
Matahari sudah terbit dari arah timur, semilir angin pagi juga sangat sejuk.
Kini matahari mulai menyusup masuk ke jendela kamar Reno, merasakan sorot sinar matahari Dinda perlahan-lahan membuka kedua matanya.
"Jam berapa sekarang?" lirihnya, merasakan di dua gunungnya seperti ada sesuatu Dinda pun menoleh ke arah dua gunung kembarnya.
"Haah, kenapa wajah manusia bodoh ini bisa ada tepat di gunungku, apa dia sudah berbuat mesum padaku," pikir menduga-duga.
Saat tidur pulas, siapa juga yang tahu apa yang sebenarnya terjadi?
"Awas ih!!"
Seru Dinda, ia dengan cepat mendorong wajah Reno.
"Apa sih? Masih pagi, tapi berisik sekali," ketus Reno dan dia membuka kedua matanya.
"Apa-apa, lihat kamu sudah menodaiku, kamu telah berbuat mesum padaku, kamu masih tanya kenapa?" Dinda tampak marah, buru-buru ia membenarkan posisinya menjadi duduk dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal yang ada di atas ranjang tempat tidur.
"Berbuat mesum? Hey, semalam kamu juga dusel-dusel di dada aku, kamu mencari kehangatan padaku, bukankah kamu juga sudah menodaiku, kamu juga telah berbuat mesum padaku," oceh Reno yang tidak mau salah.
"Percuma bicara dengan manusia bodoh, sudahlah aku malas berdebat denganmu," ujar Dinda dan ia langsung beranjak dari tempat tidur, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi terlebih dahulu.
Saat Dinda sedang mandi, Reno malah senyam-senyum sendiri. "Andai dia tahu, kalau aku sengaja melakukan hal itu, pasti dia seketika akan berubah menjadi macan cantik yang galak," dalam hati Reno tertawa senang.
Setelah 15 menit berada di dalam kamar mandi, Dinda keluar dengan balutan handuk berwarna putih bersih.
"Aku mau ganti, baju aku mana?" tanya Dinda pada Reno.
"Ada di lemari, mama yang nyiapin pasti," jawab Reno dan Dinda mengangguk.
Dinda membuka lemari dan benar ada banyak dress-dress cantik, berbagai macam setelan baju tidur, bahkan banyak lingerie seksi warna warni. Sungguh mamanya Reno memang sangat perhatian, apalagi ia tidak punya anak perempuan, jadi waktu Reno menikah, dengan senang hati Ria menyiapkan semua keperluan menantunya.
"Ini sungguh mama yang menyiapkan?" tanya Dinda tidak percaya.
"Iyalah siapa lagi? Kamu berharap aku menyiapkan semua itu, jangan harap, kalau untuk Vira pasti dengan senang hati aku akan menyiapkan semuanya," ujar Reno dengan begitu entengnya.
Deg
Seketika hati Dinda merasakan rasa yang sulit ia jelaskan, Dinda sadar kalau Vira itu wanita kesayangan Reno, ia tidak akan lupa akan status Vira dan dirinya.
"Aku tidak pernah berharap apapun dari kamu, lagian cepat atau lambat aku pasti akan pergi dari hidupmu," ujar Dinda terdengar sendu dan matanya sudah berembun.
Dinda buru-buru ganti pakaian, setelah selesai ia keluar dari kamar dan langsung pergi menuju ke dapur.
Reno masih terdiam di atas tempat tidur, ia termenung sendirian.
"Apa aku salah bicara?" lirihnya dalam hatinya.
Tringgg tringgg
__ADS_1
Mendengar ponselnya berbunyi, Reno mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.
"Devan, untuk apa di hari libur dia menelponku? Apa jangan-jangan dia mau curhat tentang seorang gadis," gumam Reno dan ia segera mengangkat telpon dari Devan.
"Hallo Dev."
"Kamu sudah bangun?"
"Pertanyaan bodoh, jika aku masih tidur, aku tidak mungkin menjawab telponmu bodoh."
"Ada apa, kamu menelponku pagi-pagi?" tanya Reno, yang diiringi dengusan kesal.
"Tentang Vira, pasti kamu tidak akan percaya dengan apa yang akan aku tunjukkan."
"Apa kamu sudah menemukan hal tentang Vira?"
"Sudah."
