
Malam yang cukup mendung dan sepertinya akan turun hujan, cuaca malam ini juga cukup dingin dan Reno yakin pasti pergulatan malam pertama ini akan begitu hangat.
Sungguh Reno sudah tidak sabar ingin membuka segelan Dinda, entah sudah berapa lama ia mulai tergoda akan tubuh mulus istrinya ini, hanya saja Reno tidak pernah mengatakan dan selalu saja hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar.
Namun malam yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga, ya biarpun semuanya sudah terlambat tapikan yang penting masih sama-sama segelan.
"Mas," debaran jantung Dinda semakin cepat saat ia bisa merasakan hembusan nafas Reno karena wajah Reno kini sudah begitu dekat dengan wajahnya. "Din, jangan gugup!!" titahnya dalam hati.
Reno mendongakkan kepalanya, ia mengurungkan niatnya mencium bibir mungil Dinda. "Ada apa Din?" tanyanya dengan suara lembut.
"Pelan-pelan ya mas, jangan sampai sakit!" titah Dinda membuat Reno tertawa kecil.
"Darimana kamu tahu kalau ini akan sakit?" tanya Reno, tatapan matanya begitu lembut pada Dinda.
"Ya ada yang bilang mas padaku," jawab Dinda.
"Siapa? Apakah itu seorang laki-laki?" Reno tampak curiga dan cemburu.
__ADS_1
"Bukan mas, tapi teman perempuanku dia sudah menikah dan katanya sakit kalau baru pertama," ujar Dinda dengan jujur.
Reno merasa lega, ia pun tersenyum kecil pada istrinya itu. "Sayang, dia hanya mengatakan awalnya sajakan, tapi setelah itu dia mengatakannya tidak?" tanya Reno pada Dinda, lalu Dinda geleng kepala.
"Nah itu, awalnya memang sakit tapi setelah di dalam sana nanti rasanya nikmat," jelas Reno dengan tatapan menggoda.
"Sudah, kamu tidak usah kawatir, biarkan malam ini mas yang berkerja, kamu cukup nikmati saja," bisik Reno seraya menggigit telinga Dinda dengan lembut dan Dinda merasakan kegelian.
"Mas geli," lirihnya dengan manja.
"Geli tapi enakan, ini mas mau kasih yang lebih enak lagi," lanjut Reno semakin nakal.
Kini Reno mengarahkan bibirnya ke bibir mungil milik Dinda, lalu di ciumlah perlahan-lahan bibir mungil itu, hingga ciumannya kini semakin panas dan Dinda juga semakin merasakan kewalahan mengatur nafasnya.
"Emmhh ahh...."
Mendengar Dinda mengeluarkan suara yang begitu menggoda kelelakianya, hasrat Reno semakin naik dan kini bibirnya sudah beralih di leher jenjang Dinda, dengan penuh nikmat di ciumlah leher itu agak kencang hingga meninggalkan bekas merah di sana.
__ADS_1
Serangan demi serangan semakin panas, satu persatu baju yang menempel di tubuh mereka juga entah sudah kemana? Yang jelas sudah berserakan dimana-mana dan kini keduanya sama-sama sepolos toples.
Dinda juga semakin kuwalahan karena suaminya ini begitu hebat di atas ranjang.
Suara kehangatan mereka saling bersahutan satu sama lain, membuat Reno dan Dinda sama-sama menikmati kenikmatan yang luar biasa ini.
Setelah lelah dengan kegiatannya, kini Reno mengarahkan miliknya ketujuan akhirnya yaitu rumah siput Dinda.
Tanpa menunggu lama Reno mengarahkan miliknya ke dalam sana, Dinda merintih kesakitan saat milik Reno mulai masuk ke dalam rumah siputnya. Ada rasa yang sulit Dinda ungkapan, namun Dinda hanya bisa memejamkan matanya saat rasa sakit menghujami rumah siputnya di bawa sana, seperti ada robek entah itu apa? Namun rasanya begitu perih.
Kini permainan terus mainkan oleh Reno, benar kata Reno awalnya saja sakit tapi lama kelamaan rasanya enak, tidak seburuk apa yang Dinda bayangkan tadi sebelum memulai pergulatan panas malam ini.
Kini detik demi detik berlalu, hingga beberapa menit telah berlalu, akhirnya Reno dan Dinda sama-sama mencapai puncaknya.
Setelah selesai dengan pergulatannya keduanya sama-sama ke kamar mandi dan membersihkan tubuh mereka masing-masing, kini mereka sedang mandi bersama.
Romantis sekali pasangan pengantin terlambat ini, mereka yang awalnya terus berdebat dan tidak pernah akur, kini malam ini akhirnya mereka menyatukan cinta mereka.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia