
Sesampainya di hotel Devan dan Reno sama-sama tercengang melihat Ria juga ada di tempat yang sama.
"Mama," sapa Reno terkejut.
"Reno, Devan, kalian sedang apa di sini malam-malam? Lalu Dinda sama siapa di rumah?" cecar Ria, ia malahan menghawatirkan Dinda menantu kesayangannya.
"Dinda sudah tidur ma," jawab Reno singkat.
"Kita sedang ada penting Tante," sambung Devan.
Ria berjalan ke resepsionis untuk menanyakan kamar hotel suaminya, namun pegawai resepsionis itu tidak mau memberitahu karena itu adalah salah satu privasi tamu yang datang ke hotel ini dan sudah peraturan dari hotel juga.
"Tante Ria, Kak Dev, Kak Reno, sedang apa di sini?" tanya Farhan, ia berdiri di hadapan Ria dengan setelan jas berwarna hitam dan membuatnya cukup gagah.
"Farhan, Tante mau mencari kamar hotel Om Restu, katanya dia menginap di sini, tapi kata resepsionis itu privasi," ujar Ria dengan nada lembut.
"Elis, berikan no kamar atas nama Restu Bagaskoro, beliau adalah istrinya dan ini anaknya," titah Farhan pada Elis dan Elis mematuhinya.
"Kamar atas nama Tuan Restu, kamar mawar 01, Tuan Farhan," jawabnya dengan sopan.
"Terimakasih nona," ucap Reno dengan sopan.
"Farhan, Tante ke kamar Om Restu dulu ya," pamit Ria pada Farhan dan di anggukin oleh Farhan.
Farhan adalah pemilik hotel ini, jadi muda bagi Farhan meminta no kamar Restu dan tidak ada yang berani membantah apa perintah darinya.
Setelah Ria, Reno dan Devan berlalu pergi, Farhan terdiam. "Kok mereka kesini bersama-sama, apa ada masalah? Mudah-mudahan semuanya baik-baik saja," batin Farhan dalam hatinya.
Ria, Reno, Devan, menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu kamar yang di tuju oleh mereka.
"Mama, kenapa mama kesini?" tanya Reno lirih.
"Reno, mama tidak bodoh," ujar Ria dengan nada lembut.
Reno mengangguk paham, mungkin mamanya sudah tahu semuanya akan bejatnya suaminya.
Tiba-tiba Farhan menghampiri mereka bertiga.
__ADS_1
"Tante, buka pintunya pakai kartu ini!" Farhan memberikan sebuah kartu pada Ria, Ria menerima kartu itu seraya tersenyum kecil.
"Ma, cepatlah buka!" titah Reno dengan yakin, dalam hati Reno begitu bergumuruh, ia tidak akan tega melihat hati mamanya terluka.
Tidak menunggu lama akhirnya pintu kamar itu terbuka.
Dengan langkah pelan mereka semua menyusup masuk.
Mata Ria langsung terbelalak melihat apa yang di lihat di hadapannya, kedua kakinya tiba-tiba merasa lemas, hatinya begitu tersayat melihat pemandangan yang cukup menjijikkan baginya.
"Papa," lirihnya dengan suara lemas.
Restu sedang menaik turunkan anunya di rumah siput Vira, buru-buru Restu mencabutnya saat mendengar suara yang tidak asing di dengarnya.
"Vira, tega kamu," sambung Reno suaranya begitu menggema memenuhi ruangan kamar hotel, beruntung kamar hotel itu kedap suara.
Restu dan Vira yang sedang bergulat panas, mereka buru-buru melepaskan tubuh mereka.
"Mama, Reno," dengan wajah terkejut buru-buru Restu menutupi tubuhnya dengan selimut tebal yang ada di atas ranjang.
"Vira, seperti ini balasanmu padaku, aku tulus mencintaimu tapi kamu tega-teganya berhubungan dengan papaku, kamu tega menyakiti hati mamaku," geramnya dengan kedua tangan yang sudah mengepal, mungkin jika Vira bukan seorang perempuan pasti sudah Reno hajar habis-habisan.
"Reno, aku bisa jelaskan sayang," jawab Vira, ia memasang wajah memelas. Tapi Reno tidak kasian sedikitpun, ia malah merasa sangat jijik sekali pada Vira. Padahal banyak laki-laki lain kenapa harus papanya?
"Hey kamu, gadis nakal, kamu bisa jelaskan apa pada anakku? Kamu memang pantasnya dengan Papanya Reno, kalian cocok karena sama-sama tidak punya hati."
"Dan sekarang aku tahu pa, kenapa dulu kamu sangat menentang hubungan Reno dengan wanita murahan itu, karena dia gundik papa ternyata, dasar kamu pa, ingat pa akan asal usul kamu dulu, kamu bisa seperti sekarang karena siapa? Ingat pa, semua perusahaan itu milik keluargaku, kamu itu hanya benalu!"
"Tapi kamu begitu tidak tahu malu."
Ria menggeleng-gelengkan kepalanya, sungguh suaminya ini benar-benar bejat, bahkan kekasih putranya sendiri di jadikan gundiknya.
"Mama," dengan tatapan lembut ia berharap Ria akan ibah, namun sedikitpun Ria tidak akan ibah sama sekali.
"Apa? Papa mau ngomong apalagi?" sentak Ria dengan lantang.
"Papa, Vira, kalian memang tidak punya hati," tukas Reno sinis.
__ADS_1
"Tega Om Restu, padahal Tante Ria begitu baik, tapi Om Restu tega menghiati Tante Ria," seru Devan dengan sorot mata penuh amarah.
Ria mulai lunglai bahkan kakinya semakin lemas, namun Farhan terus memegangi Ria agar tidak sampai terjatuh.
"Ria, kamu pikir saja, kamu itu sudah tua, bahkan kamu di ranjang sudah tidak bisa apa-apa, lalu apa salahnya aku mencari gadis yang bisa memberikan kepuasan untukku kapan saja," ujar Restu, tanpa rasa malu sekali.
"Restu ingat ya, dalam sekejap kamu akan menjadi gembel," pungkas Ria dengan tegas.
"Vira, mulai sekarang kita putus! Aku sadar ternyata mamaku tidak salah, beliau memilihkan Dinda untuk menjadi istriku karena benar Dinda adalah gadis baik-baik tidak sepertimu gundik murahan," tatapan Reno begitu jijik pada Vira, padahal dulu sangat penuh cinta namun cinta itu sudah terkikis karena rasa kecewa yang begitu dalam.
"Mama, ayo kita pulang," ajak Reno dan ia merangkul mamanya yang saat ini begitu lemah.
"Sebentar nak,"
Dengan langkah yakin, Ria berjalan menghampiri Vira, ia mendekatkan wajahnya pada Vira.
"Untung saja aku tidak menikahkan anakku denganmu," bisiknya di telinga Vira. "Jika itu sampai terjadi, aku pasti akan menjadi ibu yang paling menyesal dalam hidup ini," lanjutnya.
Vira hanya diam tak berkutik, setelah itu Ria menatap Restu dengan tajam.
"Siapkan dirimu untuk menjadi gembel suamiku," ujarnya dengan nada menekan.
"Satu lagi ini hadiah untukmu gundik dan kamu suamiku," dengan senang hati Ria menyiram sebuah air cabe yang ia taruh di tempat semprotan, dan itu biasa di bawa kemana-mana untuk melindungi dirinya dari orang jahat.
"Setidaknya biar malam ini tambah panas," ujarnya dan Ria berlalu pergi dari kamar itu bersama dengan Reno, Devan dan Farhan.
Setelah semuanya keluar dari dalam kamar hotel, tinggalah Restu dan Vira yang masih di atas ranjang.
Tiba-tiba rumah siput Vira merasakan kepanasan, Restu juga merasakan hal yang sama benda tumpulnya kini merasa panas.
"Apa yang wanita itu siramkan pada kita?" Tanya Restu jengkel, ia buru-buru berlari ke kamar mandi karena sudah sangat kepanasan.
Begitu juga dengan Vira, ia juga sangat kepanasan dan tidak tahan rasanya perih, tapi pantaslah untuk seorang gundik.
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1