah menyiapkan makan malam.


Rena hanya bisa menghela nafas berat dan ia juga berusaha sabar.


****


Malam semakin larut, Reno termenung sendirian di dalam kamar.


"Gadis itu kemana? Kenapa belum masuk ke dalam kamar?"


"Apa dia marah padaku?"


Reno kepikiran Dinda, ia ingin pergi mencari Dinda."Buat apa juga aku mencarinya? Mending aku telpon Vira," batinnya dalam hati.


Reno meraih ponselnya di atas nakas, lalu ia menekan nama sayang, yang tidak adalah nama kontak Vira di ponselnya.


"Kenapa Vira tidak mengangkat telponku, apa dia juga masih marah padaku?"


"Dasar wanita itu semuanya sulit di mengerti, mereka terlalu sensitif seperti pantat bayi!"


Reno yang merasa lelah, ia kembali menaruh ponselnya di atas nakas, lalu memilih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan tidur dengan nyenyak.


Detik demi detik berlalu, jam demi jam juga terus berlalu, hingga jarum jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, namun saat Reno bangun dan ia melihat ke arah sofa, ia tidak melihat sosok Dinda.


"Dinda kemana?" Reno beranjak dari tempat tidur, ia keluar dari dalam kamar untuk mencari Dinda yang dari kemarin siang setelah kejadian itu Dinda belum juga masuk ke dalam kamar.


"Apa Dinda, menelpon orang yang menelpon dia di meja makan? Lalu mereka pergi bersama," Reno menduga-duga dalam hatinya.


Reno keluar dari dalam rumah, padahal ia masih memakai setelan baju tidur warna hitam kotak-kotak tapi ia tidak peduli.


"Pak Andi, apa bapak melihat Dinda?" tanya Reno pada salah satu satpam rumahnya.


"Nona Dinda, belum keluar tuan dari tadi pagi," jawab Pak Andi.


Reno menghela nafas pelan, lalu Dinda kemana?


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2