
Tatapan Reno semakin buas karena memang paha mulus begitu menggoda malam ini.
Namun buru-buru Reno menepis pikiran kotornya dan ia langsung berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai mandi, Reno yang sudah memakai baju tidur warna hitam polos, ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur.
Dengan posisi miring menghadap ke Dinda, Dinda juga tidurnya posisinya miring menghadap ke Reno.
"Saat tidur dia begitu tenang," dengan hati-hati Reno mengelus pipi Dinda dengan lembut.
"Apa ini sebuah perasaan cinta? Kenapa debaran hatiku sangat kencang seperti ini?" Reno cukup gelisah, ada perasaan yang belum bisa ia jelaskan sampai saat ini.
Dinda bergulat, dan tidak sengaja selimut yang menutupi bagian dadanya tersingkap, hingga kini bagian dada Dinda agar terlihat, daster yang cukup tipis yang malam ini ia kenakan, ini cukup membuat Reno ketar-ketir, karena burung perkututnya di bawa sana ingin sekali keluar dan masuk ke dalam sangkar yang tepat. Apakah sangkar Dinda tepat? Tentu saja tepat, kan Dinda istri sahnya. Reno saja yang terlalu bodoh.
"Pakaian apa yang dia pakai malam ini? Bisanya dia memakai baju tidur lengan panjang yang tertutup, tapi malam ini, lihat saja! Apa dia sengaja menggoda aku, dasar gadis nakal," gerutu Reno dalam hatinya.
Padahal Dinda tidak ada niat menggoda sama sekali, dasar Reno peak orang sedang tidur seenaknya di fitnah. Kalau Dinda dengar pasti Dinda akan ngamuk, untung saja Dinda sudah tidur dengan nyenyak.
Reno akhirnya mengubah posisi tidurnya, ia memposisikan dirinya dengan posisi tidur membelakangi Dinda.
Reno terdiam, ia memikirkan masalah yang tadi di bahas dengan Devan dan Handi.
__ADS_1
"Vira, entah apalagi yang akan kamu lakukan nanti setelah ini?" gumam Reno dalam hati. "Tapi jika kamu berbuat macam-macam pada Dinda lagi, aku tidak akan diam saja!" pungkas Reno dalam hati.
****
Pagi yang cerah telah datang, entah apa yang terjadi tadi malam dan saat ini posisi tidur Reno dan Dinda saling berpelukan mesra.
Saat membuka matanya, Dinda cukup kaget namun ia tidak mengeluarkan suara sama sekali. "Kenapa aku bisa ada di pelukannya?" batin Dinda dalam hatinya.
Dinda kembali memejamkan matanya, saat melihat Reno hendak membuka kedua matanya.
Saat kedua matanya terbuka dan melihat Dinda berada di pelukannya saat ini, Reno sekilas tersenyum kecil. "Jika kejadian malam tadi tidak terjadi, pasti aku tidak bisa memeluknya seperti sekarang ini," gumam Reno dengan suara lirih. Namun Dinda mendengarnya. Entah apa yang terjadi tadi malam?
Dinda masih berusaha diam dan tidak membuka kedua matanya, ia yakin kalau Reno saat ini mengira dirinya masih tidur.
Rasanya ingin menuntaskan sebuah hasrat yang tertunda.
"Ini saja sebenarnya sudah tidak tahan," lanjutnya masih dengan suara lirih.
Dalam hati Dinda, apa yang sedang di pikirkan oleh manusia bodoh ini? Apa jangan-jangan dia sedang memikirkan hal mesum, dasar otak sampah. Awas saja jika itu benar, akan aku potong burung perkututnya, eh tunggu kalau di potong, aduh jangan Din! Masa punya suami tak punya burung perkutut sih, nanti bagaimana kalau mau ehem-ehem. Aish Dinda, pikirannya sudah traveling jauh entah kemana? Dasar sama-sama otak mesum. Sungguh ini semua karena film dewasa yang aku tonton.
"Apa aku lakukan sekarang saja, mumpung dia masih tidur?" kata Reno, otaknya semakin tidak waras, padahal masih pagi. Untung saja hari ini libur, jadi di santai-santai bangun tidurnya.
__ADS_1
Dinda tak bergeming, haah apa yang mau manusia bodoh ini lakukan padaku? Jangan bilang dia mau menggarap ladangku yang masih kering ini? Aduh aku masih suci dan belum ternodai.
"Maafkan aku, aku sudah tidak tahan lagi," lirihnya dan ia hendak mencium bibir Dinda yang manis itu, namun belum sempat Reno lakukan tiba-tiba kedua mata sudah terbuka lebar dan itu membuat Reno kaget seraya gelagapan tidak jelas.
"Apa? Apa yang mau kamu lakukan padaku?" cecar Dinda bersungut-sungut, kedua matanya langsung menyalakan api perang. Membuat Reno langsung beringsut dan berusaha melepaskan tangannya dari tubuh mungil Dinda.
Detak jantung Reno tiba-tiba bergetar kencang, aliran darahnya juga begitu cepat.
"Katakan padaku!!" titah Dinda yang semakin bersungut-sungut penuh amarah.
Reno nyalinya langsung ciut, entah mengapa tiba-tiba dia seperti tidak ada tenaga dan takut Dinda marah pada dirinya, padahal biasanya ia tidak mau kalah ataupun mengalah dengan Dinda.
"Aku, aku hanya ingin," ragu Reno untuk melanjutkan kata-katanya.
"Ingin apa?" tanya Dinda sorot matanya terlihat begitu merah.
"Iya ingin,"
Coba tebak Reno ingin apa?
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia