
Reno dan Dinda berjalan-jalan di sebuah mall yang letaknya tidak terlalu jauh dari hotel tempat mereka menginap tadi malam.
Tanpa sadar dari tadi awal masuk masuk ke dalam mall, Reno terus mengandeng tangan Dinda dengan mesra, Dinda meminta di lepaskan saja tidak Reno lakukan dan herannya malah memegang tangan Dinda lebih erat. Apalagi saat banyak laki-laki yang memandangi Dinda, sebagai seorang suami rasanya Reno tidak rela namun lagi-lagi Reno gengsi.
"Tuan, setelah dari mall kita pulang ke rumah kan?" tanya Dinda pada Reno.
"Entahlah, aku memang sedang ingin berjalan-jalan, jadi kamu temanin aku saja!" jawab Reno, ia terlalu malas di rumah, bahkan ia juga cutti di kantornya untuk beberapa hari ke depan, untung saja ada Devan yang bisa selalu di handalkan kapan saja.
"Jalan-jalan kemana lagi, tuan?" Dinda tampak heran, tidak biasanya Reno betah lama-lama dengan dirinya, sebenarnya kedua kakinya juga cukup pegal-pegal, namun Dinda tidak mengatakan itu pada Reno.
"Kemana saja, sudahlah kamu jangan bawel, ada baiknya kamu belanja saja," titah Reno dengan nada lembut.
Dinda lagi-lagi di buat heran oleh sikap Reno yang tidak sedingin biasanya, bahkan nada bicaranya juga sangat lembut. "Sungguh, manusia bodoh ini kesambet dedemit mana?" batin Dinda dalam hatinya, Dinda masih terheran-heran.
"Ayo kita beli itu!" Reno menunjukkan sebuah toko pakaian dalam, membuat Dinda membulatkan kedua bola matanya.
"Ke toko itu tuan?" Dinda memastikan.
"Itukan toko,"
"Bebek jelek, aku mau membeli cd, kamu tahu dari kemarin aku tidak ganti cd." Reno memotong kata-kata Dinda, kini pipi Reno tiba-tiba berubah merah karena malu, namun ia tetap terlihat santai dan cool.
Dinda akhirnya mengeluarkan tawanya. "Jangankan tuan, saya saja tidak ganti, kan tidak membawa baju ganti juga apalagi dalaman?" gumam Dinda dalam hatinya.
"Ayo!!"
Dinda dan Reno langsung menuju ke toko pakaian dalam itu.
"Pilihkan untukku!"
"Haah, aku tidak tahu ukuran punya tuan," seketika Dinda memikirkan benda tumpul di bawa sana. "Sebesar apa itunya?" Dinda terkekeh kecil dalam hatinya.
"Ukurannya XL."
Dinda tersenyum kecil, kini otaknya semakin traveling kemana-mana. "Besar juga ternyata," dalam hati Dinda terus tertawa karena otak kotornya itu.
Biarpun Dinda baru berusia 20 tahun, tapi untuk hal-hal dewasa ia paham, bahkan ia juga sering nonton film dewasa saat sendirian di dalam kamarnya pas masih gadis dulu.
"Kenapa senyam-senyum, apa ada yang lucu?"
"Tidak tuan, ini aku rasa bagus dan cocok untuk ukuran tuan." Dinda menunjukkan cd pria berwarna hitam pada Reno.
"Boleh itu."
__ADS_1
Reno membeli satu lusin cd pria, Dinda juga membeli 3 setelan cd wanita untuk dirinya.
Setelah selesai dan membayar semuanya, Dinda dan Reno kembali melanjutkan perjalanan mereka mengelilingi mall.
Hari ini mereka berdua tampak bahagia, dua sejoli itu bahkan seperti anak kecil yang sedang jalan-jalan, mereka membeli gugali pelangi, es krim dan makanan yang lainnya.
Reno juga membelikan beberapa dress cantik untuk Dinda, dan dua tas branded keluaran terbaru untuk Dinda.
Setelah hampir seharian menghabiskan waktu berdua, Reno mengajak Dinda menginap di sebuah Villa, iya itu adalah Villa pribadi milik Reno, namun malam ini di Villa itu juga ada Devan, Metta, Fikri, Sella dan ada beberapa anak buah yang lainnya lagi. Mereka datang karena undangan dari Reno.
Bukan tanpa alasan Reno mengundang anak buah di kantornya itu, tapi karena hari ini kontrak kerja mereka berhasil dan ini juga sebagai penghargaan para anak buahnya agar lebih semangat lagi kerjanya, Reno juga sudah menyiapkan bonus untuk anak-anak buahnya.
Malam ini Reno mau mengadakan acara BBQ bersama dengan para anak buahnya di kantornya.
Sebelum sempai di Villa, Reno mampir ke sebuah supermarket untuk membeli macam-macam makanan yang di butuhkan untuk BBQ malam ini.
***
Sesampainya di Villa Devan dan semuanya sudah berada di sana.
"Selamat malam Tuan Reno," sapa para anak buahnya dengan kompak.
"Selamat malam semuanya," balas Reno dengan sopan.
"Kalian mulailah, ini semua keperluan untuk BBQ malam ini. Aku mau mandi dulu," pamit Reno pada semuanya, lalu ia mengajak Dinda masuk ke dalam Villa.
"Cantik sekali, maaf Tuan Devan, apa itu penganti Nona Vira?" tanya Metta penasaran.
"Sepertinya begitu, lihat saja nanti!" jawab Devan dengan nada lembut.
"Cantikan yang ini daripada Nona Vira," timpal yang lainnya.
"Nona Vira juga terlalu sombong, tapi kalau yang ini keliatan kalem dan sopan," sambung yang lainnya.
"Hush, udah ayo kita mulai BBQ nya, jangan bergosip lagi! Nanti jika Tuan Reno kalian dengar, maka bonus kalian tidak akan di kasih," titah Devan pada semuanya.
"Iya sudah ayo, ghibahnya lanjutin besok saja!" celetuk Fikri.
BBQ pun di mulai, para laki-laki menyiapkan alat bakarnya sedangkan yang perempuan menusuk-nusuk sosis, bakso dan membuat aneka sate-satean yang lainnya.
Setelah semuanya siap, Reno dan Dinda juga akhirnya sudah keluar dari dalam kamar, kini acara di mulai.
Berbagai macam minuman kaleng di bawa oleh Devan, bahkan minuman yang memabukkan juga ada.
__ADS_1
"Metta, kamu minum?" tanya Fikri ke Metta.
"Apa salahnya Fik, kan besok tanggal merah ini, kita libur," jawab Metta dengan entengnya.
"Sudahlah Fik, ayo kita minum saja! Kalau tidak banyak, pasti kita tidak akan mabuk," sambung Della yang sudah membuka minuman memabukkan di tangannya itu.
"Hey, kalian minum saja, ini makanan bantuin!" seru salah satu anak buah Reno, Reno tersenyum kecil ia pun beranjak dan membantu anak buahnya itu.
"Kalian semua, jaga bebek jelekku ini baik-baik, ingat tidak ada yang boleh memberitahukan pada Nona Vira, jika ada maka Kalian akan aku pecat," dengan tegas Reno memberikan ancaman pada seluruh anak buahnya, suara Reno juga terdengar kencang agar semuanya mendengar.
"Siap Tuan Reno," jawab semuanya dengan kompak.
Reno mengajak Devan untuk membakar berbagai macam sate-satean, sedangkan Dinda bergabung dengan yang lainnya.
"Kalian sana minumlah! Biar urusan ini aku dan Devan yang mengerjakannya," titah Reno dan kedua anak buah yang sedang membakar macam-macam sate akhirnya berlalu pergi dengan senang hati.
Kini Reno mengipasin sedangkan Devan membalikkan sate-satean yang sedang di bakar itu.
"Dev, bagaimana, kamu sudah mendapatkan kabar tentang Vira?" tanya Reno penasaran.
"Sedang aku selidiki, nanti kalau sudah ada kabar, langsung aku kasih tahu kamu," ujar Devan pada Reno.
"Tunggu, kenapa kamu tiba-tiba merasa curiga pada Vira?" Devan menatap Reno heran.
"Ada hal yang mengganjal dalam hatiku," sahut Reno singkat.
"Hanya itu saja?" Devan memastikan.
"Aku rasa memang ada yang dia sembunyikan dariku," lanjut Reno tegas.
"Banyak sekali," cetus Devan tanpa sengaja.
"Apa kamu tahu sesuatu? Lalu kamu tidak memberitahukan padaku," tanya Reno dengan nada tegas.
"Sudahlah Ren, percuma jika aku bicara, namun tidak ada bukti nanti kamu tidak akan percaya, aku kumpulkan buktinya dulu, nanti jika semuanya sudah lengkap, aku beritahukan padamu," kata Devan dengan santainya.
Reno mengangguk, sebenarnya ia merasa sangat penasaran.
Setelah beberapa lama, akhirnya berbagai macam sate yang di bakar oleh Reno dan Devan akhirnya matang semuanya.
Kini mereka langsung membawa sate-sate itu ke semuanya dan sambil bercanda, bercerita horor, bahkan seru-seruan malam ini semuanya terlihat bahagia.
Ada yang mabuk, ada yang masih kuat minum, namun inilah Reno biarpun dia itu bodoh akan wanita tapi kalau dengan para anak buahnya ia cukup akrab dan bersahabat.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia