
Hari demi hari berlalu dengan begitu indah, apalagi setelah pulang dari bulan madu, Reno juga tampak lebih semangat dan fresh seperti buah-buahan yang baru saja di panen.
Pagi yang cukup cerah Reno sudah rapi dengan setelan pakaian kerjanya, Dinda juga sudah cantik dengan dress pendek yang membalut tubuh mungilnya.
"Sayang, rok mu terlalu pendek," protes Reno dengan tatapan mesum, bahkan ia dari tadi terus menelan ludahnya dengan kasar.
"Mas, aku hanya di rumah, aku tidak keluar jika aku keluar rumah nanti aku pasti ganti rok aku," ujar Dinda dengan santai, ia sedang berkaca sambil memoles wajahnya dengan sedikit krim siang yang setiap hari ia gunakan untuk menyegarkan wajah cantiknya.
Tiba-tiba Reno memeluk Dinda dari belakang, kini kedua sejoli itu sedang bermesraan.
"Hari ini kamu mau ke kantor, jika kamu seperti ini aku yakin pasti kamu tidak jadi pergi ke kantor dan Kak Devan pasti akan segera menelponmu," kata Dinda pada suaminya.
"Kamu yang sudah membuat mas males untuk pergi ke kantor, kamu tahu rok yang kamu pakai itu sungguh menggoda keris pusakaku," lirihnya di telinga Dinda. Seketika Dinda mengelidik jijik, ia tahu otak suaminya ini tidak jauh-jauh dari hal mesum pasti.
Memang semenjak menikah nafsu Reno itu begitu besar, melihat istrinya berpenampilan seksi sedikit saja langsung di garap olehnya.
"Dasar mas ini, kenapa jadi rok aku yang salah?" cebik Dinda dengan kesal, padahal jelas-jelas Mas Reno yang suka mesumam.
"Karena rok kamu menampilkan paha mulusmu sayang, membuat mas meronta-ronta ingin sekali bercocok tanam," bisik Reno dengan mesum.
"Mas, kita baru pulang bulan madu, kenapa nafsumu besar sekali mas?" tanya Dinda, namun Reno sudah memegang kedua pipinya dan kini wajah tampan Reno dan wajah cantik Dinda saling bertatapan.
__ADS_1
Reno mendekatkan bibirnya, membuat Dinda menarik nafasnya pelan-pelan. Din, sudahlah jika menolak itu dosa, pasrah Dinda.
Kini hampir saja bibir Reno menyentuh bibir mungil Dinda, tapi tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata itu dari Devan. "Dasar bedebah," gumam Reno dengan kesal.
Akhirnya Reno melupakan ciumannya itu, ia mengangkat telpon dari Devan, setelah menerima telpon dari Devan. Bergegaslah Reno pergi ke kantor, ia juga melupakan keinginannya untuk bercocok tanam.
Sebelum berangkat ia mencium kening Dinda, Dinda juga menyalami tangan suaminya dan mencium punggung tangannya.
Setelah suaminya berlalu pergi bahkan belum sempat sarapan karena buru-buru sudah di telpon oleh Devan. Pasti hal penting, tapi aku tidak tahu.
Dulu saja sebelum akhirnya sama-sama menerima keduanya sama-sama jual mahal, giliran sekarang Reno tidak bisa jual mahal lagi. Bahkan Reno lebih sering meminta lebih dulu.
***
"Dev, bagaimana?" tanya Reno panik.
"Duduk dulu!" titah Devan, Reno duduk di sebelah Devan.
"Semuanya sudah di atasi, dan sudah beres tidak ada masalah Ren," jelas Devan dengan santai.
"Maksudmu, kamu menelpon membuat orang panik saja," omel Reno pada Devan.
__ADS_1
Tadi Devan menelpon katanya ada masalah besar di kantor, saat mendengar itu Reno cukup panik dan sangat kawatir, tanpa menunggu penjelasan dari Devan lebih lanjut ia buru-buru mematikan saluran telponnya.
"Salah kamu, aku belum menjelaskan semuanya lebih lanjut kamu sudah buru-buru menutup telpon dan aku telpon kamu lagi, tidak di angkat sama kamu," dengan santainya Devan malah balik memarahi Reno.
"Aturan kamu tidak usah menelponku saat semuanya sudah beres, mengangguku saja," cebik Reno tampak kesal.
"Apa terjadi sesuatu di rumah?" tanya Devan.
"Dev, aku tadi sedang bermesraan dengan istriku, aku sedang ingin bercocok tanam dan kamu itu menelponku di saat yang tidak tepat," jawab Reno yang tampak semakin kesal.
"Bercocok tanam mulu mentang-mentang masih baru, dulu saja mati-matian nolak, giliran tahu enak punya Dinda gak bisa nahan kan kamu," oceh Devan pada Reno dan Reno mengangguk sambil nyengir. "Itukan dulu, Dev," sahutnya begitu enteng.
"Dev, kamu harus segera menikah! Apa kamu tidak ingin mengasah keris pusakamu setiap malam? Kamu tidak takut nanti kerismu akan berubah menjadi tumpul karena tidak pernah di gunakan," cibir Reno dengan jail. Membuat Devan bersungut-sungut. "Dasar brengsek," sahut Devan.
Reno tertawa puas, Devan terdiam sejenak, benar juga kata Reno, kira-kira keris pusaka aku masih tajam tidak ya? Aku jadi penasaran ingin mencobanya, tapi mau mencoba sama siapa? Tidak mungkinkan sama kucing peliharaan tetanggaku.
"Sudahlah ayo kerja, aku ingin cepat-cepat pulang, biar cepat ketemu sama istriku," lagi-lagi dengan sengaja Reno membuat Devan kesal.
"Sudahlah, aku tidak mau menjadi gila karenamu," dengan kasar Devan beranjak dari tempat duduknya dan ia berlalu pergi ke ruangannya.
Kasian Devan, apalagi Reno terus-menerus mencibirnya, dasar Reno jail.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia