Istri Yang Tidak Di Inginkan

Istri Yang Tidak Di Inginkan
Dia adalah istriku


__ADS_3

"Dia adalah,"


"Kenalkan aku adalah,"


Dinda memberikan isyarat melalui matanya agar Reno tidak mengatakan apa-apa pada Leo, tapi Reno malah tersenyum kecil dan penuh dengan arti.


"Dia cuma,"


"Cuma apa sih sayang? Dengarkan baik-baik, aku Reno Bagaskoro suaminya Adinda Putri," ujar Reno pada Leo, dengan percaya diri ia menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan pada Leo.


"Haah, Din, ini hanya bercanda kan?" tanya Leo, ia tidak percaya. Bahkan Leo enggan menyambut uluran tangan Reno dan tatapannya malah sinis bak mengajak perang.


"Tuan Leo, kita memang suami-istri, jika kamu tidak percaya lihat saja ini!" Reno menunjukkan foto pernikahannya yang ada di ponselnya pada Leo.


Dinda merasa kesal dalam hatinya, tapi ia hanya bisa menahan rasa kesalnya dan memilih untuk diam.


Leo menatap foto itu dengan detail, iya itu benar Dinda dan laki-laki di sampingnya itu adalah Reno.


Hati Leo seketika hancur berkeping-keping, ia mengundang Dinda karena ingin mengenalkan pada teman-temannya kalau gadis special malam ini adalah Dinda, namun kenyataan pahit yang harus Leo rasakan.


"Le, apa ini gadis special itu?" tanya Arif, dari tadi sudah sangat penasaran.


"Tadinya iya, tapi ternyata sudah menjadi istri orang," ujar Leo dan tatapan matanya melirik Dinda dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Le, maafkan aku, aku tidak jujur dari awal," dengan tubuh gemetar Dinda membuka omongan, dalam hatinya merasa bersalah karena tidak jujur saja dari awal. Tapi siapa yang menyangka, kalau Reno akan mengakui statusnya sebagai suaminya? Kan perjanjian awal memang pernikahan ini adalah pernikahan rahasia, tapi ternyata mulut Reno sendiri yang begitu lemes.


"Tidak apa-apa Din," jawab Leo cuek, sorot matanya tak selembut biasanya, mungkin karena saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Kalau begitu aku permisi dulu Din, kamu dan suamimu silahkan nikmati hidangan yang ada," dengan hati yang hancur berkeping-keping, Leo berlalu pergi meninggalkan Dinda dan Reno.


Melihat Leo berlalu, Dinda merasa sangat bersalah, tapi nasi sudah jadi bubur jadi ya mau bagaimana lagi?


"Sekarang kamu puas?" sentak Dinda dengan nada lirih.


"Kenapa? Apa aku salah? Aku memang suamimu, ingat itu!" pungkas Reno dengan suara lirih dan tegas.


"Suami, sejak kapan kamu mengakui aku menjadi istri?" sorot mata Dinda berapi-api, tampak sekali ada kemarahan di dalam sana.


"Kamu lupa, baru saja aku mengakui kamu menjadi istriku, sudahlah ini tempat pesta, ayo kita nikmati malam ini saja!" ajak Reno dengan entengnya dan tidak merasa bersalah sama sekali.


Akhirnya dengan terpaksa Dinda menikmati hidangan yang ada bersama Reno, biarpun tidak ada senyum sama sekali di antara mereka berdua tapi Reno juga selalu ada di samping Dinda.

__ADS_1


Di tengah-tengah pesta saat selesai potong kue ulang tahun, Leo tampak kalut, hatinya semakin bergemuruh karena merasakan sakit hati yang cukup dalam.


Leo duduk di salah satu meja dekat kolam renang, ia bahkan meminum minuman yang memabukkan, tidak biasanya Leo bersikap seperti ini. Tapi karena Dinda, ia memilih untuk minum hingga habis dua botol.


"Le, sudahlah kamu kan tidak kuat mabuk, nanti kamu sakit." Arif merebut botol minuman yang hendak Leo tenggak lagi, entah sudah yang ke berapa kalinya? Arif saja sampai lupa.


"Rif, Dinda, dia sudah menikah," suara Leo terdengar sendu, hati sangat hancur, gadis yang di cintai selama ini ternyata sudah menikah tanpa sepengetahuan darinya.


"Kan masih banyak gadis lain, lihat itu Lena juga cantik," ujar Arif menghibur Leo.


"Aku mau Dinda, aku mau Dinda, aku tidak mau yang lain, Dinda harus menjadi milikku, malam ini dia harus menjadi milikku," seru Leo sambil memukuli meja dengan kesal.


"Le, aku ke kamar mandi dulu," pamit Arif karena di bawa sana sudah tidak tertahan dan ingin sekali keluar.


Saat Arif berlalu pergi ke kamar mandi.


Seseorang tiba-tiba datang menghampiri Leo yang sedang dalam keadaan mabuk berat, lalu ia memberikan satu gelas air berwarna merah pada Leo.


"Jika kamu ingin bersama dengan gadis itu, berikan minuman ini padanya!" titahnya pada Leo, seorang itu menatap Leo dengan lekat tapi sayangnya ia memakai masker dan topi.


"Ini minuman apa?" tanya Leo yang sudah sangat lunglai.


"Ini minuman pembawa kenikmatan, setelah gadis itu meminum ini, yakinlah malam ini kamu bisa memiliki dia seutuhnya," lanjutnya dengan begitu yakin.


Dinda sedang menikmati makanannya sendirian karena Reno sedang pergi menerima telpon.


"Din, ini buat kamu," kata Leo sambil tersenyum kecil.


"Terimakasih Le, selamat ulang tahun ya," ujar Dinda dan minuman yang diberikan oleh Leo di minum hingga habis.


"Sama-sama Din, Din antarkan aku ke kamar hotel ya, kepala aku pusing sekali," keluh Leo, Dinda terdiam bingung, ia ingin meminta bantuan Reno tapi Reno masih sibuk menelpon entah siapa?


Dinda mengangguk, ia mengatarkan Leo ke kamar hotel, saat di dalam kamar Dinda dan Leo sama-sama duduk di tepi ranjang.


"Kenapa tubuhku tiba-tiba rasanya panas, aku kenapa?" lirih Dinda dalam hatinya.


"Rasanya aneh, aku ini kenapa?" lanjutnya dalam hati.


Saat melihat Leo, Dinda seperti ada yang aneh, bahkan hasratnya tiba-tiba menggebu-gebu seperti ingin di keluarkan.


"Dinda, kamu cantik sekali," puji Leo dengan nakal.

__ADS_1


Dinda merasakan di dalam tubuhnya semakin aneh, ia bahkan semakin tidak bisa menahan hasratnya saat ini.


Leo tersenyum kecil, ia mendekatkan bibirnya ke bibir Dinda.


"Malam ini kamu milikku," lirihnya dengan tatapan panas.


"Leo, apa yang mau kamu lakukan?" tanya Dinda, ia menjauhkan tubuhnya dari Leo.


"Din, aku tahu kamu juga sedang pinginkan," dengan nada lunglai Leo semakin ganas, ia bahkan membuka kancing kemejanya satu persatu.


Jantung Dinda berdebar kencang, ia hendak kabur tapi tangan Leo menahannya dengan kuat, tubuhnya juga semakin merasakan panas dan ingin sekali melepaskan gaun yang melilit tubuh mungilnya.


"Kamu mau kemana?" tarik Leo hingga Dinda terduduk di tepi ranjang, lalu dengan cepat Leo mendorong tubuh Dinda hingga posisinya tertidur.


Di tindih lah tubuh Dinda dan kedua tangannya di pegang oleh kedua tangan Leo dengan kuat.


"Le, lepaskan aku!!"


"Kamu mau ngapain?"


"Aku sudah menikah, jangan lakukan hal ini padaku Le!"


Dinda terus meronta-ronta tapi Leo yang sudah dalam keadaan mabuk ia tidak perduli sama sekali.


"Din, aku ingin kamu menjadi wanitaku!" pintanya tatapan matanya sudah kosong.


Kini dirinya sudah kuasai oleh nafsu yang menggebu-gebu.


"Dinda dimana?" Reno mencari-cari Dinda karena Dinda tidak ada di tempat tadi.


"Temannya Leo, kamu melihat Dinda?" tanya Reno pada Arif, ia juga sedang mencari-cari Leo yang tiba-tiba menghilang entah kemana?


"Leo juga tidak ada, dia sedang mabuk, aku takut dia melakukan hal konyol. Ayo kita cari dia ke kamar hotel," ajak Arif pikirannya sudah entah traveling kemana-mana.


Reno mengangguk, kini mereka berdua langsung menuju ke kamar hotel Leo, Arif tahu kamar hotel dimana? Karena memang dari semalam dia menginap di hotel bersama Leo.


Sesampainya di kamar hotel tanpa menunggu lama, Arif membuka pintu kamar hotel Leo.


"Brengsek!!!"


Reno terlihat begitu marah, bahkan sorot matanya berapi-api.

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2