"Baiklah, kita ketemu saja!"
"Di restoran xx tempat biasa ya Ren."
"Baiklah."
Reno buru-buru beranjak dari tempat tidur dan ia segera mandi, ia bersiap-siap untuk pergi menemui Devan.
"Nak, Reno sudah bangun belum?" tanya Ria pada Dinda.
"Tadi sudah sih ma, mungkin Mas Reno sedang mandi dulu ma," jawab Dinda pada mama mertuanya.
Ria dan Dinda terlihat cukup akur mereka seperti ibu dan anaknya, padahal Dinda hanya seorang menantu namun Ria tidak menganggap Dinda sebagai menantunya, melainkan anak perempuannya.
Setelah selesai masak Dinda dan Ria menyiapkan semua makanan yang di masak tadi di atas meja.
"Bi Inem, ini nanti buat makan bibi dan yang lainnya ya," titah Ria, ia membagi semua kedua masakannya untuk para Art nya.
"Iya Nyonya, terimakasih," kata Inem dengan nada lembut.
Ria memang sangat baik pada para Art nya, ia pun tidak memberikan makanan sisa, setiap kali masak pasti sekalian banyak dan di bagi dua sebagian untuk dirinya dan keluarganya, sebagian lagi untuk para Art yang bekerja di rumahnya.
Art yang kerjanya di rumahnya juga pada betah karena Ria, Restu dan Reno itu begitu baik selama ini. Sebelum Reno lulus kuliah, Reno ikut di rumah kedua orang tuanya, namun setelah ia lulus kuliah dan sudah bekerja punya penghasilan sendiri, ia membeli rumah dan akhirnya pindah dari rumah kedua orang tuanya.
Di meja makan ternyata Reno dan Restu sudah menunggu istri-istri mereka.
"Papa, Reno, sarapan dulu," kata Ria dengan nada lembut.
Setelah semua makanan sudah siap, pagi ini mereka menikmati sarapan bersama.
Kini sarapan telah selesai.
__ADS_1
"Din, aku mau bertemu orang dulu, kamu aku tinggal di rumah mama tidak apa-apakan?" tanya Reno, sebelum pergi meninggalkan Dinda.
"Bukannya hari ini libur, memangnya mas mau kemana?" tanya Dinda dengan nada lembut.
"Ada perlu," sahut Reno.
"Baiklah mas, hati-hati di jalan ya," jawab Dinda dan di anggukin oleh Reno.
Sebelum pergi Reno juga mencium kening Dinda dengan mesra, Dinda juga mencium tangan Reno dengan mesra, kali ini mereka bak suami istri yang saling mencintai, namun kenyataannya beda, saat ini mereka hanya sedang berakting di hadapan kedua orang tua Reno.
"Kamu hati-hati ya nak," tutur Ria dengan nada lembut.
Reno menyalami tangan papanya dan mamanya secara bergantian.
Setelah berpamitan Reno langsung berlalu pergi, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Devan.
Reno mengendarai mobilnya dengan kecepatan agak tinggi supaya cepat sampai, karena Devan juga sudah mengirim pesan kalau dia sudah menunggu di restoran yang di katakan oleh Reno.
Sesampainya di restoran xx, Reno langsung masuk ke dalam restoran itu.
"Dev," sapa Reno dan ia duduk di kursi sebelah Devan.
"Kamu makan dulu, aku sudah pesankan es kopi untukmu," ujar Devan.
"Aku sudah makan," jawab Reno singkat.
"Apa yang mau kamu sampaikan?" tanya Reno sangat penasaran.
Devan mengeluarkan ponselnya, lalu ia menunjukkan sebuah foto pada Reno.
"Lihatlah!!" katanya seraya menyodorkan ponsel miliknya pada Reno.
Reno meraih ponselnya Devan, lalu ia mengamati foto yang Devan di tunjukkan padanya.
"Dev, ini maksudnya apa?" tanya Reno terkejut.
"Kenapa ini??" Reno menghentikan kata-katanya, ia masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.
Devan menarik nafasnya dengan berat, jangankan Reno, sejujurnya Devan juga tidak percaya dengan semua ini.
"Dev, jelaskan padaku!!" pinta Reno tidak sabar.
"Akan aku jelaskan semuanya Ren," ujar Devan pada Reno.
"Jadi foto ini,"
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1