Istri Yang Tidak Di Inginkan

Istri Yang Tidak Di Inginkan
Sikap manis Reno


__ADS_3

Sesampainya di mall elit yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya, Reno memarkirkan mobilnya, lalu ia turun dari mobil lebih dulu dan membuka pintu mobilnya untuk Dinda.


Dinda turun dari dalam mobil, Reno kembali menutup pintu mobilnya dengan hati-hati.


Dinda menelan ludahnya diam-diam, ia sungguh kaget dengan sikap Reno yang tiba-tiba berubah menjadi manis. Semanis gula aren, mudah-mudahan rasa manisnya terus bertambah.


"Ayo!" ajaknya, mengulurkan tangannya pada Dinda. Tapi Dinda malah bengong karena masih tidak percaya dengan sikap Reno yang begitu manis menurutnya.


"Kenapa?" tanpa permisi dan Dinda masih mematung, Reno meraih tangannya, membuat Dinda akhirnya tersadar.


"Haruskah gandengan?" tanya Dinda, terlihat tidak nyaman.


"Kenapa? Apa aku salah mengandeng tangan istriku sendiri?" Reno malah balik bertanya dengan enteng. Benar tidak salah lagi, Reno sudah semakin gila. Entah sudah berapa kali, Reno menyebut Dinda dengan sebutan istriku? Dan ini sudah kesian kalinya.


Dinda mengangguk, kini mereka berdua bergandengan masuk ke dalam mall.


"Aku ajari kamu cara menghabiskan uang suami dengan baik," ujar Reno begitu enteng.


Dinda lagi-lagi hanya diam, biarpun dia orang kaya tapi ia jarang sekali menghambur-hamburkan uang, kedua orang tuanya lebih suka menghabiskan uangnya untuk bermain judi, bahkan anaknya jarang sekali di pikirkan, pingin kuliah saja Dinda memilih untuk tidak melanjutkan kuliah, takutnya di tengah-tengah perjalanan kuliahnya tidak ada biaya lagi, ia bahkan memilih kerja di cafe untuk memenuhi kebutuhannya setiap hari.


Jadi belum tentu jadi anak orang kaya hidupnya bahagia, semuanya terjamin, nyatanya kedua orang tuaku tidak seroyal orang tua kaya raya yang lainnya mereka lebih mementingkan kebutuhan mereka, sama hobby mereka saja. Anak bagi mereka tidaklah terlalu penting, giliran sudah terlilit hutang anak di jadikan tameng untuk membayar semua hutang-hutangnya. Malangnya nasibku, tapi aku jalanin semuanya dengan iklhas ya biarpun kadang hati ini harus berperang dengan otak tapi mau bagaimana lagi? Inilah kehidupan Adinda Putri, anak orang kaya yang nasibnya cukup malang.


"Tidak usah kebanyakan diam, kamu pilih saja apa yang kamu dan kamu butuhkan!" titah Reno, membuat Dinda bingung harus membeli yang mana?


Di hadapannya saat ini ada bermacam-macam perlengkapan wanita, dari baju, tas, kosmetik dan masih banyak yang lainnya.


"Aku mau membeli cd saja," ujar Dinda dengan suara pelan tapi di dengar oleh Reno.


"Hahh, kamu mau membeli apa tadi?" tanya Reno memastikan.


"Jangan keras-keras, aku mau membeli cd saja, kebetulan cd aku sudah mulai pada kendor," bisiknya di telinga Reno dan Reno terkekeh ia mengeluarkan tawa kecilnya. Dinda berbicara dengan polosnya, sungguh istriku ini membuatku semakin gemas.

__ADS_1


"Itukan malah tertawa," protes Dinda manyun.


"Habisan kamu lucu, baiklah ayo kita beli!" Reno mengajak Dinda ke toko cd, di sana ada banyak macam-macam berbagi model cd.


"Pilihlah yang kamu suka!" titah Reno, Dinda mulai memilih agak jauh dari Reno, malu jika Reno melihat dirinya membeli barang-barang lucu yang ada di hadapannya saat ini.


Dinda mengambil 5 setelan cd dengan 5 warna yang berbeda dan setelah itu membawanya ke kasir untuk membayar barang belanjaannya itu.


Setelah membayar Dinda kembali ke tempat Reno menunggunya, raut wajahnya terlihat merenggut tidak bahagia.


"Kamu kenapa?" tanya Reno.


"Aku cuma membeli 5 macam cd tapi harganya jutaan rupiah, sayang sekali rasanya," keluh Dinda pada Reno.


"Din, kamu juga terlahir dari keluarga kaya raya, masa harga segitu saja kamu kaget. Bukankah sudah biasa di kalangan kehidupan yang seperti kita," kata Reno yang lagi-lagi dengan entengnya.


Dinda melengos kesal, membuat Reno menatapnya bingung. "Kok ada gadis seaneh Dinda, aku kira dia itu lebih matre dari Vira dan nyatanya mengejutkan sekali," batin Reno dalam hatinya.


"Masa sih?" Reno tidak percaya.


"Aku tidak pernah membeli barang-barang mahal, barang-barang yang aku pakai harganya paling mahal ratusan ribu tidak sampai jutaan rupiah, aku juga dari dulu tidak pernah memakai barang-barang yang harganya jutaan rupiah," lanjut Dinda dan itu membuat Reno melongo.


Reno terkagum-kagum di buatnya, masih ada ternyata gadis dari kalangan kaya raya tapi hidupnya biasa saja itulah dia Adinda Putri wanita yang saat ini sudah sah menjadi istriku.


Reno mengajak Dinda berkeliling mall, Dinda juga hanya mengikuti kemana Reno mengajaknya hari ini.


"Kamu ingin membeli apalagi?" tanya Reno, di tangan Reno baru satu paper-bag yang berisi cd yang tadi Dinda beli.


"Semuanya mahal, nanti uang kamu habis," kata Dinda tidak enak.


"Uangku masih banyak, jika kurang nanti aku tambahin," ujar Reno dengan senang hati.

__ADS_1


"Ayo kita beli ini!" ajak Reno, dia mengajak Dinda ke toko tas branded dan itu membuat Dinda geleng-geleng kepala melihat harganya. "Untuk apa kita membeli barang-barang mahal ini? Sayang uangnya, diluaran sana masih banyak yang membutuhkan uang ini," gumam Dinda dan di dengar oleh Reno.


"Dinda, diluaran sana aku sudah membaginya untuk mereka yang membutuhkan jatah mereka ada sendiri, jadi kamu tidak usah kawatir akan mereka, dan uang ini khusus untukmu," lanjut Reno dengan nada lembut.


Dinda tersenyum seraya menatap wajah laki-laki tampan yang ada di hadapannya ini.


"Ternyata sikapnya dingin yang sedingin kulkas dua pintu, dia adalah laki-laki yang baik," batin Dinda dalam hatinya.


"Sudahlah jangan kebanyakan diam, nanti uangnya tidak habis-habis, jika kamu kebanyakan mikir," celetuk Reno dan Reno langsung memilih tas untuk Dinda dengan harga puluhan juta, kali ini Dinda tidak protes dan hanya menurut saja.


Kini setelah membeli tas, Dinda mengajak Reno ke Supermarket yang ada di mall itu.


Sesampainya di Supermarket, Dinda membeli banyak makanan, snack, susu kotak, minuman kaleng dan lain-lain.


Dinda juga membeli alat-alat tulis banyak sekali.


"Kenapa kamu membeli sebanyak ini?" tanya Reno dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Aku punya banyak, jadi aku ingin berbagi dengan anak-anak panti, aku sering melewati panti itu saat berangkat kerja. Jadi aku ingin kesana," kata Dinda dengan nada lembut.


"Apakah aku boleh kesana, uang segini banyaknya sungguh terlalu banyak untukku. Aku ingin berbagi dengan mereka semua," lanjut Dinda dengan nada hati-hati.


Reno tersenyum penuh kegaguman, gadis ini jauh berbeda dengan Vira. Dia yang begitu polos namun hatinya begitu baik.


"Tentu saja boleh, ayo kita kesana!" ajak Reno dan Dinda mengangguk semangat.


Tanpa menunggu lama, semua barang-barang belanjaan Dinda dimasukkan ke dalam mobil. Karena mobilnya tidak muat, akhirnya Reno menelpon Devan untuk membawa mobil satu lagi.


Devan akhirnya sampai juga, kini semua barang sudah masuk ke dalam mobil dan mereka siap meluncur ke panti yang Dinda maksud.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2