
Pagi yang cukup mendung akhirnya datang juga, Dinda meraih ponselnya yang ada di atas nakas meja.
Reno yang juga sudah bangun, ia menatap Dinda penuh tanda tanya, ada yang ingin ia tanyakan namun tidak enak. Sudahlah Ren, tanya saja daripada penasaran!
"Kamu mau nelpon siapa pagi-pagi seperti ini?" tanya Reno penuh selidik, melihat Dinda menempelkan ponselnya di telinganya ia cukup curiga, lagian sepagi ini siapa yang mau dia telpon? Otaknya berputar cepat, tiba-tiba hatinya merasa kesal.
"Aku mau nelpon Leo," sahutnya dengan santai.
Seketika tatapan Reno menjadi garang, ada rasa cemburu yang tak bisa Reno jelaskan namun bisa Reno rasakan, tapi benarkah ini sebuah rasa cemburu? Aah aku rasa tidak mungkin, tepis Reno dalam hatinya.
"Hallo Le."
"Hallo Din, ada apa?"
"Apa kamu sakit?" tanya Leo, di sebrang sana ia tampak sangat kawatir.
"Tidak Le, tapi hari ini aku mau meminta izin untuk libur, apakah boleh?"
"Tentu saja Din boleh."
"Terimakasih Le, aku tutup dulu ya telponnya."
Belum sempat mendengar jawaban Leo, tiba-tiba Reno merebut ponselnya yang masih menempel di telinga dan buru-buru mematikan saluran telponnya.
"Din, aku mencintaimu," kata Leo, namun sayangnya saluran telponnya sudah di matikan oleh Dinda.
Leo menarik nafasnya dengan pelan, lalu terdiam dan menatap ponselnya cukup lama. "Apakah aku bisa mendapatkan cinta Dinda?" gumamnya pelan.
"Kenapa kamu merebut ponselku?" geram Dinda dengan sorot mata tajam.
"Ini sudah jam berapa? Bukannya cepat-cepat ke dapur untuk masak, ini malah menelpon laki-laki yang bukan suaminya, dasar istri tidak peka," ujar Reno sinis. Debaran hatinya menandakan mulai ada rasa cemburu, namun gengsi untuk mengangkuinya. Dasar manusia bodoh, nanti di ambil Leo saja guling-guling di lapangan sambil nangis.
"Dia memang bukan suamiku, tapi dia bosku, mungkin sebentar lagi dia juga akan menjadi kekasihku," sahut Dinda dan buru-buru turun dari tempat tidur, lalu keluar kamar karena enggan meladeni perdebatan panjang dengan Reno.
Reno mendesis marah, rasanya hatinya semakin panas dan ingin sekali meminum es, biar panasnya hilang.
"Kekasihnya, jangan harap!!" Reno berbicara sendiri sambil berjalan keluar kamar.
__ADS_1
Sesampainya di dapur ia melihat mamanya dan Dinda sedang asik masak sambil mengobrol, entah apa yang sedang mereka obrolin? Sehingga mereka berdua terlihat bahagia dengan tawanya yang begitu renyah seperti renginang.
"Reno, kamu tidak kerja?" tanya Ria pada Reno yang sedang membuka kulkas.
"Libur ma," jawab Reno seraya meneguk air es yang ada di dalam botol yang ia pegang.
"Reno, masih pagi kok sudah minum air es, nanti kamu flu," ujar Ria dengan penuh perhatian.
"Panas ma, makanya aku minum air es," sahut Reno sekenanya.
Ria dan Dinda saling menatap satu sama lain, mana ada panas? Orang dari pagi cuacanya dingin, apalagi diluar sana sedang mendung dan mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
"Ren, cuaca hari ini sangat dingin," cetus Ria yang diiringi senyum kecil.
"Iya ma, tapi aku kepanasan," ujar Reno sewot. Dan tatapannya cukup sinis pada Dinda, lah sedangkan Dinda malah menatapnya cuek.
Reno berlalu pergi dari dapur, ia kembali ke kamar untuk mandi lebih dulu sedangkan Dinda dan Ria melanjutkan masakan mereka sambil melanjutkan obrolan mereka.
"Din, kamu belum hamil nak?" tanya Ria dengan nada lembut.
Dinda membeku, hamil? Sedangkan ia dan Reno tidak pernah berbuat apa-apa, bagaimana bisa hamil?
"Eh iya ma, aku belum hamil ma," jawabnya dengan nada lembut.
Ria tersenyum kecil."Tidak apa-apa nak, kalian nikah belum lama jadi sabar saja," tutur Ria dengan penuh kasih sayang.
Dinda mengangguk, sungguh melihat mama mertuanya ia begitu kagum padahal hatinya sedang tidak baik-baik saja tapi masih bisa setenang ini.
Setelah selesai masak dan menatah semua di atas meja makan, kini Ria, Reno dan Dinda sarapan bersama.
"Reno, Dinda, nanti kalian ikut mama ke kantor papa ya," pinta Ria pada mereka berdua.
"Apa papa masih berani datang ke kantor ma?" sahut Reno malas, sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Dia mana tahu malu Ren, buktinya tadi malam dia saja seperti itu," ujar Ria terlihat ia menahan sebuah amarah saat membahas tentang suaminya.
Padahal Restu yang salah, namun bermacam hinaan tadi malam di lontarkan dari mulutnya pada Ria, sungguh biadab dan tidak tahu malu.
__ADS_1
Akhirnya setelah selesai sarapan pagi, mereka semua bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
"Aku harus tegas dan aku tidak bakal aku memanfaatkan laki-laki biadab itu," tukasnya dalam hatinya.
Setelah selesai bersiap-siap mereka bertiga langsung berangkat ke kantor.
Reno menyetir mobil, Dinda duduk di jok depan di sebelah Reno dan Ria duduk di jok belakang.
"Mama, apa yang akan mama lakukan pada papa?" tanya Reno sambil menyetir.
"Ada nak, mama sudah atur semuanya," jawab Ria dengan santainya.
Reno mengangguk paham, ia percaya dengan mamanya. Lagian apapun yang mau lakukan oleh mamanya, Reno yakin itulah yang terbaik.
Sesampainya di kantor Ria, Reno dan Dinda, berjalan menuju ke ruangan kerja Restu.
****
Di ruangan kerja Restu sedang sibuk dengan berkas-berkas yang ada di atas meja.
Ia sedang sibuk membaca berkas-berkas tersebut.
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, membuat Restu mengalihkan perhatian dari berkas-berkas yang ada di hadapannya itu.
Melihat istri, anak dan menantunya yang datang, Restu cukup terkejut."Tumben Ria datang ke kantor, ada apa?" batinnya dalam hati.
Dasar manusia tidak punya hati, baru semalam berbuat salah dan sekarang masih tanya ada apa? Tentunya Ria mau membuat perhitungan sama manusia biadab seperti Restu itu.
"Restu Bagaskoro," suara Ria terdengar tegas.
"Mama, ada apa?" tanya Restu dengan nada lembut.
Reno dan Dinda berada di belakang Ria.
Entah apa yang akan terjadi nanti? Bagaimana nanti nasib Restu?
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia