Istri Yang Tidak Di Inginkan

Istri Yang Tidak Di Inginkan
Beberapa hari telah berlalu


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu, Reno tidak lelah dengan usahanya untuk mendapatkan hati Dinda.


Kini Reno sedang di sibukan dengan pekerjaan kantornya. Tapi di kepalanya terus terbayang-bayang wajah cantik Dinda, bahkan untuk bekerja saja ia tidak fokus sama sekali.


"Ren, apa kamu sudah mulai gila?" tanya Devan, ia cukup heran melihat bos sekaligus sahabatnya ini dari tadi serba salah dalam pekerjaan yang ia kerjakan, sehingga Devan harus mengulangi semua pekerjaan yang di buat kacau oleh Reno.


"Dev, aku tidak bisa fokus kerja, aku terus terbayang-bayang wajah cantik istriku, kamu tahu hampir setiap malam aku selalu menelan ludahku dengan kasar, karena melihat tubuh mulusnya," ujar Reno dengan penuh penghayatan.


Devan menggelengkan kepalanya, lalu manggut-manggut kesal. Memang Reno itu benar-benar sudah tidak waras, lagian itukan istrinya bukannya langsung di garap gitu, ini malah pakai menelan ludah segala, memangnya menelan ludah itu ada hikmahnya? Tentu saja tidak Reno manusia bodoh.


"Bodoh, untuk apa kamu bercerita padaku? Apa kamu sengaja membuat jomblo seperti aku ini meronta-ronta," oceh Devan pada Reno.


"Ren, Dinda itu istrimu, buat apa kamu menelan ludahmu dengan kasar, langsung saja kamu garap," lanjut Devan sambil melanjutkan pekerjaannya.


Reno mendesis, dasar jomblo gampang sekali dia bicara seperti itu. Dev, kamu tidak tahu rasanya seperti apa di dekat Dinda, sungguh hati dan jantungku itu berperang satu sama lain, debaran mereka saling bersahutan.


"Tidak semudah itu bodoh," cetus Reno sinis.


"Buatlah semuanya mudah," sahut Devan dengan entengnya.


Saat hendak melanjutkan perdebatannya lebih lanjut, tiba-tiba pintu ruangan ada mengetuknya.


"Tok...tok....!!"


"Masuklah!!"


Pintu ruangan terbuka, Reno dan Devan sama-sama menatap ke arah pintu, saat melihat siapa yang datang kedua laki-laki tampan itu sama-sama terkejut.


"Dinda, baru di omongin, panjang umur," gumam Reno dengan suara pelan.

__ADS_1


"Ada yang semakin gila nih," cetus Devan sambil cengar-cengir pada Dinda.


Tiba-tiba Reno beranjak dari tempat duduk kerjanya, lalu ia menjewer telinga Devan dengan kuat."Jaga matamu, jangan menatap istriku lebih dari satu detik," titah Reno dengan sinis. Devan mengernyitkan dahinya, lalu ia memegangi telinganya yang baru saja di jewer oleh Reno.


"Mas, maaf aku datang tanpa bilang lebih dulu," kata Dinda ia berjalan menuju ke Reno dan Devan, kini Reno sedang berdiri dan Devan sedang duduk tapi ia tidak berani menatap Dinda lagi.


"Iya tidak apa-apa, tapi ada apa?" tanya Reno tampak gugup dan gemetaran.


"Ren, biasa saja! Kalau kamu terus gemetaran seperti ini, bisa-bisanya kamu ngompol di depan istrimu," cibir Devan yang diiringi tawa jail.


Dinda tertawa kecil, sedangkan Reno sangat malu sekali. Rasanya ingin sekali melempar Devan dengan sepatunya.


"Diam kamu, dasar dedemit," oceh Reno pada Devan.


"Haah, mana ada dedemit setampan aku Reno?" sahut Devan dengan santainya.


"Kenapa kamu repot-repot," tanya Reno basis-basis.


"Bilang saja Ren, kamu senang di bawakan makan siang oleh Dinda, tapi jika tidak mau boleh kamu berikan padaku," lagi-lagi dengan jail Devan terus mencibir Reno.


"Keluar kamu dedemit!" usir Reno, jika Devan terus berada di dalam ruangannya, habis di buat malu oleh Devan sialan ini.


Devan beranjak dari tempat duduknya, sebelum pergi ia menjulurkan lidahnya meledek Reno dan itu lagi-lagi membuat Dinda tertawa.


"Kak Devan, tidak ikut makan?" tanya Dinda sebelum Devan keluar dari dalam ruangan mejanya Reno.


"Tidak Din, aku takut di amuk sama singa jantan yang sedang jatuh cinta, aku takut di lempar sepatu olehnya," sahut Devan dan langsung menutup pintu ruangan Reno.


Devan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan kerjanya yang letaknya tidak jauh dari ruangan Reno sambil senyam-senyum. "Kapan aku menemukan istri yang cantik seperti Dinda?" batin Devan dalam hatinya.

__ADS_1


***


"Ayo kita makan siang bersama!" ajak Reno, tampak gugup namun di dalam hatinya ia begitu bahagia. Apa ini tandanya Dinda sudah mulai menyukaiku? Buktinya dia mau membawakan makan siang buat aku.


Kini mereka berdua duduk di sofa, Reno juga dengan senang hati membuka kotak bekal yang di bawakan oleh Dinda.


"Ini kamu masak sendiri?" tanya Reno dengan tatapan begitu dalam.


"Iya aku masak sendiri, cobain!" jawab Dinda dengan nada selembut sutra.


Reno mengangguk, ia mulai mencoba masakan buatan Dinda.


Dari dulu rasa masakanmu tidak berubah Din, awal aku di masakin sama kamu sebenarnya masakan kamu itu enak, tapi aku gengsi untuk mengakui itu. Maafkan aku istriku.


"Karena kamu sudah membuatku makan siang, bagaimana kalau nanti aku ajak kamu nonton?" tawar Reno dengan senang hati.


"Boleh, tapi mau nonton film apa?" tanya Dinda penasaran.


"Nanti aku pikirkan, tapi kita nonton di kamar saja ya!" ajak Reno, membuat Dinda menatapnya dengan tatapan bingung.


"Haruskah di kamar?" Dinda memastikan.


"Iya berdua saja biar romantis, kalau di bioskop terlalu rame," alasan Reno yang sangat masuk akal.


Dengan polosnya Dinda mengangguk, Reno tersenyum senang dan di balik senyum penuh dengan arti.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2