
Di sebuah hotel dengan ruangan mewah yang di decor serba warna putih ini, banyak sekali orang-orang yang sudah berdatangan tentunya dengan pasangan mereka masing-masing.
"Wihh, Ren, ini baru lagi?" sapa Ega, ia bersalaman dengan Reno. Ega adalah salah satu rekan bisnis Reno, mereka juga cukup akrab karena kerja samanya selama ini.
"Emm, iya begitulah," jawab Reno tampak bingung. "Aku harus menyebutnya apa jika istri, itu tidak mungkin," batin Reno dalam hatinya.
"Lalu Vira bagaimana? Sudah putus kamu dengannya?" timpal Endi, seraya bersalaman dengan Reno. Endi juga salah satu rekan bisnis Reno, ya mereka juga akrab, dulu waktu perusahaan Endi hampir bangkrut Reno menolong Endi dengan senang hati.
"Sudahlah jangan membahas macam-macam, aku pusing," sahut Reno malas.
"Lagian dia ini cuma gadis yang aku sewa karena di acara ini harus membawa pasangan, lagian Vira juga sedang di luar kota, aku dengan dia baik-baik saja," lanjut Reno dengan tegas. Reno terpaksa berbohong pada rekan bisnisnya ini karena memang mereka tidak ada yang tahu kalau dirinya sudah menikah.
"Apakah benar, Nona cantik ini hanya gadis yang di sewa oleh Reno?" tanya Endi memastikan.
"Benar tuan," jawab Dinda dengan nada lembut.
"Pasti Reno membayarmu dengan tarif mahal," ujar Ega sambil cengengesan mesum.
"Iya tuan," jawab Dinda singkat, sebenarnya Dinda sudah cukup kesal, namun karena sandiwara konyol yang Reno buat ini Dinda harus sabar.
Ega tiba-tiba mendekati Dinda, ia berdiri tepat di sebelah Dinda.
Reno melirik kesal Ega, lalu dengan cepat Reno berpindah posisi dan kini Reno malah berada di tengah-tengah di antara Dinda dan Ega.
"Ren, kenapa kamu malah pindah posisi sih?" keluh Ega kesal. "Aku kan pingin dekat dengan gadis sewaanmu," lanjutnya semakin kesal.
"Jangan dekat-dekat dengan wanitaku!" titah Reno dengan kasar, sebenarnya di hati Reno ada rasa yang sulit untuk Reno jelaskan saat ini, namun Reno tidak rela jika ada laki-laki lain yang mendekati Dinda, yang tidak lain adalah istri sahnya.
"Reno, kan dia hanya gadis sewaan, bisa dong selesai acara nanti, berikan padaku!" Ega mengedipkan satu matanya dengan genit pada Dinda, sungguh Dinda ingin sekali muntah saat Ega mengedipkan matanya dengan genit pada dirinya.
"Maaf tuan, saya bukan sebuah barang yang bisa buat gantian kapan saja!" tandas Dinda dengan tegas, seketika Ega dan Endi saling menatap satu sama lain dengan penuh rasa kagum.
"Ega, aku rasa gadis ini bukan gadis sembarangan, saranku jauhi dia dan jangan ganggu dia, jika kamu perusahaan kamu baik-baik saja," saran Endi untuk Ega.
"Kamu dengarkan apa yang di katakan oleh Endi, sudahlah aku pergi dulu," pamit Reno seraya menatap Ega penuh anacaman, Reno juga langsung mengajak Dinda berlalu pergi dari hadapan Ega dan Endi.
Setelah Reno dan Dinda sudah tidak ada di hadapan mereka, kini mereka kembali saling menatap satu sama lain.
"Lihat! perasaan waktu dengan Vira, Reno tidak selebay ini," ujar Ega heran.
__ADS_1
"Bahkan Vira juga kadang malah di ajak minum dengan kita," timpal Endi.
"Sudahlah, mungkin Reno sudah mulai sadar," kata Endi dan ia lebih memilih bertemu dengan rekan bisnis yang lainnya.
Kini Reno dan Dinda duduk di salah satu meja, mereka menikmati makanan yang ada di atas meja dengan nikmat.
