Istri Yang Tidak Di Inginkan

Istri Yang Tidak Di Inginkan
Harus menyelidiki


__ADS_3

Saat pagi datang Reno terbangun lebih dulu, ia langsung pergi mandi dan setelah mandi, ia melihat Dinda sudah bangun dan saat ini sedang duduk di atas ranjang sambil memangku bahunya di atas lututnya.


Dinda terlihat lemas, mungkin karena kejadian tadi malam, ia masih mengalami trauma.


Aku berjalan menghampiri Dinda, lalu aku duduk di tepi ranjang, dengan tatapan lembut, aku tatap Dinda.


"Kamu mandi dulu ya," ujarnya dengan nada lembut. "Biar aku siapkan baju kamu," lanjutnya dengan penuh perhatian.


"Aku takut, aku takut," hanya itu yang keluar dari mulut Dinda.


"Kenapa harus takut? Ada aku disini, kamu tidak usah takut," pinta Reno dan ia menarik Dinda masuk ke dalam pelukannya, berharap pelukannya ini bisa membuat Dinda agak tenang.


"Semalam dia hampir saja menodaiku, aku tidak masih tidak menyangka Leo melakukan itu padaku," lirihnya di sela-sela pelukannya.


"Ceritakan padaku, apa yang kamu ingat akan kejadian tadi malam?" pinta Reno, seraya melepaskan Dinda dari pelukannya.


Dinda menceritakan pada Reno, kalau Leo datang menghampiri dirinya dan memberikan minuman padaku, aku meminum minuman yang diberikan oleh Leo, lalu aku pergi mengantarkan Leo ke kamar hotelnya karena Leo mabuk dan entah kenapa tubuh aku rasanya aneh pada malam itu.


Reno terdiam mendengarkan semua cerita Dinda dengan baik. "Aku yakin, ini adalah ulah seseorang, Leo mabuk tadi malam," batin Reno dalam hatinya, aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Kamu mandi dulu ya, biar pikiran kamu tenang, tidak ada yang menodaimu, aku akan menjagamu dengan baik," tutur Reno dan di anggukin oleh Dinda.


Reno membantu Dinda turun dari tempat tidur, lalu ia berjalan mengantarkan Dinda ke kamar mandi.


Saat hendak keluar, tiba-tiba Dinda menarik tangannya. "Ada apa?" tanya Reno agak gugup.


"Bantu aku melepaskan retselting gaun ini," titah Dinda dan Reno membantu membukanya, biarpun sebenarnya tubuh Reno gemetaran saat melihat punggung mulus Dinda dan hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar padahal di bawa sana sudah meronta-ronta.


"Tahan Ren! Jangan membuatnya takut, lagian kamu dulu sok tidak bakal jatuh cinta pada gadis itu, nyatanya otong kamu meronta-ronta melihat tubuh mulusnya, dasar Reno laki-laki munafik," dalam hatinya Reno terus mengutukti dirinya sendiri.

__ADS_1


Sembari menunggu Dinda yang sedang mandi, Reno menyiapkan baju ganti untuk Dinda, di ambil lah setelan baju berwarna kuning.


Setelah menyiapkan baju ganti Dinda, Reno duduk di tepi ranjang sambil mengecek ponselnya.


Dan ternyata ada 1 pesan masuk dari Vira. "Untuk apalagi Vira mengirim pesan padaku?" batin Reno dalam hatinya.


"Sayang, aku belum menerima kata putusmu. Jadi kita masih tetap pasangan kekasih."


Membaca pesan dari Vira, rasanya ingin sekali membanting benda pipih yang sedang ia pegang, namun Reno urungkan, sayang-sayang ponsel mahalnya jika di banting.


"Siapa juga yang mau pacaran sama gundik papa sendiri, aku saja jijik!!" balas Reno dengan emoticon kesal.


Vira membaca balasan dari Reno, ia langsung membanting ponselnya dengan kuat. "Lihat saja sebentar lagi gadis itu akan ternoda, ia sama saja sepertiku, sama-sama gundik," batin Vira dengan senyuman jahat.


****


"Tutup matamu!!" pinta Dinda saat ia hendak memakai bajunya tapi Reno malah duduk di tepi ranjang.


"Aku tidak akan melihatnya, buruan ganti! Terus kita pergi sarapan," ujar Reno dan ia membenarkan posisinya sehingga membelakangi Dinda.


Dinda berganti pakaian, setelah selesai, mereka berdua langsung pergi menuju ke meja makan untuk sarapan.


Seperti pagi biasanya mereka sarapan bertiga, namun setelah selesai sarapan Ria pergi karena ada acara arisan.


Kini tinggalah Reno dan Dinda yang sedang duduk di sofa ruang tengah.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Reno, tampak kawatir dari tatapan matanya.


"Aku sudah baik-baik saja," jawab Dinda dengan suara pelan.

__ADS_1


Reno yang duduknya berjarak kira-kira setengah meter dari Dinda, ia bringsut mendekatkan duduknya ke Dinda.


Reno memegang tangan Dinda dan menatapnya dengan lembut.


"Maaf, jika aku tidak menerima telpon, pasti kejadian tadi malam tidak akan terjadi," ujar Reno dengan nada lembut.


"Tidak apa-apa, terimakasih kamu sudah menyelamatkanku," sahut Dinda dengan nada lembut.


Dinda tiba-tiba terdiam, membuat Reno menatapnya bingung.


"Kenapa diam?" tanya Reno dengan suara pelan.


"Aku masih tidak menyangka kalau Leo melakukan hal ini," jawabnya dengan nada sendu, air matanya hendak jatuh tapi Dinda menahannya sambil mengigit bibir bawanya.


Reno mengangguk, kali ini aku harus menyelidiki semuanya aku tidak boleh diam saja. Istriku hampir saja menjadi bahan pemerkosaan, aku tidak rela jika itu sampai terjadi.


"Din, mulai sekarang aku tidak mengizinkanmu untuk berkerja di tempat laki-laki brengsek itu lagi," ujar Reno tegas.


Tapi Dinda menatapnya dengan tatapan bingung.


"Tapi jika aku tidak bekerja, nanti aku dapat uang darimana?" tanya Dinda dengan begitu polosnya.


Reno terkekeh kecil, bisa-bisanya jadi suami tidak memberikan nafkah untuk istrinya, dasar Reno manusia bodoh.


"Mulai sekarang, aku akan menanggung semuanya, uang bulanan kamu juga akan kasih setiap bulan," ujar Reno dengan tegas dan Dinda cukup terkejut mendengar semua itu.


Apa manusia bodoh ini telah sadar?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2