Istri Yang Tidak Di Inginkan

Istri Yang Tidak Di Inginkan
Kemarahan Reno


__ADS_3

"Brengsek!!!"


Reno terlihat begitu marah, bahkan sorot matanya berapi-api.


Dengan kasar Reno langsung menarik kra kemeja berwarna putih milik Leo. Hingga Leo terjatuh. "Mau kamu apakan istriku?" teriaknya dengan suara menggema. Matanya berapi-api menandakan saat ini Reno sedang marah sekali.


"Dasar kurang ajar!!"


"Kamu berani menyentuh istriku, maka terima akibatnya!!"


Berulang kali Reno melayangkan tonjokan di wajah tampan Leo, Leo yang sedang mabuk dia tidak melawan sama sekali, kini kondisinya sudah lunglai lemas.


Dinda duduk di tepi ranjang, ia hanya menangis sambil memegangi bagian gaunnya yang sudah robek karena ulah Leo tadi, beruntung saja Reno cepat datang, coba kalau tidak enak apa yang akan terjadi pada Dinda?


Dinda merasa ketakutan yang amat sangat, buliran air mata terus berjatuhan membasahi pipi mulusnya. Leo laki-laki yang selama ini di anggapnya baik, ia berani melakukan hal yang menjijikkan seperti ini.


"Aku mencintainya," lirih Leo dengan kondisi yang sudah lemas karena di hajar oleh Reno.


"Mencintainya, aku tidak akan membiarkan kamu merebutnya dari hidupku," tandas Reno dengan tegas.


Hampir saja Reno melayangkan pukulan tapi Arif menahan tangan Reno dengan kuat.


"Maafkan Leo, dia sedang mabuk Tuan," ujar Arif sembari menahan tangan Reno agar tidak memukul Leo untuk kesian kalinya. Melihat Leo yang sudah begitu lemah bahkan hanya berbaring di atas lantai dengan wajah yang sudah pada biru lembam, membuat Arif cukup ibah. "Semua karena minuman memabukkan itu," pekik Arif dalam hatinya, mungkin jika tadi aku tetap di sana pasti hal ini tidak akan terjadi, mudah-mudahan Leo belum sempat melakukan apa-apa pada gadis itu, harapan Arif dalam hatinya.


Reno menarik nafasnya dengan kasar, kemarahan belum reda.

__ADS_1


Melihat Dinda menangis, rasanya hatinya semakin bergemuruh. Ingin sekali kembali menghajar laki-laki kurang ajar itu.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Reno, ia melepaskan jasnya dan memakaikan jas itu pada Dinda.


Tanpa menjawab apa-apa Dinda langsung menghambur ke pelukan Reno, membuat Reno langsung memeluk dengan erat. "Tidak apa-apa ada aku, aku akan melindungimu," bisiknya di telinga Dinda. Di usaplah punggung Dinda dengan lembut, berharap tangis Dinda terhenti.


"Aku takut," lirihnya yang di dengar oleh Reno.


"Ayo kita pergi dari sini!" ajaknya dan langsung mengangkat tubuh mungil Dinda, lalu membawanya keluar dari dalam kamar hotel itu.


"Jika terjadi sesuatu pada istriku, maka kamu harus terima akibatnya nanti brengsek," ujar Reno dengan kasar sebelum berlalu pergi.


Leo hanya diam, ia tiba-tiba pingsan. Membuat Arif menghela nafasnya dengan kasar. "Dasar bodoh, hal bodoh apa yang kamu lakukan? Kamu membuat gadis itu ketakutan, Le, kenapa kamu bisa melakukan hal gila seperti ini?" batin Arif dalam hatinya.


Reno membawa Dinda ke mobilnya, lalu menaruh Dinda di jok depan dan setelah itu Reno masuk ke dalam mobil.


"Badan aku panas."


"Lepaskan bajuku, aku kepanasan, gerah rasanya."


Dinda terus berceloteh seperti burung beo, membuat Reno semakin kawatir. Di tataplah kedua mata Dinda dalam-dalam. "Dinda, apa laki-laki itu memberikan obat perangsang padanya? Brengsek!!" batinnya dalam hati.


"Din, tenanglah!" titah Reno dengan nada lembut.


Namun Dinda malah meronta-ronta seraya mengaruk-garuk lehernya hingga lehernya pada kemerahan karena ulahnya sendiri.

__ADS_1


Hingga Dinda mengeluarkan suara desisan manja, membuat rahang Reno mengeras dan hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. "Jangan lakukan apapun Ren, biarpun dia istrimu tapi keadaannya sekarang tidak baik-baik saja, jika kamu ingin melakukan hubungan suami-istri tunggu di saat Dinda," bisik hati baiknya.


"Ren, dia sedang pingin berat, lakukan sekarang! Tunggu apalagi?" bisik hati jahatnya.


Leo menepis semua bisikkan itu, ia kembali fokus ke Dinda yang semakin meronta-ronta.


Tanpa menunggu lama, Leo menyalakan mesin mobilnya dan langsung menuju pulang ke rumahnya.


"Untung saja malam ini aku ikut, coba kalau tidak."


"Pasti laki-laki brengsek itu sudah berbuat lebih."


Sesampainya di halaman rumahnya, Reno langsung memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil, lalu membopong Dinda masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju ke kamarnya. Beruntung mamanya sudah tidur, jika belum pasti mamanya akan sangat kawatir dan menyalahkan Reno karena tidak becus menjaga istrinya.


Sesampainya di dalam kamar, Reno membaringkan Dinda di atas kasur. Ia hendak melepaskan gaun yang melilit tubuh Dinda, namun ia urungkan dan membiarkan Dinda tidur dengan memakai gaunnya itu, jika aku melepaskan gaun ini aku takut malah aku yang kelepasan, lalu apa bedanya aku dengan laki-laki brengsek itu tadi? Biarpun Reno sudah pingin sekali, tapi akal sehat Reno masih berjalan lancar.


Reno menyelimuti tubuh Dinda, Dinda masih terus meronta-ronta hingga beberapa lama akhirnya Dinda merasa lelah dan tidur dengan sendirinya.


Reno cukup lega saat melihat Dinda sudah tertidur nyenyak.


"Siapa yang sudah melakukan hal ini? Aku harus mencari tahu semuanya," batin Reno dalam hatinya.


Malam semakin larut, hawa malam ini juga cukup dingin dan Reno akhirnya tertidur nyenyak di samping Dinda.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2