Istri Yang Tidak Di Inginkan

Istri Yang Tidak Di Inginkan
Reno kenapa?


__ADS_3

Kini dua hari telah berlalu setelah menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan dengan Dinda, BBQ bersama dengan para anak buah kantornya. Akhirnya Reno dan Dinda pulang ke rumah mereka.


Dinda senyam-senyum sendiri sambil menikmati sarapan paginya.


"Kamu senyam-senyum sendiri, apa kamu mengingat saat kita tidur berdua? enakan tidur denganku," canda Reno seraya tersenyum jail.


"Apaan sih tuan? Sok tahu deh," sahut Dinda seraya menjulurkan lidahnya seolah-olah meledek Reno.


"Bilang saja kamu malu kan mengakuinya," ejek Reno dengan jail.


Memang selama beberapa hari menghabiskan waktu berdua, banyak hal yang terjadi, bahkan hal-hal manis juga tidak sengaja terjadi.


Sampai-sampai saat BBQ beberapa hari lalu, Reno hampir bertengkar dengan Devan, karena Devan melirik Dinda cukup lama dan itu membuat Reno tidak rela.


Akhirnya sebelum peperangan pada malam itu terjadi, Reno langsung mengajak Dinda masuk ke dalam kamar dan mengurung Dinda di dalam kamar, BBQ bersama pun Reno tidak melanjutkan lagi, ia memilih di dalam kamar bersama dengan Dinda. Padahal di dalam kamar hanya diam-diam, tapi setidaknya Devan tidak terus mencuri-curi pandang pada Dinda.


Saat Reno marah pada dirinya, Devan malah senang, apalagi saat Devan dengan sengaja memandangi Dinda cukup lama, itu memang akal-akalan Devan saja untuk mengetes apakah Reno akan cemburu atau tidak? Dan ternyata itu berhasil membuat Reno marah, itu tandannya Reno cemburu tapi gengsi untuk mengatakannya.


"Hey, malu-malu apaan sih? Apa yang kalian bahas sepagi ini?" suara yang tidak asing itu terdengar nyaring di telinga Dinda dan Reno, keduanya pun sama-sama menoleh ke sumber suara itu.


"Vira!!!" Reno terkejut melihat kedatangan Vira.


"Sayang, kenapa kamu terkejut seperti itu?" Vira menyenggol Dinda, agar Dinda berpindah dari kursi sebelah Reno.


"Pindah sana duduknya!" titahnya dengan kasar.


"Apa sih Vir? kamu datang-datang nyuruh Dinda pindah, itu kan kursi kosong banyak tinggal duduk saja!" dengan lembut Reno menahan tangan Dinda agar Dinda tetap berada di tempat duduknya.


Vira menatap Reno tidak percaya, bahkan ia sampai tercengang tak bergeming. "Ada apa ini?" batin Vira dalam hatinya.


"Reno, kamu kenapa?" tanya Vira dengan heran, tidak biasanya Reno bersikap seperti ini.


"Tidak apa-apa, kan memang kursi banyak yang kosong," ujar Reno malas.


"Baiklah, aku tidak tahu kamu itu kenapa? Jika kehadiranku menganggu kalian, maka aku akan pergi dari sini," dengan nada menekan Vira berbicara pada Reno, ia berharap ancaman ini membuat Reno akan mencegahnya.

__ADS_1


"Tuan, saya mau berangkat kerja dulu," pamit Dinda dengan perasaan yang tidak enak.


"Kamu tetaplah duduk di sini, nanti aku antarkan kamu berangkat kerja," ujar Reno dengan nada lembut.


"Ren, aku mau pergi dari sini," tegas Vira yang sudah sangat marah melihat perlakuan Reno begitu manis pada Dinda.


"Silahkan! kamu tahukan pintu keluar ada di sebelah mana?" dengan senang hati Reno malah mempersilahkan Vira pergi.


Hati Vira bergemuruh, ini ada apa? Kenapa Reno ku di tinggal beberapa hari saja, ia berubah seperti ini?


"Katakan padaku, kamu kenapa?" Vira bertanya dengan sorot mata yang sudah berembun.


"Aku baik-baik saja," jawab Reno dan ia beranjak dari tempat duduknya, lalu ia meraih tangan Dinda dan mengajak Dinda berlalu pergi dari hadapan Vira.


Melihat Reno mengandeng Dinda dengan penuh perhatian, hati Vira rasanya marah, ingin sekali ia menjambak rambut panjang Dinda saat ini juga. "Apa Reno, marah karena suara laki-laki itu?" gumam Vira, ia tampak berpikir keras.


"Aku tidak boleh menyerah, aku harus membujuk Reno, bahkan kalau perlu aku akan memberikan bukti palsu," ujar Vira dan ia berlalu pergi meninggalkan meja makan.


Tanpa berpikir panjang, Vira langsung melajukan mobilnya menuju ke kantor Reno. Sesampainya di kantor Reno, Vira langsung masuk seperti biasanya, para pegawai di kantor Reno juga tidak ada yang berani melarang Vira agar tidak masuk, apalagi mereka semua tahu kalau Vira itu wanita kesayangan bosnya.


"Kamu sudah pulang liburannya?" Devan balik bertanya malas.


"Dev, Reno mana?" tanya Vira kasar untuk kedua kalinya.


"Dia belum datang, mungkin sedang indehoy dengan istri yang cantik itu," ujar Devan malas. Melihat wajah cantik Vira, Devan saja merasa jijik. "Heran sama Reno, kenapa bisa tergila-gila dengan wanita seperti ini?" batin Devan dalam hatinya.


"Itu tidak mungkin terjadi," ujar Vira yakin. "Berati Reno sungguh mengatarkan gadis udik ke kerjaannya lebih dulu," geram Vira dalam hatinya.


"Dan aku yakin itu akan terjadi, apalagi mereka satu atap dan terus bertemu setiap hari, lalu mereka juga sah sebagai suami istri, jadi kalau mereka melakukan indehoy, tidak ada yang salah aku rasa," ujar Devan yang di iringi cibiran.


"Diam kamu!!" sentak Vira dengan nada marah.


Vira menatap Devan penuh amarah, ia memang tidak suka dengan Devan selama ini.


"Tuh Reno datang," ujar Devan sinis.

__ADS_1


Melihat Reno berjalan menuju ke ruangan kerjanya, Vira tersenyum pada Reno, namun Reno tidak membalas senyuman dari Vira. Entahlah, apa yang terjadi pada Reno? Kenapa Reno juga bersikap sedingin ini pada Vira?


"Sayang," sapa Vira seraya mengekor di belakang Reno untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya.


Reno dengan kasar menaruh tas kerjanya di atas meja, lalu ia duduk di kursi kerjanya dengan kasar.


Vira mendekati Reno, lalu ia mengalungkan tangannya di leher Reno dengan manja.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Vira dengan nada lembut.


"Apa yang membuatmu bersikap seperti ini padaku?" lanjutnya lagi dengan manja.


"Aku hanya sedang malas denganmu," ujar Reno sinis.


"Kenapa, apa aku melakukan kesalahan? aku minta maaf," dengan nada lembut Vira meminta maaf pada Reno, ia lalu duduk di pangkuan Reno, dan Reno juga masih tetap cuek dan bersikap dingin.


Vira menghela nafas pelan, aku harus sabar menghadapi Reno.


Vira perlahan-lahan menempelkan kepala di dada bidang milik Reno.


"Katakan padaku, kenapa kamu bersikap seperti ini? apa kamu marah padaku?" jari-jarinya dengan manja mengusap-usap dada kekar Reno.


Reno tak bergeming, ia hanya diam saja.


"Ren, kamu bicaralah padaku! Kenapa kamu seperti ini?" tukas Vira tegas, hatinya sudah sangat marah, tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba kekasih hatinya bersikap sedingin es. Apa dia baru saja keluar dari dalam kulkas, lalu masih beku.


"Vira, turunlah dari pangkuanku! Aku mau melanjutkan perkerjaan aku, hari ini aku sibuk," ujar Reno dengan nada datar, bahkan ia bicara tanpa expresi.


"Ren, kamu serius?" Vira memastikan.


"Serius, aku sibuk dengan pekerjaanku," pungkas Reno tegas.


Vira dengan hati yang penuh dengan pertanyaan, ia akhirnya turun dari pangkuan Reno dan langsung keluar dari dalam ruangan Reno begitu saja.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2