"Ingat, jaga matamu! Jangan melirik laki-laki lain selain aku!" titah Reno penuh ancaman.
"Apa salahnya? aku melirik laki-laki lain di sini, aku kan hanya gadis sewean, aku juga bukan istri yang di inginkan," dengan tegas Dinda memperingatkan akan statusnya pada Reno.
"Jadi aku rasa, aku juga harus mencari laki-laki yang bisa mencintaiku apa adanya nanti," pungkas Dinda tegas.
"Berani kamu melakukan itu, awas saja nanti sampai rumah!" sorot mata Reno penuh dengan ancaman.
"Tuan Reno," sapanya.
"Hay, Nona Elvin," balas Reno dengan sopan.
"Siapa? cantik sekali," tanya Elvin sambari tersenyum pada Dinda.
"Namanya Dinda, dia adalah gadis, eh maksud aku pasanganku malam ini nona," ujar Reno gugup.
Setelah berkenalan Elvin dan Raksa ikut bergabung duduk dengan Reno dan Dinda, mereka juga asik mengobrol.
Tamu yang datang semakin banyak, semua yang datang juga saling menyapa satu sama lain.
Setelah semua tamu undangan hadir, acaranya di mulai, ini adalah acara peresmian pembukaan Han Hotel, hotel Han Group adalah hotel yang di bangun khusus oleh perusahaan Group Han dan bekerja sama dengan Ren Group yang tidak lain adalah perusahaan Reno.
perusahaan Reno juga bekerja sama dengan Group Han, makanya Devan mengatakan ini adalah penting.
Dan alasan kenapa seluruh tamu yang hadir harus membawa pasangannya, itu karena Han Hotel malam ini gratis dan untuk para tamu yang datang juga di berikan satu kamar untuk menginap satu malam sebagai tanda peresmian.
Kini semua tamu masuk ke kamar hotel yang sudah di siapkan khusus.
"Tuan Han," sapa Reno.
"Tuan Reno," balik sapa Han, seraya menjabat tangan Reno.
"Oh iya, saya sudah siapkan kamar khusus untuk anda dan pasangan anda malam ini Tuan Reno," ujar Han pada Reno.
__ADS_1
Seketika Dinda terkejut kaget.
"Tidak usah, kita pulang saja," tolak Reno cepat.
"Ini adalah peresmian hotel kerja sama kita tuan, masa tuan menolak," ujar Han dengan nada lembut.
"Tidak baik menolak loh tuan," timpal Silla yang tidak lain adalah istrinya Han dan Reno mengenal Silla karena Han sering sekali membawa istrinya ke berbagai acara besar.
"Baiklah, terimakasih ya," akhirnya dengan terpaksa Reno menerima kamar hotel yang sudah di siapkan khusus oleh Han.
Han dan istrinya pun langsung mengantarkan Reno dan Dinda ke kamar hotel tersebut.
Reno dan Han juga saling memperkenalkan pasangan mereka masing-masing, sehingga Dinda dan Silla terlihat akrab bahkan sambil berjalan menuju ke kamar hotel, Dinda dan Silla tampak asik mengobrol.
Dinda tidak canggung lagi saat mengobrol dengan orang-orang kaya, apalagi dulu sebelum bangkrut ia juga orang kaya dan bisa menghadiri acara besar seperti ini.
Han dan Reno mengobrol sambil berjalan, mereka membahas masalah kerja sama.
Sesampainya di depan kamar hotel, Han dan Silla pun berpamitan pada Dinda dan Reno.
Kini setelah Han dan istrinya sudah berlalu pergi meninggalkan mereka, Reno dan Dinda langsung masuk ke dalam kamar hotel.
Saat di dalam kamar hotel, kini keduanya saling menatap satu sama lain.
"Kenapa kamu melihatku?" sentak Reno ketus.
"Aku punya mata, jadi aku melihatmu," sentak Dinda tidak terima.
"Tidur sana!" titah Reno kasar.
"Tidur! di sini hanya ada satu ranjang," keluh Dinda.
"Lalu apa yang salah?" tanya Reno dengan tatapan sulit di artikan.
Entah apa yang akan terjadi malam ini?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1